
Lidya yang sudah tidak tahan lagi melihat kesedihan yang mendalam terhadap sahabatnya dan juga tidak rela jika kakak sepupunya kembali dengan wanita yang sudah pernah mengkhianati hubungan.
Lidya berusaha berpikir bagaimana cara dia bisa membuat Bryan mengingat Haura kembali. Dia berusaha untuk membuat Bryan sedikit demi sedikit bisa mengenang masalalu tentang pengkhianatan Siena.
"Hei, bengong ajah." Kiki menghampiri Lidya.
Dia dan Lidya memang sengaja janjian di sebuah cafe. Kiki saat ini sahabat yang bisa dia ajak bicara secara normal. Lidya sudah pusing bagaimana cara dia bisa membuat Bryan sadar tanpa membuat kondisinya memburuk.
"Kenapa?" tanya Kiki yang melihat wajah murah sahabatnya.
"Itu loh, Haura dan Kak Bryan. Kemarin Kak Bryan sudah kembali ke rumah sakit sebagai pemimpin." Cerita Lidya.
"Lalu? Kenapa?" tanya Kiki yang belum mengerti maksud dari arah pembicaraan Lidya.
"Kak Bryan itu ternyata enggak inget semua yang dialami beberapa bulan saat dia koma." Lidya bercerita sambil mengaduk minumannya.
"Itu'kan sudah biasa. Kalian seharusnya sudah bisa memprediksi tentang itu semua. Bryan tidak akan mengingat apa yang terjadi di alam bawah sadarnya." Kiki menjelaskan seperti lebih mengerti dari pada seorang dokter.
"Ya, aku sih kepikiran kesana, tapi setelah kita mengoperasi Kak Bryan." Sesal Lidya.
__ADS_1
"Kami bahkan tidak meninggalkan jejak sedikitpun tentang keberadaan Kak Bryan. Andai ada, aku bisa meyakinkannya." Pikiran Lidya menerawang.
"udah enggak usah dipikirin terlalu keras begitu. Nih makan." Kiki menyodorkan sepiring steak tenderloin kesukaan Lidya.
Lidya langsung terlihat senang. Dia langsung menyambar makanan kesukaannya itu.
"Tahu ajah sih kalo orang lagi laper." Lidya memotong-motong steak miliknya.
"Bukan laper kali, tapi doyan."
Kiki nyengir sambil ikut memotong steak sirloin miliknya.
Lidya begitu menikmati steak miliknya. Dagingnya yang tanpa lemak membuat kenikmatannya semakin nikmat. Sedangkan Kiki menikmati daging dengan sedikit lemak kesukaannya.
****************
"Siapa dokter yang melakukan operasi kepadaku?" tanya Bryan.
"Dokter, Pak." Dirga menjawab pertanyaan atasannya.
__ADS_1
"Iyah saya tahu, Dirga. Maksud saya siapa namanya dan bagaimana dia bisa menguasai ilmu yang sama persis dengan yang saya miliki?" tanya Bryan yang mulai tersulit emosi.
"Kalau masalah itu. Saya juga kurang tahu Pak." Dirga menundukkan wajahnya.
Bryan ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya dokter yang telah melakukan operasi kepadanya. Sehingga dia bisa berdiri lagi di tempat yang selalu dia rindukan.
"Aku harus mencari tahu siapa dia. Aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu kepadaku." Bryan membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamarnya.
Dirga menjaga Bryan yang masih belum sangat stabil. Dia juga kerap kali berjaga di ruangan depan kamar tidur. Dia tidak mau Bryan mengalami hal kritis seperti beberapa bulan lalu.
****************
Lidya selesai dengan makanannya dan Kiki pun sama.
"Ki, cari cara ya." Lidya kembali membahas persoalan Bryan.
"Lid, gimana caranya? Dokter ajah bingung. Apalagi orang biasa." Kiki juga bingung.
Lidya membuang kasar napasnya. Dia seakan sudah buntu dan putus asa.
__ADS_1
"Lid, jalani saja. Suatu hari nanti takdir yang akan menuntun semua untuk kembali pada tempatnya semula. Percayalah." Kiki menguatkan sahabatnya yang begitu putus asa.
Lidya merasa kalau dia harus mulai sedikit demi sedikit belajar menjali hidup dengan ikhlas agar apa yang dikatakan Kiki segera terjadi.