Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Kebimbangan Mutiara


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Tio sekertaris pribadi Bimo sudah melaporkan kepada Bimo setelah memastikannya, bahwa wanita yang di cari oleh atasannya itu orang yang sama.


"Kau yakin?"


"Saya yakin."


"Ternyata benar kata Papah, kalau dunia itu memang kecil."


Tio menunjukkan CCTV yang ia dapat melalui tab dan memberikan jadwal harian yang akan Bimo lalui hari ini.


Tio merupakan sekertaris kepercayaan Bimo, Tio adalah senior Bimo saat kuliah dulu, karena keadaan ekonomi Tio sempat gagal untuk melanjutkan kuliahnya. Namun Bimo memberikannya bantuan dengan syarat Tio harus bekerja dengannya saat nanti Bimo menjalankan perusahaannya dan di sinilah Tio sekarang.


"Sepertinya jadwal kita sungguh padat." Protes Bimo.


"Apa perlu aku rubah beberapa jadwal hari ini?"


"Tidak usah, ayo kita berangkat sekarang."


Bimo mulai berjalan mendahului Tio, sebelum sampai ke mobil Tio berlari kecil hanya untuk membukakan pintu untuk Bimo.


"Terima kasih."


Setelah sarapan Mutia bergegas ke kantor, ia harus menyerahkan proposal yang diperintahkan oleh Rosa. Karena akan Rosa pakai untuk pertemuan hari ini.


"Kenapa kamu tidak memberi aku kabar?" Dirga segera menghampiri Mutia ketika melihatnya turun dari angkutan, Dirga sudah sejak pagi menunggunya.


"Bukan urusanmu." Mutia bicara sambil berjalan.


Dirga menarik lengan Mutia. "Tatap aku jika bicara." Dirga berbicara dengan suara pelan.


"Dirga, kita sudah tidak ada hubungan, jadi sebaiknya kau menjauh dariku."


"Tidak bisa, aku sudah bilang padamu kalau aku sudah mencintaimu."


"Jaga bicaramu."


"Aish, sial. Dengar baik-baik." Dirga memegang tangan Mutia dengan kuat. "Aku tidak mau kita putus."


"Cinta kamu bohong, lepaskan sakit Dirga!" Mutia berusaha melepaskan diri.


"Ada apa ini?" Seseorang dengan suara berat dan tidak asing baru saja menggenggam tangan Dirga.


"Mas Bimo!" Mutia terkejut melihat pria yang semalam itu ada di dekatnya.

__ADS_1


Bimo berhasil melepaskan cengkraman tangan Dirga dari lengan Mutia. Ia mendorong kuat tubuh Dirga untung saja Dirga tidak sampai terjatuh.


"Kamu baik-baik saja?"


"Saya baik-baik saja."


"Siapa dia?" tanya Bimo dengan tatapan tajam. Dirga segera mendekat dan menjulurkan tangannya.


"Saya Dirga, kekasih Mutia."


"Mantan, jangan seenaknya kamu bicara," ucap Mutia.


Bimo menatap Mutia singkat lalu kembali menatap Dirga kemudian mengacuhkannya, Dirga menarik kembali tangannya.


"Apa kamu bekerja di sini?"


"Iya, Apa mas Bimo ada keperluan di sini?"


"Tidak, aku hanya kebetulan lewat. Dan tidak sengaja melihat kamu." Bimo menatap lagi ke arah Dirga dengan kesal, bagaimana bisa pria bernama Dirga itu bisa kasar dengan wanita.


"Pak Bimo, kita harus bergegas." Tio asisten Bimo mengingatkan untuk jadwal kerjanya.


"Masuklah, Mutia." perintah Bimo pada Mutia. Gadis berpipi chubby itu mengangguk, Dirga mengikuti Mutia dari belakang. "Heh, kamu!" Panggilnya pada Dirga sehingga Dirga dan Mutia menoleh, dengan jarinya Bimo memberi isyarat meminta Dirga mendekat.


Tapi, Dirga menyeringai tidak suka. "Apa?!"


"Siapa dia? Kekasih baru mu?


"Bukan, dia anak sahabat papah."


"Kamu tidak bohong, kan?" Dirga berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Mutia. "Mutia!"


"Apa sih?"


"Jawab pertanyaanku?"


"Iya, dia pacarku, kenapa?!" Mutia membuka matanya dengan lebar menatap kesal ke arah Dirga.


"Mutia, kamu berubah," ucap Dirga dengan nada pelan.


"Kamu yang merubahku, Dirga. Apa kamu tidak sadar telah melukai aku." Air mata Mutia mengembang hampir keluar.


"Maafkan aku, Mutia. Aku bingung."

__ADS_1


"Kenapa harus bingung, kamu seharusnya tidak pernah menerima cintaku, kamu seharusnya tidak mempermainkan perasaanku." Mutia berbisik hingga suaranya tercekat karena menahan tangisnya. "Hubungan kita sudah berakhir, Dirga."


"Tidak, aku tidak mau, beri aku kesempatan sekali lagi, oke."


Lagi, Mutia dalam kebimbangan. Mutia sangat mencintai Dirga, ia tampan, putih, romantis dan baik. Baik saat itu, sebelum ia tahu jika dirinya hanyalah sebuah permainan. Perhatian Dirga selama ini membuat hatinya menghangat, mengapa cinta ini begitu bodohnya. Apa yang akan terjadi jika ia bertahan bersama Dirga.


Mutia tidak mau menyia-nyiakan kehidupan kedua yang diberikan tuhan padanya, jika terus bersama Dirga kemungkinan bunuh diri bisa terulang kembali.


"Apa-apaan ini, mengapa harganya bisa salah begini, kamu mau kita mendapatkan bahan baku yang tidak berkualitas!" Rosa membanting map merah.


Mutia mengambil dan membacanya, Mutia merasa aneh karena proposal itu bukanlah buatannya.


"Maaf, Bu. Tapi ini bukan proposal saya."


"Apanya yang bukan, jelas tadi kamu yang memberikannya padaku."


"Permisi, Bu." Lala mencoba masuk saat Mutia di marahi oleh Rosa.


"Sepertinya waktu kita sudah mepet, lebih baik pakai proposal ini saja," ucap Lala. Rosa mengambil dan membacanya. "Ini proposal lama, saya rubah sebagian harganya."


Rosa melirik jam tangannya, waktu bertemu klien memang tidak bisa di undur. "Baiklah, aku harus bergegas. Mutia kita bicara lagi nanti."


Rosa bergegas keluar ruangannya, ia memang sangat terburu-buru. Lala melirik ke arah Mutia kemudian meninggalkannya.


Mutia kembali ke mejanya, ia merasa yakin sudah mengerjakan proposal itu dengan benar bahkan ia sudah memeriksanya beberapa kali. Tapi kenapa berbeda dengan yang kemarin ia kerjakan. Kemana perginya proposal yang sudah ia kerjakan.


"Sepertinya aku harus membuat kopi, kepalaku rasanya mau pecah." Mutia berjalan ke pantry dan mendengar Lala tertawa terkikik membuat Mutia curiga dan mengintip. Di sana Lala sedang berbicara dengan Dirga seraya menaruh kepalanya di bahu Dirga yang sedang menyesap kopi.


"Kenapa kamu masih saja mengganggunya?"


"Aku tidak suka padanya, hanya itu. Kenapa kamu tidak suka kalau pacar gendutmu itu aku ganggu."


Dirga diam tak menjawab. Dirga hanya menikmati kopinya dengan wajah datar.


"Puas sekali aku melihatnya dimarahi Bu Rosa, aku benar-benar beruntung memanfaatkan kelengahan bu Rosa untuk menukar proposalnya."


Mutia membekap mulutnya terkejut mendengar penuturan Lala, Mutia kesal dengan Dirga yang hanya diam seperti itu tanpa membelanya sama sekali.


"Dirga."


"Hm."


"Cium aku." Lala berdiri di hadapan Dirga. Dirga menyimpan gelas kopinya dan mulai melingkarkan tangannya di pinggang Lala kemudian mereka berciuman.

__ADS_1


Bagaimana bisa mereka bermesraan di kantor. Mutia merasa sesak napas, tangannya mengepal matanya memanas karena marah. Bagaimana bisa Dirga menciumnya padahal ia meminta kesempatan kedua padanya. Lagi, hati Mutia dipermainkan oleh Dirga, hatinya sempat goyah tadi, Mutia meninggalkan pantry tanpa perduli keinginannya untuk minum kopi.


Tapi, langkahnya terhenti. Mutia kamu benar-benar bodoh. Tolonglah, Kali ini jangan diam saja, Mutia kembali berjalan menuju pantry dan mendorong paksa pintu sehingga orang yang sedang bercinta itu kelabakan.


__ADS_2