
Haura dan Lidya mulai kembali menyusun strategi setelah melihat beberapa jadwal operasi penting.
Lidya tidak mau kelicikan kakaknya menghancurkan keluarga dan membuat seseorang kehilangan nyawa.
"Dengar Haura, aku akan membuat Kak Marco tidak bisa menolak kehadiranmu di ruang operasi. Kamu harus bekerja dengan baik. dengan begitu setiap ada operasi penting beberapa profesor akan melibatkan dirimu." Lidya memberi saran kepada sahabatnya.
"Aku mengerti. Aku akan berusaha yang terbaik." Haura sepakat dengan rencana Lidya.
Mereka berdua keluar dari ruangan Marco. Bryan menunggu di luar untuk berjaga.
"Bagaimana?" tanya Bryan.
"Benar apa yang Kakak bilang, Kak Marco menghapus nama Haura dari semua operasi penting." Lidya menutup pintu ruangan.
Mereka bertiga langsung pergi dari sana agar tidak kepergok oleh Marco yang sedang pergi makan keluar.
Mereka bertiga berkumpul di kantin rumah sakit. Menyusun rencana kedepannya adalah prioritas mereka bertiga saat ini.
__ADS_1
"Haura, kamu harus belajar lebih banyak lagi dari Kak Bryan. Agar para profesor selalu memprioritaskan dirimu di rumah sakit ini." Lidya memberikan ide.
"Kalau begitu, jika ada waktu luang kita harus berlatih. Waktu Bryan sudah tidak lama lagi. Kita harus segera menolongnya." Haura menjadi muram.
"Jangan sedih, aku akan bertahan sebisaku. Dalam operasi diriku sendiri. Aku tidak bisa membantu mu. Ingat Dokter tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Tetap butuh dokter lain untuk menyembuhkan. Aku percaya kamu bisa menyembuhkan ku." Bryan menggenggam tangan istrinya.
"Jadi selama ini, Kak Bryan yang membantu Haura?" tanya Lidya.
"Hmm ... Benar, seorang suami harus membantu istrinya." Senyum Bryan.
"Suami?" Lidya terkejut hingga mulutnya tak bisa tertutup.
"Haura, masalah sepenting ini kamu enggak bilang aku?" Lidya menatap kesal Haura.
"Maafkan aku Lidya, aku takut kamu menganggap ku gila, aku tidak bisa mengenalkan sosok Bryan saat itu." Haura menjelaskan sambil panik.
Haura panik karena takut sahabatnya akan marah dan merajuk kepadanya. Dia cukup kenal Lidya. Lidya tidak suka jika sahabatnya menyimpan permasalahan sebesar itu sendirian.
__ADS_1
"Kamu kan bisa tunjukkan hal seperti yang kemarin. Aku bisa percaya kalau kamu menunjukkan tubuh Kak Bryan." kesal Lidya.
"Maafkan aku. Aku saja baru tahu beberapa waktu lalu. Belum lama dan waktunya belum ada." Haura merasa bersalah.
"Lidya, sudah jangan terus kesal kepada Haura. Aku juga bingung bagaimana caranya menjelaskan tentang keberadaan ku kepada Haura. Apalagi Haura." Bryan mulai membela istrinya.
"Hmmm ... suami istri sudah mulai yaa, kompak ya." Lidya mulai tertawa.
Haura dan Bryan lega sekali melihat Lidya tidak marah lagi.
.
.
Marco masuk ke dalam kamarnya. Hari ini dia tidak berniat kembali lagi ke rumah sakit. Dia merasa mumet saat di rumah sakit. Dirinya ingin sejenak rehat dari urusan rumah sakit dan menyusun ulang rencananya yang hancur karena kehadiran Bryan, meski tidak sadarkan diri. Jika para tetua tahu Bryan masih hidup. Itu adalah ancaman terbesar untuknya. sudah pasti apa yang dia impikan akan musnah dalam sekejap.
"Aaaaaah! Kenapa dia harus ada di dunia ini? Kenapa dia masih bertahan sampai saat ini. Seharusnya dia sudah mati saat itu juga." Marco sangat kesal dengan keadaan yang ada saat ini.
__ADS_1
Apa yang telah dia bangun mungkin akan segera runtuh.