
~Flashback Setelah operasi~
Haura Mendatangi ruangan khusus Bryan. Dia di sana ternyata tidak menemukan siapin. Haura menangis karena dia tidak tahu harus kemana mencari Bryan.
Haura menghubungi Lidya dan ternyata sahabatnya pun mendapatkan respon yang sama dengannya. Lidya terkejut dengan menghilangnya kakak sepupunya itu.
"Aku akan mencarinya. Kamu bersabarlah," ujar Lidya sebelum mengakhiri telepon.
Haura menangis di sudut ruangan perawatan itu. Dia tidak sanggup jika harus kehilangan pria yang dicintainya.
Berhari-hari dia mencari sosok Bryan. Dia bertanya kesana kemari namun, tidak satu orangpun yang mengetahui keberadaannya. Hingga akhirnya satu bulan berlalu.
Haura memutuskan untuk mengunjungi rumah besar itu dan mencari keberadaan pria yang pernah menjadi suaminya itu.
"Apa Bryan ada di rumah" tanya Haura kepada wanita yang mengandung pria yang dicintainya.
"Maaf Haura. Kami juga sedang mencarinya." Jawab wanita itu.
"Tidak, Tidak mungkin kalian tidak tahu kemana perginya Bryan." Haura merasa putus asa sehingga dia meninggikan satu oktaf suaranya.
Lidya merangkul sahabatnya yang sedang bersedih. Dia sebenarnya tidak tega melihat Haura yang merindukan kakak sepupunya itu. Mau bagaimana lagi. Bryan tidak di rumah mereka. Seseorang telah menyembunyikan keberadaan Bryan dan dia yakin itu adalah tantenya sendiri.
"Haura, aku tidak tahu kenapa Kak Bryan menghilang, tapi aku akan berusaha mencari tahunya." Lidya memeluk tubuh Haura erat.
"Sebaiknya kamu pulang dulu. Aku akan mengantarmu," kata Lidya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Jangan khawatirkan aku. Aku minta carilah Bryan." Mata merah dan sembab menatap penuh harap kepada sahabatnya.
Lidya mengangguk dan menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. Dia berjanji akan segera mengetahui keberadaan Bryan.
Haura berpamitan. Dengan tubuh lesu. Hati yang penuh rindu. Dia melangkah keluar dari rumah besar yang ditempati oleh keluarga Wiranto.
Wiranto adalah nama dari kakek Bryan, Lidya dan Marco.
Marco yang terlibat dalam kasus kecelakaan Bryan. Akhirnya dia ketahuan dan dikirim oleh kakeknya ke Amerika. Dia diminta untuk membenahi dirinya di sana. Karena jika dia sampai di penjara, reputasi keluarga Wiranto akan hancur seketika.
Selepas kepergian Haura dari rumah besar itu. Lidya menatap kepada tantenya.
"Tante, aku tahu kalau Tante yang menyembunyikan Kak Bryan. Tan, aku juga tahu pasti ada hal yang Tante sembunyikan. Aku yakin Tante melakukan hal itu untuk kebaikan semuanya." Lidya memegangi tangan tantenya yang ternyata sudah dingin sejak tadi.
"Ya ampun Tante. Tante kenapa jadi dingin begini tangannya?" Lidya merasa kasihan dan segera memeriksa tantenya.
__ADS_1
"Semenjak operasi Bryan. Saat Tante ketakutan, tangan ini akan menjadi dingin." Ceritanya.
"Kenapa Tante tidak bicara kepadaku? Ini pasti karena Tante stres memikirkan semuanya." Lidya langsung memberikan obat penenang dengan dosis rendah.
~Flashback Off~
****************
Satu tahun berlalu Haura kembali menjalani hidupnya dengan normal, akan tetapi dia sampai saat ini diam-diam masih mencari keberadaan Bryan.
"Ra. Minggu depan acara pertunangan Lidya. Kita pakai baju couple yuk." Sefya bicara kepada Haura yang sedang sibuk mengaduk-aduk minumannya.
Sefya melihat ternyata sahabatnya itu tidak menghiraukan perkataannya.
"Ya ampun, Ra. Dari tadi ini mulut ngomong enggak ada apa satupun yang didenger?" Sefya mulai merajuk.
Setelah mendengar perkataan Sefya yang terdengar kesal. Haura langsung fokus kembali dan meninggalkan semua pemikirannya tadi.
"Masih mikirin Bryan?" tanya Sefya.
"Enggak kok," pungkasnya.
"Yakin tuh enggak? Yakin udah relain dia?" tanya Sefya meledek.
"Iyah deh Iyah. Jadi gimana tadi tawaran baju couple?" ulang Sefya.
"Boleh, nanti kita cari ya. Hari Kamis libur kok." Haura memberi kepastian.
Sefya memang orangnya suka dengan hal pasti. Kalau Haura jawab nanti dia akan terus bertanya. 'Nantinya kapan?'.
"Fya, udah jam satu nih. Gue ada janji pasien jam dua."
Haura yang sudah menjadi dokter spesialis. Membuat waktunya semakin padat saja. Dia banyak janji dengan beberapa pasiennya.
Haura sengaja menyibukkan diri agar bisa melepaskan pikirannya dari pria yang masih dicarinya.
****************
Sesampainya dia di ruangannya sendiri. Haura merapihkan ruangannya dan menyemprotkan pengharum ruangan. Dia selalu melakukan itu dua kali selama jam praktek.
"Dokter Haura." Jack masuk ke dalam ruangan Haura.
__ADS_1
Haura langsung memasang wajah tak suka. Melihat Jack baginya adalah kesialan. Dia akan selalu mendapat banyak sekali gombalan dari pria itu.
"Kenapa sih dia selalu harus ke sini?" gerutunya dalam hati.
"Ini jadwal operasi kita." Jack memberikan dokumen kepada Haura.
"Kita?" tanya Haura tersentak.
"Benar kita. baca saja." Jack menunjuk dokumen itu.
Haura dengan cepat menyambar dokumen itu dan dia langsung membacanya. Benar saja beberapa operasi dia dan Jack yang akan menanganinya. Dokter mesum ini pasti sudah merencanakan semua ini. Secara dia sekarang dipercaya sebagai profesor yang mengatur jadwal beberapa dokter.
Sejak Marco tidak lagi di rumah sakit ini. Jack menggantikan sementara tugas pria itu sampai pemimpin perusahaan yang baru datang.
Haura menghela napas panjang karena kesal dengan sikap Jack yang mengatur jadwal sesuka hatinya.
"Baiklah. Aku permisi dulu, sampai jumpa di ruang operasi." Pria itu melambaikan tangan ke arah Haura.
Haura melempar dokumen itu tepat saat Jack sudah menutup pintu ruangannya.
Rasanya dia ingin menjambak rambut dokter mesum itu.
"Lihat saja nanti. Jika pimpinan rumah sakit yang baru sudah ada. Aku akan meminta jadwal yang tidak ada namanya di sana."
Haura merapihkan penampilannya dan segera mengambil dokumen yang tadi dia lempar.
****************
Di tempat lain seorang pria sedang mempersiapkan diri untuk mempelajari tentang rumah sakit. Dia melatih dirinya agar bisa kembali menjadi normal lagi.
"Tuan, ini beberapa dokumennya." Seorang pria muda memakai setelan jas berwarna hitam meletakkan tumpukan dokumen di meja kerja.
"Kamu sudah memeriksa semua tentang para dokter yang bekerja di sana?" tanya pria tersebut.
"Sudah Tuan. Disana ada tiga puluh dokter yang di bagi ke enam divisi. Jadi masing-masing divisi memiliki dua dokter spesialis dan tiga dokter magang. Untuk perawat sekitar lima puluh perawat. mereka di bagi menjadi tiga shift." Jelasnya.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Untuk dokter yang memiliki kemampuan unik adalah salah satunya ada Dokter Lidya. Dokter Haura, Dokter Lina dan satu lagi yang lebih unik adalah dokter Jack dia selalu menganggu perawat dan dokter cantik agar mau dengannya." Pria mudah itu menahan tawanya.
"Itu bukan keunikan. Sesampainya aku di sana. Akan aku bersihkan dia dari rumah sakit itu. Dia akan tahu siapa aku."
__ADS_1
Pria itu membalikkan tubuhnya dan ketampanannya segera terlihat jelas. Membuat para pekerja wanita terpesona dengan ketampanan yang dimilikinya.