
Mutia merasa bosan, ia ingin segera bekerja agar dapat bertemu dengan temannya dan mengobrol dengan siapa saja yang dijumpainya, meski mereka tidak bisa disebut teman karena selalu ada saja yang menjelekkan secara terang-terangan seperti Lala.
Mengetahui Mutia yang jenuh, Lia berinisiatif mengajak Mutia untuk belanja ke Mall, dengan senang hati Mutia menerimanya, sudah kebiasaan lama di rumah ini jika ingin belanja para pekerja di rumah akan memberi tanda ceklis pada kertas yang sudah ada nama barang kebutuhan rumah tangga.
Mutia berangkat menggunakan mobil putih yang membawanya ke rumah Bimo tadi pagi, bersama supir serta Lia juga, sepertinya ia akan selalu di antar Lia dan supir mulai sekarang.
Mutia memasukkan semua barang yang sudah dilist oleh para penghuni rumah ke dalam troli. Seorang wanita mendekati Mutia dan Lia, wanita itu menyapa Lia dan menanyakan kabar, seperti mereka sudah saling mengenal, wanita itu kemudian tersenyum menyapa Mutia.
"Bagaimana rasanya punya suami bang Toyib?" ocehnya sambil tertawa, Mutia hanya tersenyum tidak paham. "Kita sama, Jeng. Senasib punya suami jarang pulang." Ah, I see. Mutia mengerti dengan maksud bang Toyib.
Wanita cantik dengan kesan formal, mengenakan kemeja bewarna putih tulang dengan gambar goldfish dan ukiran hijau, bahan utama yang seratus persen kain sutra dan dilengkapi dengan mutiara, mengenakan celana panjang dengan warna light beige dan strip hitam di kedua sisinya. Di produksi oleh Victoria Beckham. Kemungkinan barang yang dipakai di tubuhnya mencapai kurang lebih dua belas juta rupiah belum terhitung harga tas yang ia gantung di lengannya. Jelas saja Mutia tahu karena ia bekerja di sebuah perusahaan garmen terbesar. Berbanding terbalik dengannya, Mutia hanya memakai pakaian yang nyaman sesuai kantongnya. Mungkin pakaian yang dikenakan wanita cantik dihadapan Mutia juga bisa saja sesuai kantong.
Tapi, apakah Mutia mengenalnya, kenapa wanita itu tahu dengan siapa Mutia menikah.
"Suami beliau adalah sahabat tuan Bimo, kemarin beliau hadir dihari pernikahan Nona," ucap Lia. Mutia baru saja ingat kemarin Bimo memeluk seorang pria dan ada wanita dibelakang pria tersebut, ternyata benar wanita itu orang ini. Dan lagi, Mutia merasa takjub dengan Lia Sepertinya wanita itu dapat membaca pikirannya.
"Ah, maafkan saya mba karena tidak mengenali anda." Mutia bingung untuk menyebut namanya, karena Mutia memang tidak ingat padahal Bimo sudah memperkenalkannya.
"Panggil saya Sesil," ucapnya.
Sesil wanita yang ramah dan sopan, sangat berkelas tidak hanya cantik ia juga memiliki postur tubuh yang sehat dan berat badan yang ideal membuat Mutia iri dan ingin kembali ke tubuhnya yang dulu.
"Oh iya, karena kamu adalah istri dari Bimo, kamu harus bergabung dengan kami, BTS." Mutia mengerutkan alis. Behind the scene atau Bangtan, pikir Mutia dalam hati. Sesil menunjukkan id card BTS. Ada kalimat lucu di sana yang membuat Mutia merubah wajahnya dengan ekspresi riang. Bang Toyib Squad. Astaghfirullah membuat Mutia menggelitik geli karena diluar ekspektasinya.
"Lucu, kan?" ucapnya membuat Mutia mengangguk seraya tersenyum. Sesil dan Mutia bertukar nomor telepon. "Kamu harus gabung sama kita-kita, banyak kegiatan yang bisa kamu ikuti, kita ga hanya arisan, loh. Tapi, juga bakti sosial," ucapnya. Mutia hanya mengangguk seraya tersenyum.
__ADS_1
Sesil pamit karena harus menjemput anaknya di sekolah, Mutia dan Lia mulai melanjutkan membeli kebutuhan rumah tangganya, setelah selesai Mutia kembali pulang ke rumah.
"Aku mau mandi dulu ya, Bu Lia. Ga enak banget, gerah," Lia mengangguk. Mutia naik ke atas dan membersihkan tubuhnya.
Mutia yang lelah belanja tak terasa telah terlelap setelah mandi, hingga tak terasa waktu terus berlalu. Suara ketukan pintu membangunkannya, sudah waktunya makan malam, dengan masih mengantuk Mutia menuruni anak tangga dengan mata yang sedikit terpejam Mutia terhuyung ke depan karena kakinya terkilir sehingga Mutia jatuh. Suara jeritan penghuni rumah begitu memekik membuat Mutia merasa bersalah karena terlalu teledor.
"Anda tidak apa-apa, Nona?"
"Aw, sakit sepertinya kakiku terkilir," ucap Mutia mencoba menggerakkan kakinya.
"Sapri! Siapkah mobil kita ke rumah sakit."
"Tidak, tidak. Panggil tukang urut saja, ini hanya terkilir."
"Anda yakin?"
Akhirnya Mutia harus makan di kamarnya, ia harus ditopang tiga orang untuk sampai ke kamarnya, memalukan sekali tubuhnya ini menyusahkan banyak orang.
Kaki Mutia sedang diurut oleh seorang wanita paruh baya yang memiliki tenaga yang kuat, Mutia mengaduh bahkan menjerit ketika kakinya diremas-remas, masih untung Mutia jatuh saat sudah dianak tangga paling bawah entah jika di tengah dengan bobot tubuh sebesar itu, pasti akan fatal jadinya. Mutia meringis menahan sakit.
"Sabar ya, Non." Ibu Nirah sang koki ikut meringis. Mutia merasa bersalah membuat seisi rumah khawatir karena kecerobohannya.
"Ga apa-apa ini mah, cuma keseleo," ucap tukang urut.
"Terima kasih," ucap Mutia.
__ADS_1
Lia datang memberikan ponselnya karena Bimo menghubungi dan Lia mengantar tukang urutnya keluar karena sudah selesai mengurut kaki Mutia.
"Halo?"
"Halo, kamu baik-baik saja, Mutia. Aku dengar kamu terjatuh."
"Iya, aku baik-baik saja hanya terkilir."
"Apa aku harus pulang?"
"Bisakah?" Sayang tidak ada jawaban dari Bimo. "Aku bercanda, Mas. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku baik-baik saja."
"Maaf tidak bisa menemani kamu, apa kamu dilayani dengan baik?"
"He'em."
"Syukurlah, anggap saja mereka keluargamu, mereka orang-orang baik."
"Iya. Terima kasih." Mutia tertunduk. Meski tidak ada cinta tapi Mutia berharap suaminya ada di rumah.
"Baiklah, aku harus pergi. Cepat sembuh, ya."
Mutia tidak menjawab, Ia justru menangis tergugu, membuat Lia mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Mutia. Hatinya sedih menikah tapi tidak seperti seorang istri, dari awal melamar, menikah mereka belum pernah berbicara dengan waktu yang cukup lama.
Tanpa Mutia sadari, ponselnya belum di matikan membuat Bimo mendengarkan Mutia yang menangis, apa sangat sesakit itu kakinya, Bimo sangat khawatir. Bimo mematikan ponselnya setelah suara tangis itu mulai menghilang mungkin Mutia sudah tertidur.
__ADS_1
Seandainya bisa diwakilkan, Bimo lebih memilih pulang ke rumah menjaga Mutia, ia tidak hanya menikahinya ia juga harus menjaga Mutia dengan baik karena itu wasiat dan pesan yang di minta orang tua serta mertuanya.
Bimo orang yang hidupnya lurus saja, selama ini ia hanya menerima dan patuh dalam menjalankan hidupnya banyak keinginannya yang lepas dari genggamannya dan Bimo merelakannya, karena bagi Bimo hidup itu adalah pilihan, selama pilihan yang ia pilih masuk akal dan bisa diterima Bimo akan menjalaninya begitu juga dengan pernikahannya dengan Mutia yang diwasiatkan oleh Bayu untuknya.