Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Demi Mutia


__ADS_3

Tio mendapatkan bukti CCTV dimana Lala yang memberikan minuman kepada Dirga dan Mutia, Tio segera menemui Lala di kosannya.


Lala terlihat gemetar saat Tio menunjukkan video melalui ponsel, keringat pun terlihat membasahi keningnya, Lala tidak bisa membantah kalau orang yang di dalam video itu bukanlah dirinya.


"Ba-bagaimana kabar Mutia?" ucap Lala terbata.


"Kalimat apa yang ingin anda dengar?"


Lala bingung dengan kalimat tanya yang di lontarkan oleh Tio, karena bukannya menjawab pertanyaannya tapi pria berpakaian serba hitam itu justru kembali bertanya.


"Maksud anda apa?"


"Saya tahu, kalau anda tidak menyukai nona Mutia sejak lama, aku mendapatkan video lain selain vidio bubuk kacang."


Lala mengernyit, ia bingung. Memangnya ada video apa lagi selain insiden bubuk kacang.


Tio terkekeh. "Berkas nona Mutia yang anda tukar." Perkataan Tio mampu membuat mata Lala terbuka lebar karena terkejut. Tio terkekeh lagi karena ekspresi Lala. "Secara kebetulan ada orang baik yang memberikannya kepada saya dan orang baik itu siap untuk menjadi saksi jika kasus ini diproses secara hukum."


"Anda jangan main-main?" Lala terlihat panik. "Bukan aku yang memberikan bubuk itu, ia menjamin jika Mutia tidak akan sampai mati," ucapnya gemetar.


"Siapa orang itu?" Tio bicara penuh penekanan seraya menatap tajam ke arah Lala.


"Kaka tirinya."


***


Mutia mencium aroma rumah sakit saat ia membuka matanya, ia sempat mengangkat tangannya dan melihat jarum infus tertancap di punggung tangannya.


Tenggorokannya terasa kering, ingin rasanya ia meminum seteguk air. Tapi melihat Bimo yang duduk bersandar seraya terpejam di dekatnya membuat Mutia tidak bisa membangunkannya. Wajah Bimo terlihat lelah, Mutia berpikir kalau Bimo mungkin saja kurang istirahat karena harus menjaganya.


"Lala, darimana ia tahu jika aku alergi kacang? Hanya keluargaku yang tahu. Apa ka Devi ada hubungannya dengan ini?" Monolog Mutia.


Mutia kesal, selama ini ia terlalu lambat untuk balas dendam pada mereka, nyawanya hampir saja melayang. Ia harus segera melenyapkan Devi dan Maria dari kehidupannya dan papahnya. Devi sudah mulai bertindak bisa saja Maria juga sudah mulai melakukan aksinya kepada Hendra papahnya.


Tapi, apa yang harus Mutia lakukan, ia tidak punya rencana apapun untuk menghancurkan Devi dan Maria. Mutia juga harus segera menyingkirkan Dirga dan Lala, mungkin berhenti dari pekerjaan sudahlah cukup untuk mereka.

__ADS_1


"Kau sudah bangun rupanya?"


Mutia melirik pada Bimo yang mulai mendekat, Bimo memegang tangan istrinya dan mengecupnya. Mutia sangat sedih melihat Bimo yang tampak lelah.


"Kenapa, apa ada yang sakit?" ucap Bimo berbisik.


Mutia memejamkan mata, hingga air matanya mengalir.


"Kenapa sayang?" Bimo mengusap air mata Mutia dengan ibu jarinya. Mutia tetap diam karena tenggorokannya begitu terasa sakit.


"Apa kamu mau minum?" Mutia mengangguk pelan.


Dengan telaten Bimo memberi Mutia minuman menggunakan sendok sedikit demi sedikit, Mutia merasakan tenggorokannya seperti tertusuk duri ketika air masuk melalui tenggorokannya.


Bimo tampak nyeri melihat istrinya menelan air sekuat tenaga bahkan tangannya hingga menggenggam seprai, Bimo jadi kesal melihat istrinya yang tersiksa, sungguh tega orang-orang itu hingga membuat istrinya seperti itu, bibir Mutia pun di olesi dengan madu agar tidak terlalu kering karena kurangnya air yang masuk melalui mulutnya.


"Sabar ya, Sayang. Kamu harus kuat." Bimo mengecup kening Mutia. "Tadi papa kesini, mungkin kamu lupa karena kamu masih dalam pengaruh obat, aku menyuruh papa pulang untuk beristirahat dan meminta besok saja papa kembali setelah pulang bekerja." Mutia mengangguk singkat.


Suara ketukan pintu terdengar, Lia masuk membawa tas. Bimo meminta Lia untuk membawakan keperluan Mutia selama dirawat di rumah sakit.


"Sama-sama."


"Aku mau ke toilet," ucap Mutia dengan suara yang hampir tidak terdengar. Lia segera tanggap karena isarat dari Mutia, dengan cepat Lia membantu Mutia.


Bimo sengaja ke luar kamar saat Mutia bersama Lia, ia menghubungi Tio, ia ingin tahu sudah sejauh mana tindakan Tio. Bimo mengepal kuat tangannya ketika Bimo mengetahui siapa yang sudah mencelakai istrinya.


"Apa maksudmu?"


"..."


Bimo tertunduk, ia mencubit ujung keningnya, pantas saja malam itu Devi terlihat sedang menggodanya, ternyata Kaka iparnya sudah menaruh hati padanya.


"Apa kamu punya rencana, Tio?"


"..."

__ADS_1


"Akan aku lakukan apapun untuk Mutia, aku berharap bisa mengirimnya ke penjara."


Bimo menutup ponselnya karena Lia sudah keluar dari kamar Mutia, Bimo masuk ke dalam kamar dan melihat Mutia sedang duduk di ranjangnya. Dengan senyum manisnya Bimo mendekati istrinya yang kini membalas senyum. Bimo menarik kursi ke dekat ranjang istrinya, duduk di atas kursi dan mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari.


"Kamu sudah makan?" Tanya Mutia dengan gerak bibir yang sudah payah ia sampaikan.


Bimo balas dengan anggukan seraya mencium tangan istrinya, seharusnya malam ini mereka akan berkencan sesuai janjinya tadi pagi.


"Istirahatlah, sayang. Sudah hampir tengah malam."


Mutia mengikuti perintah suaminya, ia baringkan tubuhnya meski ia sudah tidak mengantuk. Mutia sempat melirik ke atas meja, mencari ponselnya tapi ia tidak menemukannya.


"Kamu, mencari ponselmu?" Mutia mengangguk. "Aku simpan, karena ponselmu terlalu ramai dengan pesan cinta dari Dirga."


Mutia terkekeh, meski susah payah hanya ekspresi dari tubuhnya yang bergerak geli mentertawakan suaminya yang terlihat cemburu, Mutia meminta suaminya ikut berbaring di atas ranjang yang sama dan Bimo segera merebahkan tubuhnya yang kini di rangkul mesra oleh Mutia. Bimo pun membalas pelukan Mutia serta mendaratkan kecupan di kening istrinya.


Sedangkan di rumah Hendra, Maria dan Devi sedang kesal karena mendapatkan kabar bahwa Mutia telah kembali sadar.


"Bagaimana ini, Bun?"


"Bunda juga tidak tahu, kamu benar-benar gegabah Devi seandainya Hendra tahu kalau kamu pelakunya bisa di depak kita dari rumah ini."


"Bodoh sekali si Lala itu, kerja seperti itu saja tidak becus."


"Besok Bunda harus bagaimana, Hendra mengajak bunda untuk menengok putrinya itu, argh menyebalkan."


"Aku ingin ikut, Bunda. Aku ingin melihat wajah tampannya mas Bimo."


"Kamu ini sudah gila! Apa kamu tidak khawatir ketahuan kalau kamu yang telah mencelakai istrinya."


Devi cemberut mendapatkan intonasi tinggi dari Maria, baginya mendapatkan Bimo adalah segalanya meskipun harus melenyapkan Mutia dari dunia ini.


Maria segera meninggalkan kamar putrinya, perasaannya semakin khawatir melihat Devi yang bertindak tanpa berpikir. Ia harus segera mencari cara supaya putrinya selamat dari kekacauan yang sudah di buat.


Maria menuju pantry, ia membongkar kotak obat yang berada di atas kulkas, setelah menemukannya ia menelan obat tersebut, entah obat jenis apa yang telah Maria telan, kemungkinan itu obat penenang.

__ADS_1


__ADS_2