
Pasien selesai di operasi dan langsung dibawa ke ruangan observasi. Setelah dua jam di ruang observasi pasien baru bisa dipindahkan ke ruangan perawatan biasa.
Haura ikut melangkah keluar ruangan operasi. Sedangkan Marco masih terduduk di lantai ruangan.
Marco terlalu memikirkan dirinya sendiri tanpa berpikir panjang lagi. Begitulah manusia yang sudah di pengaruhi oleh ambisinya sendiri. Dia tidak akan bisa mengendalikan diri dan hanya bisa mengandalkan emosi.
Bryan masih di dalam ruangan operasi. Dia memandangi saudara sepupunya yang begitu bodoh karena terbujuk rayuan setan yang bisa membuatnya tersesat dan hancur.
"Marco. Kenapa? Kenapa kamu bisa-bisanya berbuat nekat? Apa wanita hantu itu yang memintamu melakukannya? Atau ini murni keinginanmu untuk menghancurkan orang-orang yang perduli dengan kondisi pasien?" Bryan mengoceh sendirian tanpa bisa terlihat.
Bryan mondar-mandir kesana kemari sambil menarik-narik rambutnya.
Dia berusaha mengendalikan dirinya, tapi sepertinya sulit.
Marco keluar ruang operasi. Dia langsung pergi ke ruangan kerjanya.
Sesampainya di sana dia meratakan meja kerjanya. Dia benar-benar kesal karena Haura malah berhasil untuk menyelamatkan pasiennya. padahal dia berharap aksinya tadi bisa membuat Haura tidak bisa membantunya dan di salahkan atas ketidak becusannya.
"Haaaaah! Kenapa dia malah bisa mengetahui pergerakan ku! Seharusnya tidak bisa. Seharusnya dia membuat kesalahan! Kenapa dia bisa seberani itu?" Marco kesal.
__ADS_1
Kalau seperti ini. Sudah pasti dia akan gagal untuk menghalangi Haura menjadi dokter yang terampil.
"Apa dia membantunya? Ini sungguh membuatku menjadi pusing!" Marco melangkah ke sana kemari sudah seperti setrikaan.
Saat dia sedang mondar-mandir. Lidya datang ke ruang kerjanya. Pemandangan yang menambah jengkel Marco.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Marco.
"Kak, apa ini cara Kakak mengurus pasien? Apa Kakak mau membunuh pasien itu?" tanya Lidya dengan tatapan tak percaya.
"Apa maksudmu?" Sentak Marco yang pura-pura tidak paham.
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh adiknya Marco merasa terpancing emosinya.
"Diam Kamu! Kamu anak remaja yang tidak mengerti permasalahan kami!" Marco menatap lurus kearah Lidya.
Dia menunjuk-nunjuk adiknya sendiri untuk menahan emosinya.
"Kak! Aku tidak habis pikir. Hanya demi menjadi pewaris Kakek, Demi menjadi pemimpin di rumah sakit ini. Kakak hampir membunuh seorang pasien yang seharusnya tugas dokter adalah menyelamatkan, bukan menghilangkan nyawa. Kakak seorang pengecut! Demi tercapainya tujuan. Kakak dengan tenangnya menghilangkan nyawa orang"
__ADS_1
Selesai dengan kemarahannya kepada Marco. Lidya langsung pergi. Dia sangat kesal setelah mendengar penuturan dari Haura dan Bryan.
Sejak lama dia sangat mengagumi Marco dan Bryan. Mereka begitu akrab. Namun, tiga bulan sebelum kejadian kecelakaan Bryan. Sikap Marco menjadi berumah drastis. Dia tidak lagi bersikap bersahabat kepada Bryan. Lidya sempat mencari tahunya hingga dia akhirnya tahu rencana ibu dan kakaknya yang ingin menguasai rumah sakit.
Dulu memang Kakeknya sudah memberitahukan dirinya kalau. Bryan dan Lidya yang akan mengelola rumah sakit. Karena Marco sudah menjadi kepala Kardio. Bagi Kakeknya itu adalah jabatan yang cocok untuk dokter terampil seperti Marco.
Sedangkan Bryan di tunjuk sebagai kepala rumah sakit. Dan Lidya mendapat jabatan menjadi pemimpin Universitas Harapan.
Lidya tahu itu hal yang mungkin tidak adil bagi kakaknya yang lahir sebagai seorang pria di keluarganya. Dan itu mungkin merusak harga dirinya.
"Kakek tidak menjadikanmu pemimpin. Mungkin dia sadar hal seperti ini akan terjadi. Ambisimu yang terlalu besar bisa saja membuat nyawa seseorang hilang. Aku juga baru sadar kalau kamu tidak menyukai lagi orang itu. Kamu bisa berbuat semau dirimu terhadapnya. Itu mungkin alasan yang tidak kita tahu, tapi kakek sadar akan hal itu."
Lidya menghapus air matanya. Dia cukup lama berdiri di depan ruangan Marco. Lidya pergi mencari Haura dan juga Bryan.
.
.
Haura selesai memeriksa pasien yang ia selamatkan tadi di ruang operasi. Semua orang di sana tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Marco. Mereka berpikir Marco sedang merasa sakit dan pusing sehingga tidak bisa menyelesaikan operasi hari ini.
__ADS_1
Memang saat Marco ingin menyakiti pasien sebelumnya dia menunjukkan kalau dia sedikit merasa pusing sebelum melakukan operasi itu. Maka dari itu Bryan dan Haura menaruh curiga.