
Haura selalu menjalani hari-harinya di rumah sakit, dia sangat suka merawat pasien sekarang, kini dirinya tidak lagi dirasuki oleh Bryan, tangannya sudah terbiasa melakukan sendiri dan rasa takutnya sudah hilang, kini yang ada hanya percaya diri di dalam dirinya.
"Sudah siap?" tanya Bryan saat mereka akan memasuki ruang IGD.
Haura mengangguk."Aku siap!" batinnya yang bisa terdengar oleh Bryan.
mereka berdua mempercepat langkah dan menemui pasien yang akan mereka tangani.
Melangkah ke IGD sekarang bukanlah suatu hal yang menakutkan lagi bagi Haura, dia sudah sangat terbiasa dengan aroma-aroma kepanikan yang ada di sana.
"Dokter Haura, sebelah sini." salah satu perawat memanggilnya.
Haura dan Bryan langsung berhamburan menghampiri mereka, seorang pasien yang jatuh dari atas gedung dan kepalanya terbentur membuat pasien itu kehilangan kesadarannya dan terdapat cedera parah.
Haura yang memutuskan menjadi dokter spesialis bedah saraf, mulai mengobatinya di bantu para dokter magang atau dokter muda.
Haura berlarian dari ranjang pasien satu ke ranjang pasien lainnya, dengan kaki yang kuat dia berlari ke sana ke mari, beruntung Haura selalu hidup sehat selama ini, karena hidup sehat adalah salah satu kunci untuk menjadi seorang dokter yang hebat selain kemampuan sebagai seorang dokter.
Bryan tersenyum ke arah Haura, dia bangga kini Haura mampu mempelajari semuanya sendiri, berusaha menyingkirkan rasa takut dan berusaha menjadi seorang dokter yang kompeten di bidangnya.
Sebagai seorang dokter, sudah seharusnya tidak memiliki rasa takut, Karena kewajibannya adalah menolong nyawa orang, seorang dokter harus mengesampingkan urusan pribadinya demi merawat pasiennya.
__ADS_1
Seminggu dua kali Haura bisa berbaring di ranjang rumahnya, setiap hari dia selalu berada di rumah sakit, tidak hanya untuk menyelamatkan pasien, tapi juga untuk belajar lebih banyak lagi di ruang operasi bersama dengan Bryan.
Haura menarik nafas dalam."Dua jam sudah kita berada di ruang IGD."
Bryan melihat rona bahagian di wajah Haura, senyuman Haura juga mengembang dengan sangat lebar.
"Kamu bahagia?" tanya Bryan.
"Sangat bahagia," jawab Haura sambil menoleh ke arah Bryan.
"Itulah perasaan yang semua dokter rasakan, mereka akan sangat bahagia ketika bisa menyelamatkan nyawa pasien. Nyawa pasien adalah hal berharga bagi dokter," ujar Bryan.
Haura semakin merasa bersyukur bisa dipertemukan oleh sosok Bryan, pria yang sangat handal dan bisa mengajarinya cara menjadi seorang dokter.
"Sangat ... sangat bahagia, kita sebagai seorang dokter spesialis nanti pasti akan semakin berkurang dalam mengobati pasiennya, jadi seorang dokter harus menikmati masa-masa mereka bertugas di ruang IGD, banyak pelajaran yang bisa dipetik di sana." Bryan menatap Haura dan mereka saling bertukar senyuman.
"Aku berjanji akan semakin mahir kedepannya, aku akan meningkatkan selalu kemampuanku, hingga pada akhirnya aku juga bisa menyelamatkan nyawaku." Janji Haura dalam hatinya.
Bersambung ...
.
__ADS_1
.
.Hai semua, aku akan coba Up setiap hari, terimakasih untuk yang masih menunggu kelanjutan kisah Haura dan dokter hantu.
.
.
.aku juga mau merekomendasikan novel karya temanku, jangan lupa mampir...
Zeo adalah pangeran Duyung tak dianggap oleh kaumnya karena di anggap keturunan iblis sebab tatoo yang berada di wajahnya. Hinaan dan cacian kerap ia dapatkan dari keluarga kerajaan maupun rakyat Duyung.
Suatu Hari dia menyelamatkan Ziya -- Manusia. Wajah Zeo yang tampan membuat Ziya menyukainya pada pandangan pertama.
"Kamu adalah pria paling tampan yang pernah aku temui di dunia ini!" puji Ziya membuat Zeo terkejut sekaligus terharu, karena untuk pertama kalinya di puji.
"Karena kamu memuji ku, maka aku akan menjadi pelindung mu mulai sekarang!" janji Zeo sungguh-sungguh.
Bagaimana kelanjutan kisah percintaan Zeo dan Ziya? Apakah berjalan baik? Atau malah berakhir sedih, karena Dewa laut menentang hubungan mereka?
Lalu apa yang akan terjadi saat kekuatan iblis Zeo bangkit? Apakah Dewa laut masih bisa menentang nya?
__ADS_1
ikuti kisah cinta non-human.