
Mutia menaruh ponselnya di atas meja setelah Bimo mengirimkan pesan. Selain Bimo, pesan yang lain baru saja masuk, Mutia melirik nomor yang tidak asing, nomor yang ia masih hapal meski sudah dihapusnya. Dirga mengirim pesan seperti dulu, menanyakan kabar, sudah makan atau belum dan pesan lain yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Mungkin dahulu Mutia senang mendapatkan pesan itu tapi tidak kali ini, ia merasa jijik.
"Kenapa tidak di baca?" Tiba-tiba saja makhluk menyebalkan itu muncul di dekatnya, membuat Mutia terkesiap.
"Aku sedang sibuk, ada keperluan apa sehingga kamu datang kebagian penjualan?"
Dirga tidak menjawab, ia malah berlalu pergi meninggalkan Mutia, pria itu menghilang saat berbelok di pantry. Ruangan mereka berdua hanya dibatasi dengan pantry. Mutia memutar bola matanya jengah, dasar makhluk tidak jelas.
Mutia merasa aneh, seperti ada udara dingin menusuknya di punggung, Mutia memutar kursinya sambil merentangkan tangannya, sedang melihat-lihat sekelilingnya dan matanya tertuju pada wanita yang kini menatapnya sinis, Lala, sepertinya ia baru saja melihat Dirga menemui dirinya. Mutia menarik sudut bibirnya serta mengangkat kedua alisnya membuat Lala menaikkan bola matanya dengan mulut mencibir. Mutia terkekeh, menjijikan sekali rasa cemburu dari mantan sahabatnya itu.
Dan akhirnya Mutia akan memanfaatkan peluang untuk membuat Dirga berlutut di kakinya kemudian menghempaskannya seperti Dirga pernah melakukan dirinya beberapa bulan lalu.
Mutia mengambil ponselnya dan membalas chat dari Dirga. "Sepertinya aku kangen masakan khas Sunda, apa kamu bisa mentraktirku makan di sana siang ini?"
Tanpa butuh lama, dengan sekian detik Dirga membalasnya. "Tentu saja, Sayang." Ugh, rasanya asam lambung Mutia naik turun membaca kata sayang dari Dirga.
***
Makanan khas Sunda sudah disajikan di atas meja, wajah Dirga penuh kebahagiaan dapat melihat Mutia berada di hadapannya.
"Makanlah, Sayang. Pesan apa saja yang kamu mau, oke?"
"Apa kamu sedang menjalankan akal bulusmu lagi?"
Alis Dirga beradu karena bingung. "Maksudnya?"
"Kamu sedang berencana membuatku gemuk lagi?"
"Astaga, tidak, tidak. Bukan begitu, Sayang. Maaf, ya?" Dirga menarik tangan Mutia. "Maafkan aku telah bersikap buruk padamu selama ini."
__ADS_1
"Ya, baiklah." Mutia menarik tangannya. "Kita berjalan pelan-pelan saja. Aku tidak mau berurusan dengan Lala, kamu urus dia dengan benar."
"Kamu jangan khawatir, aku akan segera memutuskannya."
Dirga tampak senang, bibirnya tidak berhenti tersenyum. Akhirnya wanita yang sudah hadir di hatinya kini bisa kembali padanya, ia sungguh menyesal telah bersikap buruk pada Mutia selama ini.
Lain dengan Mutia, ia sedang menunggu kedatangan Lala. Dengan sengaja Mutia memberi tahu pada Lala bahwa dirinya akan makan siang bersama Dirga, sudah pasti balasan chat Lala adalah kalimat makian untuknya.
Benar saja, kini Lala telah memasuki restoran di mana Mutia dan Dirga makan siang. Di ambang pintu, Lala berdiri dengan mata yang terus mengitari pandangan mencari Mutia dan Dirga.
Mutia tersenyum seringai melihat kedatangan Lala, kemudian memberi isyarat pada Dirga yang duduk di hadapannya. Dirga kemudian memutar tubuhnya ke arah yang di maksud Mutia.
Mutia justru mengangkat tangannya ketika Dirga sedang memperhatikan Lala. Dengan cepat Lala menoleh, mata Lala melebar, darahnya mendidih, dengan langkah cepat Lala mendatangi meja Dirga.
Dirga berdiri dan melindungi Mutia ketika Lala mengambil minuman tamu yang duduk tak jauh dari meja Mutia, air itu ia tuang sehingga kemeja putih Dirga basah.
"Kamu gila!" Teriak Dirga tepat di wajah Lala.
"Kamu harus ingat, La, Mutia juga kekasihku."
Mutia memutar bola matanya, di bergumam kesal di belakang tubuh Dirga karena muak mendengar kata kekasih dari mulut Dirga. Mutia bangkit dari kursinya, juga menggantungkan tasnya di bahu.
"Aku sudah kenyang," ucap Mutia santai.
Dirga memutar dengan masih melindungi Mutia dari Lala. "Ayo kita kembali," Ucapannya.
"Dirga!" Teriak Lala.
Semua pengunjung restoran memperhatikan mereka bertiga dengan suara berbisik, memang memalukan tetapi Mutia senang akhirnya Lala dapat merasakan apa yang pernah ia rasakan. Lala semakin murka bahkan menarik tangan Dirga ketika Dirga menggenggam tangan Mutia untuk membawa Mutia keluar dari restoran, dengan cepat Dirga menepis tangan Lala.
__ADS_1
Lala mengikuti sampai keluar restoran bahkan hampir menarik rambut Mutia ketika Dirga membukakan pintu mobil untuk Mutia, untung saja pantulan kaca jendela mobil menyelamatkan Mutia dari aksi Lala, sehingga kini justru Mutia dengan cepat sudah menarik rambut Mutia dengan tangan kanan sedang tangan satunya menggenggam tangan Lala yang tadi akan menarik rambutnya.
"Lala!" Dirga yang kesal bahkan mendorong tubuh Lala hingga terpojok ke mobil sampai tangan Mutia terlepas dari rambut lala. "Cukup, La. Hubungan kita sudah selesai."
"Apanya?! Aku tidak pernah merasa kita putus, bahkan beberapa hari lalu kita masih bercinta, Dirga."
Mutia terkejut hingga menganga sebentar kemudian kembali menutup mulutnya. Ucapan Lala justru memancing amarah Dirga.
"Hentikan omong kosongmu!"
"Sudah hentikan, Dirga. Semua melihat ke arah kita." Mutia berbisik.
Dirga melihat sekeliling, ia melepaskan cengkraman tangannya dari Lala, bahkan beberapa orang di sana sedang merekamnya. Dirga membuka kembali mobilnya dan menyuruh masuk Mutia, dengan kasar Dirga menarik tubuh Lala agar tidak mendekati mobilnya. "Kamu jangan melewati batas, aku bisa lebih kasar dari ini." Ancam Dirga dengan tatapan marah.
"Dirga," lirih lala. Mereka segera meninggalkan tempat itu.
Tanpa Mutia sadari, seorang wanita sedang mempublish rekaman video perkelahian Dirga dan Mutia ke media sosial Instagram, dengan caption pelakor. Dengan senyuman liciknya ia merasa telah mendapatkan durian runtuh sehingga momentum ini dapat ia jadikan senjata menghancurkan pernikahan Mutia.
Sedangkan di tempat Mutia, wajah Dirga masih terlihat kesal. Kedua kalinya Mutia mendapatkan ekspresi Dirga yang sedang marah, ia tidak pernah melihat Dirga seperti ini saat mereka berdua pacaran dulu.
"Kenapa kamu jadi pemarah?" Ucapan Mutia mampu membuat air kesal di wajah Dirga berubah.
"Entahlah." Dirga terdiam sesaat. "Mungkin karena sudah di ujung kepala rasa kesalku hingga aku jadi pemarah seperti sekarang."
"Jujur aku takut sekali melihat kamu dengan ekspresi marah seperti sekarang, sangat tidak cocok denganmu."
"Maaf, sayang." Dirga meraih tangan Mutia, menggenggamnya erat.
Tapi Mutia segera melepaskannya. "Kamu sedang menyetir, Dirga. Jangan buat kita celaka di jalan."
__ADS_1
"Baiklah." Dirga tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Mutia.
Pandangan Mutia teralih ke ponselnya, notifikasi terlihat di layar ponsel yang tiba-tiba menyala, suaminya meninggalkan pesan yang kesekian kalinya tanpa Mutia balas. Dirga sempat melirik dan tersenyum, hatinya makin berbunga karena Mutia lebih memilih mengacuhkan pesan dari suaminya.