
Hendra membawa serta Maria dan Devi datang membesuk Mutia ke rumah Bimo saat sore hari. Mutia sudah kembali ke rumahnya pagi tadi, karena kondisi tubuhnya baik-baik saja kecuali tenggorokan dan kulitnya yang menimbulkan bercak merah.
Bimo menatap penuh amarah pada Devi, ia sudah tahu dari Tio tentang kerjasamanya dengan Lala untuk melukai Mutia. Bimo mengepal kuat, seandainya Devi bukan wanita mungkin ia tidak akan sesabar sekarang.
Tak banyak yang mereka bicarakan saat menjenguk Mutia, karena Mutia belum bisa di ajak bicara. Lia yang juga tahu kejahatan Devi tidak lepas dari Mutia, ia begitu khawatir Kaka tiri dari bosnya akan melukai kembali.
Sedangkan di tempat lain, Dirga baru saja memaki habis-habisan Lala. Dirga bahkan mengancam akan menjebloskan Lala ke penjara.
"Aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu, Dirga. Kamu meninggalkan aku demi wanita yang sudah menikah."
"Seandainya kamu tidak mendorong aku untuk jadi kekasihnya, mungkin aku tidak akan jatuh cinta padanya."
"Aku mohon, Dirga. Kembalilah padaku, aku sangat mencintai kamu. Kamu tidak akan bisa mendapatkan Mutia karena dia sudah menikah."
"Aku tidak perduli, aku akan membawanya pergi dari sini."
Sudah dua hari Dirga tidak bisa menghubungi Mutia, bahkan sepertinya Mutia memblokirnya. Setelah kembali dari kosan Lala, Dirga mondar mandir di dekat kediaman Mutia dan Bimo, berharap ada kesempatan untuk bertemu dengan wanita pujaannya.
Bukannya Mutia yang ia lihat melainkan Tio yang kini sudah mengetuk jendela mobilnya. Dirga segera melajukan mobilnya, entah muncul dari mana pria itu, tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
Bimo yang mengetahui kedatangan Dirga secara diam-diam membuatnya semakin khawatir, bukan saja keselamatan Mutia bisa saja hubungannya dengan istrinya juga bisa hancur jika Dirga terus berusaha mengambil hati Mutia.
Suara ponsel milik Bimo terdengar, ia merogoh saku celana pendek berwarna hitam, terlihat nomor tidak di kenal pada layar ponselnya.
"Halo?"
"Halo, Mas."
Itu suara Devi yang sedikit bernada manja, Bimo heran kenapa kakak iparnya itu menelponnya, sedangkan beberapa jam yang lalu mereka baru saja bertemu. Lagi pula ada urusan apa sampai wanita itu menelponnya.
__ADS_1
"Devi?" Bimo memastikannya.
"Iya, Mas. Ini aku."
Tio yang sejak tadi masih berada di rumah Bimo datang mendekati atasannya dan menunjukkan tulisan dari ponsel miliknya untuk di baca oleh Bimo, Bimo melirik sekilas dan menyunggingkan senyum.
"Ada apa?" Bimo menekan tombol speaker agar bisa di dengar Tio sembari berjalan masuk ke dalam ruang kerja yang di ikuti Tio kemudian menutup rapat ruangan tersebut. Mereka khawatir pembicaraannya dapat di dengar yang lain.
"Kenapa kalian sebagai suami istri tidur terpisah?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Devi membuat Bimo terbelalak, apa hanya Devi yang menyadarinya atau mertuanya juga.
Tio yang sejak tadi ikut mendengarkan mengetik kembali sebuah kalimat kemudian menunjukkan kepada Bimo. Bimo melirik, apa jawaban ini tepat dan Tio seperti dapat membacanya kemudian mengangguk.
"Aku belum bisa mencintai Mutia, butuh waktu untuk kami berdua."
Di sebrang sana Devi tersenyum puas, rasa penasarannya terjawab ketika melihat meja rias Mutia tidak ada barang laki-laki sehingga ia segera menyimpulkan kalau adik tirinya itu belum berhubungan layaknya suami dan istri.
"Mas, sebaiknya kamu menceraikan istrimu yang berselingkuh darimu."
"Rupanya, mas Bimo sudah tahu,ya? Ah, tentu saja pasti video yang sudah hilang itu, Mas sudah melihatnya." Devi terdiam sesaat. "Mereka berdua sepasang kekasih sejak kalian belum menikah. Kau harus menceraikannya, Mas."
"Lalu, bagaimana denganku?" Bimo berakting sedih.
"Aku ada di sini, Mas. Mencintaimu dalam diam."
Bimo dan Tio tersenyum, Devi masuk perangkapnya. "Baiklah, bagaimana jika kita juga berselingkuh? Seperti Mutia."
Devi menjerit senang dengan suara yang ia sembunyikan mengenakan bantalnya, ia tidak menyangka mendengar jawaban dari Bimo, jika tahu semudah ini mungkin sudah sejak lama ia lakukan.
"Dengan senang hati, Mas. Aku akan membuat kamu lebih mengharapkan aku dari pada istrimu," ucap Devi.
__ADS_1
Bimo memutuskan ponselnya dan memijat ujung kening, bisa-bisanya Kakak iparnya berkata seperti itu, sekali lagi hatinya berkata. "Pantas saja Mutia ingin membalas dendam." Sepertinya Mutia hidup di lingkaran tidak sehat selama hidupnya.
"Tio, buat rencana untuk menemui Devi, aku tidak sabar untuk segera memasukkannya ke penjara. Dan setelah ini pulang dan beristirahatlah."
"Baik, Tuan." Tio meninggalkan ruang kerja milik Bimo.
Bimo juga beranjak naik ke kamar Mutia, Bimo membuka kamar dan melihat istrinya sedang memandang langit dari kamarnya.
"Kamu belum tidur?"
Mutia menoleh dan tersenyum manis kemudian kembali menatap langit, Bimo masuk dan mendekatinya lalu duduk tepat di samping istrinya.
"Sepertinya bintang lebih menarik perhatianmu dari pada aku."
Mutia tersenyum seraya tertunduk malu kemudian menggeser duduknya untuk menghadap ke arah Bimo. "Kenapa? Apa kamu cemburu pada bintang," ucap Mutia berbisik karena pita suaranya masih terasa sakit.
"Itu karena kamu lebih tertarik pada bintang dari pada aku." Bimo menyentuh hidung Mutia dengan jarinya. "Apa aku boleh menemanimu malam ini, Mutia?"
Mendengar pertanyaan dari Bimo membuat pipi Mutia merona, kenapa ia bertanya seperti itu, dirinya kan istrinya kenapa harus meminta izin. Mutia mengangguk seraya tersenyum. Bimo mencubit pipi Mutia mesra, bahkan Bimo tak sabar dengan kilat mengecup pipi istrinya membuat Mutia semakin memerah karena malu.
"Astaga, istriku sangat lucu," ucap Bimo dalam hatinya. Mengapa bisa wajahnya sangat memerah seperti itu mirip seperti kepiting rebus.
"Ayo, segera tidur. Besok kamu harus bekerja, Mas," ucap Mutia dengan suara sedikit serak. Sepertinya Mutia memaksa untuk bicara meski terasa sangat sakit di tenggorokan, ia harus melakukannya untuk menghindari rasa gugupnya.
Bimo justru sangat gemas sekarang, bahkan ia menarik tubuh Mutia ke dekatnya, bahkan kini ia menyentuh bibir Mutia dengan bibirnya.
Mata Mutia membola, ia tidak menyangka mendapatkan serangan mendadak dari Bimo, ia menahan dada bidang milik Bimo agar suaminya tidak melakukan hal yang lebih. Tubuhnya belum siap menerimanya.
Melihat mata Mutia yang melebar membuat Bimo terkekeh geli, kenapa istrinya ini sangat menggemaskan jika istrinya itu sebuah puding sudah pasti Bimo segera melahapnya. Bimo mendorong tubuh Mutia untuk berbaring dan Bimo memeluknya erat, ia tidak ingin melakukan hal yang lebih lagi karena ia sangat gemas kepada istrinya sekarang.
__ADS_1
"Mas, kita harus berbaring dengan posisi yang benar, jika tertidur seperti ini tubuh kita akan terasa sakit saat esok hari."
"Kamu benar, Sayang." Bimo bangkit dan menarik tangan istrinya untuk bangun. "Tidurlah, aku harus mengganti pakaianku terlebih dahulu."