Doctor Ghost (Terpaksa Menikah Dengan Arwah Dokter)

Doctor Ghost (Terpaksa Menikah Dengan Arwah Dokter)
Bantu Aku


__ADS_3

Lidya sampai di rumah kakeknya. Mereka semua masih tinggal bersama di satu atap.


Kakek mereka tidak mengizinkan anak-anaknya keluar dari rumah meski sudah menikah.


Lidya bergegas naik ke kamarnya. Dia ingin menghubungi seseorang nan jauh Dimata.


Lidya masuk ke dalam kamar dan segera mengambil tablet miliknya. Dia membukanya dan memencet nomor telepon seseorang.


Tuut Tuut Suara telepon tersambung sudah terdengar. Dia menunggu orang itu mengangkat telepon.


"Halo, Kak."


Lidya ternyata menghubungi Marco kakaknya.


"Kenapa kamu menghubungiku?" ujar Marco yang berada di negara yang berbeda dengan adiknya.


"Aku ingin memberitahukan Kakak sesuatu."


Lidya membenarkan headset yang ada di telinganya.


Lidya dilarang menghubungi Marco oleh kakeknya. Jadi dia sembunyi-sembunyi. Dia berbicara cukup pelan dan menggunakan headset agar tidak ada yang mendengar suara kakaknya.


"Kekasihmu. Kembali kepada Kak Bryan." Lidya memberikan informasi penting kepada kakaknya.

__ADS_1


"Kurang ajar. Pantas saja dia sangat sulit untuk aku hubungi." Marco berdecak kesal terhadap kekasihnya sendiri.


"Aku menelepon dirimu untuk mencari tahu seperti apa wanita itu. Kakak tahu kalau aku tidak tertarik kepada wanita itu sejak awal. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan dirinya. Aku ingin membuat wanita itu pergi dari kehidupan Kak Bryan dan membuat kak Bryan kembali mengingat Haura." Lidya menjelaskan maksud dia menghubungi Marco.


Marco terdengar tertawa kecil dari seberang telepon. Lidya menjadi bingung. Kenapa kakaknya bisa tertawa. Dulu saat mereka hidup satu atap saja Lidya tidak bisa membaca pola pikir kakaknya. Apalagi sekarang mereka hidup terpisah berbeda negara.


"Kenapa kakak tertawa?" tanya Lidya.


"Aku tertawa karena menertawai diriku sendiri." Marco kembali fokus pada pembicaraan mereka.


"Kenapa?" tanya Lidya yang masih tidak mengerti.


"Bagaimana aku tidak menertawai diriku sendiri. Adik yang satu darah denganku. Dia lebih mengkhawatirkan kakak sepupunya. Bahkan menelepon kakaknya hanya untuk kepentingan pria itu." Marco terdengar marah, tapi juga terdengar sedih secara bersamaan.


"Kak, maafkan aku. Aku melakukan ini semata karena Haura sahabatku. Aku tidak bisa terus-terusan melihat dia bersedih."


Lidya kembali menjelaskan semua tujuannya melakukan hal ini.


Dia sangat tidak tega kepada Haura dan dia juga tidak suka kalau wanita pengkhianat itu kembali dekat dengan kakak sepupunya.


"Jadi kamu ingin menyingkirkan wanita itu dari hidup Bryan dan mengembalikan saraf tertidur itu?" tanya Marco.


"Benar, Kak. Tolong bantu adikmu ini. Aku tidak bisa membiarkan Haura terus menderita." Lidya memohon.

__ADS_1


"Lidya, asal kamu tahu. Wanita itu tidak mudah untuk kamu singkirkan. Dia wanita yang gigih dan keras kepala. Semakin kamu ingin membuatnya menjauh. Semakin dia akan mencari cara agar tetap dekat."


Marco memberitahukan seperti apa sikap wanita yang pernah dia kencani sebelum dikirim ke Amerika.


"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Lidya penuh ke putus asaan.


"Minta saja Haura menyerah dengan cintanya." Marco malah menyarankan hal yang tak ingin di dengar oleh adiknya.


"Kak, bisakah kita serius?" tanya Lidya.


"Lidya, come on. Kalau kamu terlalu serius begini, yang ada otakmu akan buntu. Relaks Lidya. Biarkan otakmu menuntun mu menemukan jawaban dari permasalahan ini. Aku hanya bisa menyarankan satu hal." Marco diam sejenak.


Lidya menunggu kakaknya untuk kembali buka suara.


"Buat saraf yang tertidur itu bangun. Sehingga dia sendiri yang menyingkirkan wanita ular itu."


Marco menutup teleponnya setelah memberikan saran kepada adiknya.


Lidya terkejut ketika Marco memutus sambungan telepon mereka. Lidya terus mengingat kembali perkataan Marco sebelum menutup telepon


"Terima kasih, Kak. Aku harap kamu kembali ke jalan yang benar."


Lidya mencopot benda kecil yang menyempit di lubang telinganya.

__ADS_1


__ADS_2