Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Tato yang sama


__ADS_3

Mutia pamit pulang, suami istri itu tidak bisa menginap karena esok akan bekerja, Hendra meminta anak dan menantunya untuk sering-sering berkunjung. Maria dan Devi juga terlihat ramah kepada Bimo, tidak kepada Mutia.


"Terima kasih, Mas. Aku senang sekali dapat bertemu papah."


Bimo menoleh sebentar dan tersenyum sembari mengemudikan mobilnya. Melihat Mutia bahagia seperti itu seakan memberikan istrinya seisi dunia, Mutia benar-benar cantik, ingin sekali Bimo menyentuh pipinya yang kemerahan. Mengingat beberapa bulan lalu, wajah Mutia yang merona dengan tatapan sendu membuatnya tidak pernah bisa tidur.


"Kenapa, Mas? Apa kamu tidak sehat kenapa telingamu memerah." Mutia menyentuh telinga suaminya. Bimo dengan cepat menggenggam tangan Mutia, ia malu kepergok sedang berpikir kotor.


Mutia menahan senyumnya, suara yang hening membuatnya takut, takut Bimo dapat mendengar debaran jantungnya, saat tangan mereka bertaut apa Bimo juga merasakan apa yang dirasakan Mutia.


"Mutia?" Mutia menoleh saat Bimo memanggilnya. "Maaf aku tidak bilang, kalau besok aku akan kembali ke Surabaya." Mutia tertunduk sedih, baru juga beberapa hari suaminya itu pulang sekarang malah akan pergi lagi.


"Berapa lama?"


"Kali ini tidak lama, paling cepat satu Minggu."


"Itu lama, Mas." Mutia cemberut.


"Setelah urusan kita selesai, kita akan berkencan, apa kamu mau?"


Mata Mutia berkaca, Mutia mengangguk senang, mengapa tidak. Mutia sumringah mendengarnya, inilah kesempatan untuk mereka saling mengenal, berarti Bimo tidak mempersalahkan tentang kegadisannya yang sudah hilang.


Bimo mencium punggung tangan Mutia, yang ia pegang sejak tadi. Mutia melipat bibirnya, ia bahagia seperti merasa dicintai, Mutia berharap Bimo benar-benar menerimanya sebagai seorang istri, seandainya pria lain Mutia pasti akan diperlakukan buruk bahkan diceraikan.

__ADS_1


Bimo masih terus menggenggam tangan Mutia ketika masuk ke dalam rumah, ia tidak ingin melepas Mutia karena esok ia akan meninggalkan istrinya, Bimo mengantarkan Mutia ke kamarnya, sesungguhnya Bimo ingin sekali tidur bersama istrinya malam ini. Bimo menarik napas panjang ingin memaksa masuk dan memeluk istrinya tapi takut istrinya itu belum siap menerimanya.


"Selamat malam, Mas."


"Malam."


Bimo meninggalkan istrinya dan masuk ke dalam kamarnya, Mutia yang berada di kamarnya terus tersenyum hingga berguling di atas ranjang. Saat dengan Dirga, Mutia tidak merasakan perasaan suka dan cintanya sehebat ini. Mutia mencoba tidur karena esok ia harus bekerja dan juga harus mempersiapkan keperluan Bimo, karena suaminya berangkat ke bandara tidak terlalu pagi sehingga Mutia sempat membantunya mempersiapkan keperluan Bimo.


Lima jam berlalu, tenggorokan Mutia terasa kering, jam menunjukkan pukul tiga pagi, Mutia turun ke dapur untuk minum, ia membuat susu coklat hangat. Mutia kembali ke kamar dengan susu coklat di tangannya, diam mematung ketika melewati kamar Bimo, ingin rasanya Mutia masuk dan tidur di pelukan suaminya, ia menggeleng dan kembali berjalan melewati kamar Bimo, Mutia memilih berdiri di balkon dan menyesap susu hangatnya.


"Kamu, belum tidur?"


"Eh, apa aku berisik sehingga membangunkan kamu, Mas?"


"Kok bisa?"


"Aku memang sulit tidur, kamu sedang apa? Jangan bilang lagi mandangin bintang di langit."


Mutia terkekeh, "Aku memang sedang memandangi langit, Mas. Mau susu hangat?" Mutia mengacungkan gelasnya.


Bimo memegang cangkir dengan kedua tangannya, merasakan hangat dari susu coklat milik Mutia dengan tangan Mutia yang diapitnya. Setelah telapak tangannya menyerap panas ia menaruh kedua tangannya ke pipi Mutia, rasa hangatnya membuat Mutia memejamkan matanya sesaat, ketika Mutia membuka mata, wajah Bimo sedang mendekat tanpa jarak, bahkan napas Bimo menyentuh wajah Mutia.


"Mas." Lirih Mutiara.

__ADS_1


Bimo sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di hatinya, dikecupnya bibir Mutia dalam-dalam. Mutia memegang erat cangkir ditangannya, tangan satunya mengepal kuat. Bimo melepaskan kecupannya memandang wajah Mutia yang sudah seperti tomat, Bimo menarik sudut bibirnya gemas melihat istrinya yang sedang malu.


"Manis rasa coklat," ucap Bimo.


Mutia melipat bibirnya, membuang pandangannya ke arah cangkir di tangannya kemudian meneguk lagi susu hangatnya, sepertinya Bimo hanya terbawa suasana begitu menurut Mutia, ia memutar tubuhnya untuk tidak berhadapan dengan Bimo, ia malu sangat malu mungkin wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus. "Aku masuk dulu, Mas." Mutia berbalik tanpa menunggu jawaban dari Bimo. Ia segera masuk dan menutup pintunya.


Tapi, pintu itu tertahan oleh tangan Bimo, mereka saling bertatap tak bicara, tanpa aba-aba Bimo masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan terus memandang Mutia, mengambil cangkir di genggaman Mutia dan menaruhnya di atas meja dekat pintu. Bimo mendekat dan mencium kembali bibir Mutia yang tebal di bagian bawah sungguh menggoda, Mutia membuka lebar matanya karena tidak mengira Bimo akan kembali menciumnya, kini dengan lebih dalam lagi. Tangan Bimo merangkul pinggang Mutia dan tangan satunya memegang belakang kepala Mutia.


Jantung Mutia berdegup sangat kencang, apa sekarang waktunya? Bimo melepaskan ciumannya membiarkan Mutia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Bimo menyelipkan rambut Mutia ke belakang telinga. Mengusap lembut wajah cantik Mutia, dan mengecup pipi yang pernah chubby. Tak ada penolakan dari Mutia membuat Bimo merasa istrinya telah memberi lampu hijau untuk melanjutkan lebih dalam lagi, Bimo tidak menyiakan kesempatan untuk menyesap kembali bibir istrinya. Ciuman yang terus turun ke leher Mutia hingga istrinya melenguh.


Bimo melangkah maju membuat Mutia terdorong untuk mundur, dengan terus mengecup leher Mutia agresif, tangannya sudah berselancar ke dalam baju Mutia berbahan satin, Mutia menggenggam kaos Bimo. Bimo menghentikan ciumannya ketika Mutia sudah bertabrakan dengan ranjang, Bimo melepaskan baju kaosnya dengan cepat, mata Mutia terbuka lebar, ada tato di lengan Bimo, tato sayap.


Mutia mengingat mundur kejadian malam itu pria dengan tato sayap, matanya memicing itu tato sayap yang sama, Mutia menggeleng meyakini diri kalau tato itu bukan tato yang sama sembari menahan tubuh Bimo.


"Tunggu Mas." Mutia sekali lagi memastikan tato itu, bahkan Mutia menyentuhnya mengingat bentuknya dan ia yakin itu tato yang sama, pantas saja ciuman tadi sedikit tidak asing, karena Mutia tidak pernah merasakan ciuman dengan pria manapun selain pria yang menidurinya malam itu dan Bimo, bahkan Dirga saja belum pernah menciumnya.


"Apa kamu sudah mengingatku?" Mutia mengerutkan alis. "Aku pria yang malam itu tidur bersamamu."


Mata Mutia melebar. "Gak mungkin." Mutia mendorong tubuh Bimo.


"Maaf Mutia, aku sudah lama ingin menjelaskannya, tapi aku belum punya keberanian itu."


Mutia menutup telinga, ia merasa di bodohi. Apa Bimo tidak tahu betapa jatuh harga dirinya waktu mengatakan dirinya sudah tidak gadis lagi.

__ADS_1


"Mutia, tolong dengarkan aku sebentar."


__ADS_2