
Bryan yang membantu Haura di rumah sakit, guna mengamati gerak-gerik orang yang tampak mencurigakan.
Bryan masih menyimpan satu nama yang selalu terukir dalam ingatannya dan juga masih ingat jelas wajah orang yang menyakitinya.
Haura melihat sorot mata Bryan yang tertuju kepada seseorang.
"Kenapa dia melihatnya seperti penuh dendam? apa mereka saling mengenal?" Haura bertanya-tanya.
Bryan yang sadar telah mendengar suara hati Haura, langsung mengalihkan pandangannya, dia pura-pura melihat ke arah lain.
"Maaf, aku terfokus kepada seseorang yang sepertinya dia dokter yang hebat." kata Bryan.
"Dia memang hebat, dia salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini, pasti kamu sering melihat dirinya, ya, kan?" tanya Haura seakan menyelidik.
"Ya, tapi aku tidak terlalu fokus kepadanya dulu, aku terlalu fokus kepada dirimu." Bryan langsung mengubah alur pembicaraan.
Haura kemudian tersenyum, entah mengapa dia sekarang suka terlena dengan perkataan Bryan.
"Untung saja, Haura percaya, jika tidak, pasti aku akan sulit menjelaskan kepadanya." Bryan merasa lega karena Haura tidak lagi bertanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari berat kembali di lalui Haura. Seorang dokter muda yang mendapat pendidikan langsung di rumah sakit, mereka diharapkan bisa belajar sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya dari para dokter.
Program ini seharusnya di tempuh oleh seorang dokter muda selama minimal tiga semester, namun karena pengalaman pahitnya, Haura harus menjalaninya lebih dari itu, seringkali dia mangkir ketiga mendapatkan tugas dari state kebidanan, state bagian penyakit dalam dan state bedah, Haura lebih sering mengekori dokter spesialis THT, karena tidak terlalu berat baginya.
Bryan yang terus disampingnya, kini bisa membuat Haura sedikit demi sedikit berani menghadapi tugasnya sebagai seorang dokter.
"Haura, ikuti dia, jangan sampai kamu kehilangan kesempatan ini, pelajari apa yang bisa kamu pelajari darinya, dulu aku juga seperti itu, belajar dari semua dokter dan mulai mempelajari nya sendiri, kemudian, barulah aku bisa menjadi seorang ahli bedah seperti saat ini." Bryan meminta Haura mengikuti Marco yang menjadikan Haura bagian dari teamnya.
__ADS_1
Haura mengangguk dan mengikuti semua yang dikatakan oleh suaminya, suami yang dia peroleh saat dirinya mengalami kecelakaan.
Kecelakaan itu, bisa dibilang musibah membawa berkah.
Haura yang kini sedikit demi sedikit bisa menepis semua rasa takut di hatinya dan bisa mengendalikan pikirannya, mulai merasa biasa dalam menangani para pasien.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Marco bersiap untuk masuk ke dalam ruang operasi, setelah sebelumnya dia membersihkan seluruh tangannya dan memakai APD.
Marco menghampiri pasien dan para petugas operasi hari ini.
"Hari ini kita akan melakukan operasi usus buntu dengan metode Laparoskopi, semua bersiap, jangan lupa untuk konsentrasi dan ambil pelajaran yang bisa kalian pelajari," ujar Marco.
Haura yang sejak tadi sudah berada di samping pasien, mulai menunjukkan rasa gelisahnya.
"Jika ada yang ragu, silahkan keluar dari ruangan operasi, agar tidak mengganggu selama operasi berlangsung." Marco yang ketika itu melirik ke arah Haura langsung melontarkan kata-kata pedasnya.
"Kenapa dia seakan menyindirku, aku yakin dia memang menyindirku, tapi kenapa? bukannya akhir-akhir ini dia bersikap manis kepada ku? kenapa sekarang seakan sangat membenciku?" gumam Haura dalam hatinya setelah mencerna baik-baik perkataan Marco.
Marco mulai membuat satu sayatan kecil di sekitar pusar, setelah sudah dipastikan pasien terbius total. Marco juga memasukkan selang kecil ke salah satu sayatan yang telah dibuat untuk menyalurkan gas karbon dioksida, agar perut pasien mengembang dan organ dalam perut menjadi lebih jelas terlihat.
Proses operasi Laparoskopi berlangsung selama kurang lebih satu jam, setelah pasien selesai di operasi, dia langsung di bawa ke ruang pemulihan, di ruangan itu lah dokter akan memantau tanda-tanda vitalnya.
Haura keluar dengan wajah sedikit murung, membuat Bryan merasa khawatir dan langsung menghampiri.
"Ada apa? Apa operasinya tidak berjalan lancar? Apa dia gagal menangani pasiennya?" Bryan mengajukan begitu banyak pertanyaan, sehingga Haura mendengus kasar.
Haura menarik nafas dalam-dalam. "Operasinya lancar dan pasien selamat, hanya saja, kenapa sikap dia berubah?" tanya Haura dengan wajah lesu.
__ADS_1
"Berubah? Siapa?" tanya Bryan penasaran.
Haura langsung mengarahkan kedua manik matanya ke seseorang yang sedang bicara dengan salah seorang perawat.
"Apa maksudmu dia? Tapi kenapa?" tanya Bryan dalam hatinya.
Bersambung
.
.
Hai maaf aku baru bisa update, karena beberapa hal yang membuat aku tidak menulis.
guys aku juga mau rekomendasikan Novel karya temanku. mampir ya kalian semua, terimakasih.
Blurb
Menelan pil pahit bukanlah suatu keinginan tapi mungkin sudah keharusan dan takdir.
harus dijalani itu yang pasti.
Rumah tangga Nadira harus kandas ditengah jalan karena perbedaan prinsip dan tersandung kasus lain yang menyebabkan mereka harus berpisah.
Dan kali kedua ini ataukah masih hidup bersama pria yang diinginkan nadira.
"Ceraikan aku" tanggis Nadira.
"Sampai kapan pun aku takkan pernah meninggalkanmu atau pun berpisah. Aku tak ingin itu terjadi"
__ADS_1
"Tapi ini. Adalah kenyataan bahwa kau" .