
"Dinding pembatas!" Kata Ato Dalang.
"Dinding pembatas?" tanya Bryan kebingungan.
"Iyah! dinding itu dibuat oleh seorang dukun, yang memiliki kemampuan khusus! dinding pembatas itu adalah sebuah perisai yang mampu memisahkan dunia manusia dengan dunia arwah, membuat manusia yang bisa melihat kita menjadi tertutup mata batinnya!" jelas Ato Dalang kepada Bryan.
Bryan masih menyimak cerita Ato Dalang, dia begitu penasaran bagaimana dinding pembatas itu bisa dibuat, dan siapa manusia yang bisa membuatnya.
"Di mana, aku bisa menemui dukun sakti itu?" tanya Bryan, yang ingin mencari sang dukun.
"aku tidak yakin! karena aku sudah memusnahkan seluruh anggota keluarganya, dinding pembatas dibuat dengan sebuah benda, dengan batu permata berwarna merah, dan harus ada seseorang yang membuat perjanjian dengan dukun itu!" jelas Ato Dalang lagi.
begitu rumit kini, Bryan tidak tau harus mencari dimana dukun sakti itu, dia juga tidak tahu siapa orang yang membuat perjanjian dengan sang dukun.
"Apa dia yang membuat perjanjian?" tanya Bryan yang menyangka Haura lah orangnya.
"tidak mungkin! karena dia tidak bisa membuat perjanjian ketika terikat perjanjian dengan arwah! pasti orang lain yang mengetahui keberadaan mu!" Ato Dalang menepis prasangka Bryan kepada Haura.
"Tapi! tidak ada satu manusia pun yang tau keberadaannya, selain Haura, jadi siapa?" tanya Bryan, yang semakin kebingungan.
"itu menjadi tugasmu sekarang! cari tahu siapa orang itu!" Ato Dalang memerintahkan Bryan.
Bryan menerima perintah dari Ato Dalang, dia bergegas pergi dari dunia arwah dan menuju dunia manusia.
*****
Haura terus mencari Bryan dia tidak tau kemana pria itu pergi dan mengapa pergi.
"Haura! Hauraaaa!" teriak Bryan namun tidak didengar.
Bryan yang tiba di dunia manusia langsung mencari keberadaan Haura tapi sayangnya, Haura tidak bisa melihat dirinya.
Haura tetap sibuk untuk mengerjakan tugasnya sebagai seorang dokter, mengobati, memeriksa dan menyelamatkan pasiennya
Bryan juga ingin menyentuh Haura tapi tidak bisa, dia juga tidak bisa mendengar suara hati Haura, membuat Bryan bingung.
"Ada apa dengan gadis ini? kenapa aku juga tidak bisa bersentuhan dengannya? ini sangat membingungkan!" gumamnya.
"lupakan saja dia, untuk apa mencintai manusia jika di dunia arwah kamu bisa bahagia!"
seorang wanita berbisik ditelinga Bryan, Bryan segera menoleh ke arah suara.
"Susan!" kaget Bryan.
__ADS_1
Bryan terkejut dengan kehadiran Susan di dunia manusia, Susan seharusnya sedang sibuk di dunia hantu, mereka sama-sama makhluk tak kasat mata, namun berbeda jenis, Susan manusia yang sudah meninggal dunia dan Bryan adalah manusia yang sedang memperjuangkan hidupnya kembali.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bryan.
"sedang ingin berkeliling saja!" jawab Susan santai.
"Bukannya dunia hantu sedang sibuk untuk pemilihan pemimpin yang baru?" Bryan kembali bertanya.
"Ya! kamu benar, tapi aku sedang ada tugas lain, jadi aku mampir dulu ke dunia manusia!" Susan mencoba terus berkelit agar Bryan percaya.
Bryan bersiap pergi meninggalkan Susan.
"Bukankah! sebaiknya kamu menyerah saja? wanita itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan tugasnya!" Susan bicara seolah-olah dia bisa memprediksi masa depan.
"Jangan asal bicara! aku tidak akan pernah menyerah dengan hidupmu! aku pasti akan hidup kembali dengan bantuan dirinya!" Bryan menunjuk kearah Haura.
Susan menoleh ke arah Haura dengan tatapan penuh kebencian, dia sangat benci dengan kehadiran Haura di rumah sakit ini, semenjak Haura masuk ke rumah sakit, membuat Bryan terus memperhatikan Haura dan yang tadinya Susan berteman dengan Bryan, meski tidak terlalu dekat, tapi Bryan cukup menarik untuknya, itu yang membuat dirinya ingin Bryan menyerah dan menjadi seorang hantu seperti dirinya.
"apapun itu! aku akan terus menghalangi jalan wanita itu untuk menjadi dokter yang seperti kamu inginkan Bryan!" batinnya.
Susan sangat menyukai Bryan, dari postur tubuh, wajah yang tampan, pria yang cerdas, dan memiliki senyuman yang manis, sesuai dengan kriteria pria idamannya, dulu saat dia masih hidup, dia tidak pernah bisa memiliki pria yang ia cintai, makanya di dunia hantu ini, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan pria yang dia sukai.
******
Marco mencari Susan, dia tidak tau cara agar hantu wanita itu bisa muncul di hadapannya, dia ingin bertanya sesuatu kepada Susan.
Marco yang sedang melihat ke arah luar jendela, sontak langsung memutar sedikit tubuhnya untuk melihat Susan.
"Jangan duduk di kursiku!" bentak Marco.
"Hmmm! dasar manusia, hanya sebuah kursi saja dipermasalahkan!" ejek Susan sambil berdiri menjauh dari kursi Marco.
"Kenapa kamu mencariku?" tanya Susan yang dalam sekejap berada di depan Marco.
Marco tidak terlihat terkejut, bahkan dia tidak mengedipkan sedetikpun matanya ketik melihat Susan berdiri tepat dihadapan dirinya.
"ternyata kamu memang pria pemberani! bahkan tidak sedikitpun berkedip melihat kemunculanku!" puji Susan.
"jawab aku! apa kalung itu berfungsi?" tanya Marco.
"tentu saja, kalung itu akan berfungsi, jika kamu tidak lupa meneteskan darahmu setiap malam Jumat kedalam cawan, dan akan tetap berfungsi jika selalu berada di lehernya, aku juga sudah memastikan Bryan tidak bisa berkomunikasi dengan wanita itu!" kata Susan menjelaskan.
"Sampai kapan aku harus melakukan hal seperti ini?" tanya Marco.
__ADS_1
"baru satu kali kamu melakukannya saja, sudah tampak seperti orang yang sudah berpuluh-puluh kali melakukannya!" cetusnya.
"aku hanya ingin memastikan, tidak ada gangguan untuk aku dirumah sakit ini!" ujar Marco.
"jika Bryan menyerah, dan wanita itu juga menyerah! maka tugas mu akan selesai!" paparnya.
Susan kembali menghilang dengan sekejap mata, membuat Marco mencari-cari sosoknya lagi.
"Sial! hantu kurang ajar! datang dan pergi sesuka hati!" dengusnya.
"jika kamu ingin menemuiku, panggil saja namaku!" suara terdengar tapi sosok Susan tidak terlihat.
*****
"Lidyaaaa! aku rindu!" Haura langsung memeluk sahabat baiknya.
"baru sehari tidak bertemu? rindu? aku tidak yakin!" Lidya menyangkal perkataan sahabatnya itu.
Haura langsung mengerutkan bibirnya, menandakan dia kesal karena sahabatnya tidak percaya dengan perkataannya.
"Iyah ... Iyah! aku percaya!" bisiknya sambil menggerakkan sedikit alisnya naik turun.
"Haura! boleh aku bertanya?" tanya Lidya.
"Hmmm ... tentu!" kata Haura sambil mengangguk kecil.
"apa benar, kak Marco memberikan kalung kepadamu dan mengutarakan perasaannya?" cicitnya.
Haura merapatkan bibirnya, dia bingung harus berkata apa, tapi dia harus menceritakan semuanya kepada Lidya.
Haura meraih tangan Lidya dan mengajaknya duduk di kursi tunggu depan apotek rumah sakit.
Haura menceritakan detai kejadian dia bisa menerima kalung dari kakak sahabatnya.
Lidya menampakkan wajah mengerut, setelah mendengar penuturan dari sahabatnya, Lidya mengeraskan rahangnya, menahan emosi yang akan dia ledakkan ketika menemui kakaknya nanti di rumah.
semalam Lidya mencari Marco di rumah sakit tapi tidak menemukannya, Marco juga tidak pulang ke rumah, membuat Lidya tidak bisa mengetahui apa maksud dari kakaknya mengungkapkan perasaan kepada sahabatnya Haura.
.
.
.
__ADS_1
.hai semuanya, mampir juga ke novel karya teman ku, pastinya seru!