Doctor Ghost (Terpaksa Menikah Dengan Arwah Dokter)

Doctor Ghost (Terpaksa Menikah Dengan Arwah Dokter)
Waktu yang tak banyak


__ADS_3

Haura berusaha sekuat tenaga membuat dirinya mampu menjadi seorang dokter yang kompeten. Hari ini dia kembali mempelajari beberapa teknik menjahit.


Haura harus berusaha untuk bisa menyelamatkan Bryan. Haura dituntut untuk bisa mengoperasi bagian kepala dan juga bagian dada Bryan. Kedua tempat itu yang terkena benturan parah dan membuat dirinya harus terbaring koma.


"Haura, terima kasih. Kamu sudah mau menantu Kak Bryan." Lidya memeluk tubuh sahabatnya.


Dengan tubuh yang sudah cukup lelah. Haura memeluk sahabatnya juga.


"Aku akan berusaha semampuku. Aku harus berhasil."


Lidya bahagia memiliki seorang sahabat yang ternyata sangat bisa dia andalkan. Apalagi ini masalah hidup dan mati kakak sepupunya.


"Dimana Bryan?" tanyanya.


"Aku lihat dia tadi ada di ruangan dokter magang. Apa kamu mau menemuinya?" tanya Lidya.


"Aku ingin istirahat di sini saja. Aku sepertinya sangat mengantuk." Haura membuat tubuhnya pura-pura sangat kelelahan.


Mereka berdua kemudian tertawa. Lidya sangat sayang kepada Haura dan ternyata kedua orang yang dia sayangi suatu hari akan bisa bersatu.


Tidak ada yang mengetahui takdir apa yang akan kita tempuh dan bagaimana perjalanannya. Namun, Lidya berharap takdir Haura dan Bryan adalah dipersatukan dan bahagia di dunia nyata.


.


.

__ADS_1


Haura yang mendapatkan libur dua hari. Dia pulang ke rumah. Dia merebahkan diri diatas kasur.


"enaknya tidur di atas kasur sendiri." Haura meregangkan tubuhnya dan terlelap.


Setelah pulas tertidur. Haura kembali mendapatkan mimpi yang aneh.


Dia melihat kalau tubuh Bryan semakin melemah.


"Bryan, kamu kenapa?" tanyanya.


"Dia sudah tidak memiliki banyak waktu lagi."


Seorang pria menghampiri Haura. Pria itu tampak sudah berumur dan memiliki suara yang berat.


"Maksudnya?" tanya Haura.


Haura tersentak mendengar pernyataan pria itu. Dengan cepat dia edarkan kembali pandangannya kepada pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? kemampuanku belum cukup untuk menyelamatkan dirinya." Haura menjadi sedih.


"Gunakan waktu yang tersisa dan yakinlah kalau kamu bisa melakukannya. Tanpa keyakinan, sehebat apapun kamu. Pasti tidak akan mampu melakukan operasi itu. Yakin kepada dirimu dan kemampuanmu."


Pria itu menghilang setelah berbicara dengan Haura. Haura yang terkejut dengan menghilangnya si pria tua. Langsung terbangun dari tidurnya.


Dia tersadar bahwa itu adalah mimpi. Mimpi yang sangat mengejutkan untuknya. Haura langsung menyambar tas miliknya dan berlarian keluar rumah untuk menuju ke rumah sakit lagi.

__ADS_1


"Aku harus melihat keadaannya langsung. Aku tidak mau kehilangannya." Haura menyeka butiran air yang keluar dari sudut matanya.


.


.


Di situasi yang berbeda, Bryan tengah melihat dirinya yang terlihat begitu lemah. Tubuh aslinya sepertinya sudah tidak bisa bertahan lama lagi.


"Berapa lama waktu yang aku punya? Aku harus menemui pria tua itu lagi."


Saat Bryan membalikkan tubuhnya. Dia melihat Haura masuk ke ruangannya dengan sangat terburu.


Napas yang tersengal-sengal akibat berlarian dari tempat parkir hingga ke ruangan Bryan di rawat.


"Kamu kenapa?" tanya Bryan.


Haura langsung berhamburan memeluk tubuh suaminya.


"Jangan pergi. Aku tidak mau kehilangan dirimu." Haura menangis dalam pelukan Bryan.


"Kamu ini kenapa? Aku baik-baik saja."


Haura menggeleng ketika mendengar perkataan Bryan.


"Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Waktumu tinggal sedikit. Aku akan berusaha lebih keras lagi."

__ADS_1


Haura kembali mengobarkan tekad yang kuat.


__ADS_2