
Setelah kejadian di rumah sakit, Haura dan Bryan pulang ke rumah Haura. Mereka menghabiskan waktu bersama. Haura juga belajar banyak dari Bryan hari ini. Haura belajar menjahit bagian tubuh yang terkena sayatan pisau bedah. Mereka menggunakan boneka untuk melakukan hal itu.
Haura begitu berhati-hati. Dia tidak boleh merobek atau salah menjahit. Haura memusatkan konsentrasinya pada satu titik. Bryan mengatakan saat menjahit tangan kita harus terampil seperti para penjahit pada umumnya.
"Aku lelah sekali." Haura menguap dan dia tertidur tanpa sengaja.
Bryan yang sedang mengajarkannya berusaha membangunkan dokter wanita itu. Namun ternyata Haura terlelap dengan sangat cepatnya.
"Dia sungguh lelah." Bryan menyelimutinya dan saat itu juga dia melihat telapak tangannya menjadi bayangan.
"Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Tubuhku harus baik-baik saja. Lebih baik sekarang aku istrirahat juga. Aku harus kembali normal." Bryan menyandarkan dirinya di sofa dan berusaha terlelap.
.
.
__ADS_1
Marco sedang berada di tempat yang cukup jauh bersama dengan kekasihnya.
Mereka berdua sedang bersama untuk menikmati liburan yang belum sempat mereka laksanakan beberapa bulan lalu.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menyempatkan waktu." wanita itu bergelayut mesra di pundak Marco.
"Maaf, aku baru bisa mewujudkan keinginanmu berlibur bersamaku. Beberapa hari ke depan mungkin aku akan lebih sibuk lagi. Aku harus meminta rapat penentuan ahli waris untuk pimpinan rumah sakit," ujar Marco.
"Jadi, kamu yang akan menjadi pimpinan?" tanya wanita itu.
"Aku akan mendukungmu. Jika kamu menjadi kepala rumah sakit. Setelah kamu terpilih, nikahi aku. Maka aku akan menjadi nyonya kepala rumah sakit."
Wanita itu tertawa bersama dengan Marco.
Sania wanita yang pernah menjadi kekasih Bryan namun menghianati cinta tulus Bryan.
__ADS_1
Sania memilih Marco karena dia selalu ada untuk Sania.
Mereka sebenarnya pernah satu kampus. Marco menyukai Sania sejak lama, tapi sayang Bryan lebih dulu mengutarakan perasaannya dan akhirnya mereka berdua pacaran.
Marco yang juga dekat dengan Sania. Selalu ada di saat sulit Sania dan selalu menghiburnya. Tepat saat Sania terpuruk karena salah satu kliennya gagal dia selamatkan. Marcolah yang berada di sisinya saat itu. Karena mabuk berat Sania tidur dengan Marco. Dia akhirnya memutuskan untuk bersama Marco dibelakang Bryan.
Mereka sering berlibur berdua kala Marco tidak sibuk dengan urusan rumah sakit. Marco mulai membenci Bryan saat ibunya meminta dia untuk menjadi pewaris dan dia melihat Sania juga tetap menempel pada Bryan. Dia berpikir jika menjadi pimpinan makan Sania akan seutuhnya bisa menjadi miliknya.
Sejak itu Marco menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan kepercayaan kakeknya. Namun, ternyata kakeknya masih tetap ingin Bryan yang mewarisi rumah sakit.
Saat Bryan mengetahui perselingkuhan mereka. Itu membuat Marco memiliki kesempatan agar bisa menyingkirkan sepupunya. Kecelakaan itu terjadi dan membuat Bryan dinyatakan meninggal dunia. Namun, sebenarnya Bryan telah disembunyikan tanpa ada satu orangpun yang mengetahui keberadaannya.
Marco saat ini yang mengetahui sepupunya itu masih bisa diselamatkan. kembali berusaha agar bisa membuat sepupunya pergi untuk selamanya kali ini.
Marco menatap wanita yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Kalau kamu tahu dia masih hidup. Apakah kamu akan kembali memikirkan dia? Aku tahu hatimu belum sepenuhnya untukku." Marco masih meragukan cinta kekasihnya Sania.