
Lidya membantu Haura dan juga Bryan dalam mengawasi semua yang dilakukan oleh Marco.
Lidya mengikuti jejak Kakaknya, dia merasa sekaranglah giliran dia bertindak. Lidya adalah gadis yang cerdas, pemberani dan juga selalu berhati-hati.
"Aku tidak akan membiarkanmu." Lidya bertekad.
Lidya melihat kakak bicara sendirian dan dia terikat kata-kata Haura dan Bryan tempo hari.
"Apa dia sedang bicara dengan Hantu itu?" gumam Lidya.
Lidya terus memperhatikan Marco yang sedang komat-kamit sendirian di ruangannya.
"Dengar, jangan sampai Haura memiliki kemampuan setara dengan Bryan. Aku tidak mau Bryan kembali ke dunia ini, aku juga yakin kamu begitu."
Lidya samar-samar mendengar suara perempuan.
"Aku tidak akan gagal. Aku pastikan Bryan tidak akan pernah bangun lagi untuk selamanya," jawab Marco.
Mendengar ucapan kakaknya Lidya sontak memundurkan tubuhnya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Betapa kejinya kakaknya, hanya karena kekuasaan dia ingin membunuh saudaranya sendiri.
"Kamu sungguh kejam Kak, aku tidak menyangka, Kakak yang aku selalu banggakan dalam pekerjaan, meski kita tidak akur. Kamu sungguh bukan manusia." geramnya.
Ingin rasanya Lidya masuk ke dalam ruangan kakaknya, tapi jika dia lakukan itu, maka rencana sahabat dan sepupunya akan berantakan.
"Lihat saja, Kak. Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dari keserakahan mu." Lidya menjauh dari ruang kerja Marco.
__ADS_1
.
.
"Aku akan mencoba menghalangi dia untuk ikut setiap ada operasi. Aku tidak akan membiarkannya berhasil." Marco mengangkat tangannya lalu mengepalkan kelima jemarinya.
Melihat Marco begitu membara, membuat Susan sangat puas, dia bisa mempengaruhi manusia dengan mudahnya, hanya dengan menyalakan sedikit api saja sudah bisa membuat kebakaran.
Kekuasaan memang sering membuat manusia tidak bisa menggunakan hati nuraninya, apa lagi menggunakan akal sehatnya yang sudah lebih dulu tenggelam bersama keserakahan.
Marco segera melihat jadwal operasi dan mengeluarkan Haura dari setiap operasi penting. Dia hanya akan memberikan Haura operasi ringan saja, yang tidak akan menggali potensinya.
"Aku akan melakukan apapun agar kamu tidak bisa berkembang, Haura!" Tekadnya.
Hari manusia yang diliputi keserakahan sudah pasti akan menghalalkan segala cara dan menyingkirkan orang yang akan menghalangi jalannya.
.
.
Lidya menghentikan salah seorang perawat. "Kamu lihat Haura?" tanyanya.
"Sepertinya Dokter Haura sedang beristirahat di ruang khusus dokter."
"Terima kasih." Lidya melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Dia langsung membuka pintu ruangan dan menghampiri Haura yang sedang belajar bersama Bryan.
"Lidya." Haura langsung memberikannya air.
Lidya mengatur napasnya dan meneguk minumannya.
Setelah napasnya teratur dia langsung menatap sahabat dan sepupunya.
"Aku mendengar pembicaraan Kak Marco seorang diri, mungkin sedang bicara dengan hantu itu." Jelas Lidya.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Haura dengan cepat.
Lidya menceritakan apa yang dia dengar tadi, dia bercerita dengan degup jantung yang cepat, sangking masih terkejut dengan sikap kakaknya.
"Dia pasti akan mengeluarkan dirimu dari jadwal operasi penting." Tebak Bryan.
"Akankah Kak Marco bertindak sejauh itu?" tanya Lidya.
"Dia akan melakukannya, seperti dulu dia lakukan kepada salah satu pemagang yang tidak dia sukai."
Bryan yang jauh lebih mengenal Marco, sudah tahu apa saja yang akan Marco lakukan demi memuluskan rencananya.
"Haura, meski kamu masuk dalam operasi kecil, itu semua adalah pelajaran untukmu. Bersungguh-sungguh lah, hanya dengan bersungguh-sungguh dan tidak menganggap enteng pekerjaanmu. Semesta pasti akan memberikan jalannya." Bryan memberi wejangan untuk Haura.
Haura mengerti dan Lidya bertekad akan mencari cara agar Haura terlibat dalam operasi penting.
__ADS_1
.
.