
Haura turun dari dalam mobil Kiki.
"Terima kasih!" ucap Haura sambil melambaikan tangannya dan masuk kedalam rumah sakit.
"Hallo! dia sudah masuk" kata Kiki kepada seseorang lewat telepon.
Kiki kembali mengendarai mobilnya, dia menginjak pedal gas dan mengendarainya dengan cepat.
Setelah menempuh jarah sepuluh kilo meter, Kiki bersiap memasuki sebuah cafe, dia segera memarkirkan mobilnya di sebelah mobil BMW berwarna kuning.
"Hai!" sapa Kiki.
"Hai!" Lidya membalas sapaan sahabatnya.
"Tumben, ngajakin ketemu cuma berdua ajah? ada apa?" tanya Lidya tanpa basa basi lagi.
persahabatan mereka sudah sangat lama, saling mengenal sifat satu sama lain, dan saling menghargai satu sama lain, membuat persahabatan mereka menjadi kuat hingga hari ini.
"Aku ingin, membahas tentang Marco!" Kiki langsung ke inti pembicaraan.
"Marco? why?" tanya Lidya dengan mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
"Dia! mengungkapkan perasaannya kepada Haura!" Kiki merasakan kobaran api di dadanya.
"Bagaimana, kamu bisa tahu? apa Haura menceritakannya?!" tanya Lidya dengan menatap Kiki.
"Hmmm ... dia menceritakannya, aku rasa, kamu juga tahu akan hal ini, jadi aku meminta kita bertemu berdua!" kata Kiki.
"Aku, saja sebagai adiknya tidak habis pikir, bisa-bisanya, Kak Marco, bilang kalau dia menyukai Haura! aku benar-benar tidak mempercayai itu!" kesal Lidya dengan rahang yang mengaku.
"Tapi untungnya, Haura menolak dan tidak terbuai!" ucap Lidya kembali tenang dengan mengingat sikap sahabatnya.
"Apa alasan Marco bicara seperti itu?" tanya Kiki.
"Aku, tidak tahu, tapi yang jelas, pasti ada sesuatu, aku akan coba menyelidikinya!" janji Lidya dengan tekad yang bulat.
"Lidya! aku tunggu kabar dari dirimu! jika kamu tidak bisa menemukannya, terpaksa, aku akan menemui Marco, aku tidak mau, Haura menjadi boneka permainannya." Kiki mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"tenang saja! aku sudah lebih dulu menindaknya! hanya saja aku belum menemukan maksud dia terhadap Haura!" Lidya yang melihat kemarahan di wajah kiki.
"Aku tahu Ki! kamu begitu perduli kepada Haura, sejak kita masuk kuliah, aku perhatikan, kamu seperti menyimpan perasaan kepadanya! demi sahabatku, aku akan berusaha menemukan maksud tersembunyi kakakku!" Lidya dan Marco bersiap pergi dari cafe.
Lidya menekan tombol unlock dan masuk ke dalam mobil BMW berwarna kuning miliknya.
__ADS_1
Kiki sudah terlebih dulu pergi, menyisakan Lidya yang masih ada di parkiran mobil.
"Kak Marco! aku harap kamu tidak pernah lagi menyakiti hati orang lain! demi sebuah ambisi! kamu rela melakukan hal yang menjijikan!" Lidya menginjak pedal gas dan mengendarai mobilnya, menuju kerumah sakit.
...****************...
"Tenang Ibu! tarik nafas yang dalam! keluarkan." Haura mengajari seorang Ibu muda yang akan melahirkan.
"Tarik nafas, buang perlahan, Iyah benar, teruskan Bu!" Haura terus memperhatikan pasiennya.
"Dimana dokter Lidya?" tanya Haura kepada asisten bedah.
"Saya juga tidak tahu dokter, tadi saat dihubungi, katanya sedang diperjalanan," sahutnya.
"kenapa, dia lama sekali!? tidak biasanya dia meninggalkan tugasnya seperti ini?" gumam Haura sambil menyisir sudut ruangan, berharap Lidya muncul segera.
"Apa, dokter tidak bisa melakukan operasinya?" tanya asisten bedah.
"Maaf, aku bukan tidak bisa! tapi aku rasa lebih baik, dokter Lidya yang menangani pasiennya, aku tidak mau membahayakan, ibu dan janinnya!" ujar Haura, tangannya bahkan masih bergetar, dia baru kali ini berhadapan dengan wanita yang akan melahirkan.
"Kita bersiap untuk operasi!" suara Lidya terdengar lantang ditelinga yang mendengarnya.
__ADS_1
mereka semua mengembangkan senyumannya dan mengelus dada karena lega, bagi mereka menyelamatkan nyawa adalah prioritas.