Doctor Ghost (Terpaksa Menikah Dengan Arwah Dokter)

Doctor Ghost (Terpaksa Menikah Dengan Arwah Dokter)
Segara lakukan operasi.


__ADS_3

Haura terbangun dari tidur lelapnya. dia melihat tubuh Bryan setengah memudar seperti waktu itu. Haura mengucek kedua matanya, berharap dia salah lihat.


"Apa ini yang dikatakan oleh pria tua itu? Apa aku harus menjadwalkan operasi untuknya?" Haura terlihat pucat ketika dirinya melihat suaminya.


Meski mereka menikah bukan di dunia nyata. Namun, mereka tetap pasangan suami istri yang saling mengikat roh di dalam tubuh mereka.


Jiwa mereka sudah dipersatukan saat itu. Haura juga semakin lama semakin mencintai Bryan. Dia tidak sanggup jika harus hidup tanpa sosok Bryan yang kini selalu menemaninya disaat sulit maupun senang.


"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku ingin kamu selalu denganku. Aku akan segera menjadwalkan operasi untukmu."


Haura bangkit dari duduknya dan segera meraih ponsel, lalu menghubungi seseorang.


"Halo, Tante. Aku akan segera menjadwalkan operasi untu Bryan. Aku minta tolong, siapkan dokter yang terpercaya, aku tidak mau ada dokter yang mengganggu proses operasi nanti. Aku juga minta penjagaan yang ketat."


Haura menutup teleponnya dan dia menghubungi seseorang lainnya.


Saat Haura sibuk bicara di telepon. Bryan terbangun dan mendengarkan pembicaraan wanita yang sudah menempati relung hatinya.


"Siapa yang akan kamu operasi?" tanyanya.


Haura tercekat ketika mendengar suara Bryan. Dia memutar balik tubuhnya dan menatap lekat manik mata pria dihadapannya.


"Kamu," jawabnya.

__ADS_1


"Aku?" tanya Bryan yang belum sadar kalau sebagian tubuhnya sudah menjadi bayangan.


"Lihat dirimu." Haura menyentuh pipi Bryan.


Bryan mengikuti perintah Haura dan dia begitu terkejut ketika tangannya mulai tak terlihat olehnya sendiri.


"Aku," Bryan tak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Waktumu tinggal lima hari lagi. Sekarang tetaplah di dekat tubuhmu. Lindungi tubuhmu semampu dirimu selama operasi belum berlangsung." Pinta Haura.


Bryan mengerti maksud Haura. Dia bersiap untuk pergi ke tempat dimana tubuh aslinya berada.


Haura melihat kepergian pria yang dicintainya. Meski berat, tapi perpisahan ini hanya berlangsung sementara.


Haura sudah meyakinkan dirinya. dia akan segera mungkin melakukan operasi darurat.


.


.


Hari semakin cepat berlaku. Haura sudah kembali ke rumah sakit dan sudah mendapatkan informasi terkait rencananya untuk pelaksanaan operasi.


"Kamu sudah siap?" Lidya berjalan sejajar dengan sahabatnya.

__ADS_1


"Aku siap dan harus siap." Haura bicara dengan nada penuh serius.


"Kita adakan rapat sebelum operasi dilaksanakan. Beberapa dokter dan salah satunya ada profesor yang ahli di bidangnya. Dia sudah sepuh, tapi tetap bisa membantu kita."


Haura, Lidya memasuki ruangan Bryan. Di sana para tetua berkumpul juga.


"Aku tidak menyangka. Kalau selama ini cucuku terbaring lemah di ruangan rahasia ini. Dulu kakakku juga pernah terbaring di sini sampai pada akhirnya dia tidak bisa bertahan melawan penyakitnya. Aku bahkan nyaris melupakan tempat ini." Pria tua itu menghapus air matanya.


"Kek, ini adalah Haura. Dia yang akan mengoperasi Kak Bryan." Lidya memperkenalkan Haura kepada kakeknya.


"Kamu yakin?" tanya pria tua itu.


"Aku yakin, kek. Aku percaya kepada kemampuan sahabatku." Lidya berusaha meyakinkan kakeknya.


Mereka akhirnya membicarakan tentang proses yang akan Haura hadapi saat operasi Bryan.


Haura mengerti dan di sana Bryan terlihat segar. Dia akan terlihat segar ketika berada di samping tubuh aslinya sendiri ketika dalam kondisi darurat.


Bryan juga memberi arahan kepada Haura setelah para tetua keluar dari ruangannya.


"Kamu siap?" tanya Bryan.


"Aku siap."

__ADS_1


__ADS_2