Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Dejavu


__ADS_3

"Sayang, bangunlah. Tidak seru jika kamu tertidur." Mutia merasa ada yang mencubit pipinya.


Mutia membuka mata perlahan, ia terheran dengan rasa dari tubuhnya seperti dejavu. Tubuhnya terasa panas, jantungnya berdebar dan napasnya tersengal.


"Om irwan!" Mutia menendang tubuh Irwan hingga terjatuh.


"Sialan!" Irwan bangkit dan menubruk tubuh Mutia di atas ranjang. Kepala Mutia masih terasa pusing karena alkohol.


"Kalau aku tidak melepaskan diri, dia pasti akan memperkosaku dan papah akan memergokiku di pagi harinya."


Mutia menahan wajah Irwan yang mencoba untuk menciumnya, irwan terus saja memonyongkan bibirnya.


"Iiih, brengsek!" Mutia terus meronta-ronta dengan kaki yang terus bergerak berusaha keluar dari Kungkungan Irwan. Payudara Mutia juga diremas dengan sangat kuat, hingga Mutia menjerit kesakitan.


"Argh!" Mutia membenturkan kepalanya dan mengenai hidung Irwan.


"Sialan!" Hidung irwan keluar darah, sepertinya kepala Mutia terbuat dari beton. Irwan bangun dan mencoba mengambil tisu yang ada di meja, sedangkan Mutia berusaha keluar dari kamar hotel itu.


Ternyata Mutia kurang cepat dari Irwan, rambut Mutia berhasil Irwan tarik hingga Mutia jatuh terlentang ke lantai, Irwan berdiri dihadapan Mutia dengan tubuh polos tanpa pakaian. Mutia membuang muka karena merasa jijik namun muncul ide untuk menyerang ******** Irwan.


Irwan menjerit dengan keras dan mendarat dengan lututnya sembari memegang ***********, Mutia mendorongnya hingga Irwan meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Mutia berhasil keluar dari kamar tersebut dengan jalan sempoyongan. Namun Mutia melihat tubuh tegap di kejauhan yang menghadap lift, Mutia yakin kalau pria itu yang membuatnya pingsan, Mutia memilih jalan lain.


Mutia hanya menemukan jalan buntu sampai di ujung, sedangkan tangga darurat ada di dekat lift, Mutia mencoba mengetuk semua kamar yang paling dekat dengannya untuk menumpang sembunyi atau meminta bantuan. Sampai akhirnya ada pintu yang sedikit terbuka sepertinya si pemilik kamar hendak keluar dari kamarnya. Mutia mendorong pintu dan memaksa masuk ke dalamnya.


"Hei!" Teriak pemuda bertubuh tinggi.


"Tuan, aku mohon tutup pintunya." Pinta Mutia memohon dengan kedua tangan yang disatukan di depan dada.


"Mutia lari! Cepat cari!" Teriak Irwan memerintahkan anak buahnya, suaranya dapat terdengar oleh Mutia, hingga Mutia menutup mulutnya sendiri. Pria pemilik kamar menutup pintunya secara perlahan ketika Irwan melewati kamarnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan." Kaki Mutia terasa lemas karena sudah tidak bisa lagi menahan tubuhnya sendiri ia merosot ke lantai, ia mulai menangis tidak menyangka dirinya harus mengulang hidupnya lagi, melihat pergelangan tangannya yang tidak ada luka di sana, dia bingung tidak mengerti, apakah tuhan memberikannya kehidupan kedua untuknya. Pria itu ikut berjongkok di hadapan Mutia.


"Siapa dia?" tanyanya pada Mutia dengan suara serak dan berat.


"Om Irwan," ucap Mutia seraya mengusap air matanya. "Bunda dan ka Devi menjual aku padanya."


Pria itu mengerutkan alis, ia heran bagaimana bisa orang tua menjual anaknya.


"Tuan, bisakah aku meminta minum?" Pinta Mutia, karena sejak tadi tubuhnya terasa panas dan tenggorokannya haus.


"Ayo, berdirilah dulu." Pria itu membantu Mutia berdiri dan membawanya untuk duduk di sofa, pria itu menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya pada Mutia.


"Terima kasih." Mutia meneguk air yang terasa segar tapi tidak menghilangkan rasa dahaganya.


"Bisa aku minta lagi, tuan?" Mutia menyodorkan gelasnya dan pria itu mengambil gelas dari tangan Mutia. Saat menuangkan air ke dalam gelas, pria itu melirik ke arah Mutia yang terlihat kepanasan karena di wajahnya penuh keringat.


"Tuan, apa AC-nya mati? Panas sekali kamarmu?" Pria itu menunjuk ke arah AC yang menyala. "Ternyata menyala, ya? Tetapi kenapa tubuhku masih terasa panas."


"Jangan tuan, itu pria yang tadi."


Tangan pria itu menaruh tangannya di kening Mutia, ia khawatir karena mungkin tamu yang tidak diundangnya sedang sakit.


"Apa kamu habis meminum sesuatu?," tanya si pria.


"Mama memaksa aku meminum cairan dengan botol berwarna biru," ucap Mutia membuat mata pria itu terbuka lebar. "Sepertinya itu obat perangsang."


Suara ketukan semakin keras dari arah pintu. Pria itu menarik tangan Mutia dan membawanya ke ranjang besar kemudian menutup tubuh Mutia dengan selimut.


"Kau tunggu di sini dan jangan bergerak," pintanya dan Mutia mengangguk.

__ADS_1


Pria itu membuka kemeja hitamnya hingga bertelanjang dada. Kemudian membukakan pintu, terlihat dua orang yang salah satunya sedang meringis sakit.


"Siapa?"


"Permisi tuan, apa ada seorang gadis yang masuk ke kamar anda?"


"Ada, sekarang dia sedang kelelahan setelah kami bercinta, jangan bilang kamu mau join? Dia pacarku." Kalimat akhir penuh penekanan seraya membuka lebar matanya.


"Maaf, saya permisi." Irwan dan ajudannya sempat melirik ke dalam.


Pria pemilik kamar menutup pintu dan memastikan kedua orang itu sudah pergi kemudian mendekati Mutia.


"Dia sudah pergi, keluarlah setelah dirasa aman."


Mutia tidak menjawab hanya suara napas berat di balik selimut membuat pria itu keheranan sehingga ia membuka selimutnya. Tubuh Mutia sudah basah dengan keringat, napasnya tak bisa lagi terkontrol, obat perangsang yang diberikan Maria sudah bekerja sejak tadi.


"Tuan, tolong aku. Aku gemetar, argh sial."


Meski tubuh Mutia gendut dan berpipi chubby. Tapi, wajah cantik Mutia tidak di ragukan lagi. Kulitnya mulus, putih, pipinya merona bahkan bibir bawahnya sedikit tebal membuat pria di hadapan Mutia menelan salivanya.


Tatapan Mutia yang sendu membuat jantung pria itu ikut berdebar, entah kenapa pria itu menyentuh pipi Mutia dan membuat Mutia mengeluarkan suara lirih. Pria itu menyentuh bibir bawah Mutia dan mulai menciumnya Mutia pun menikmati sentuhan lembut dari pria yang tidak ia kenal.


Pria itu melepas ciumannya dan menatap sendu wajah Mutia, karena tidak ada penolakan dari Mutia, ia pun mulai bercinta dengan nafsu yang menggebu.


"Argh, sakit."


Rintihan Mutia membuat pria itu tertahan, Pria itu terkejut karena wanita dalam Kungkungannya ternyata masih gadis, ia sangat tahu seperti apa wanita yang sudah tidak gadis lagi karena dia pernah bercinta dengan mantan kekasihnya yang sejak awal sudah tidak perawan.


Si pria sempat berhenti sesaat karena merasa bersalah telah merenggut kegadisannya. Tapi, karena cengkraman tangan Mutia seakan menolak untuk berhenti, membuat pria itu meneruskan percintaan mereka.

__ADS_1


Pagi harinya Mutia menggeliat dan ada nyeri di bagian vitalnya ia meringis karena perih. "Bodoh, kenapa harus terulang lagi."


Mutia mengutuk dirinya, menghindari pemerkosaan malah tidur dengan pria yang tidak dikenalnya, ia mencoba mengingat hari kemarin dan teringat dengan papahnya.


__ADS_2