
Mutia memulai paginya dengan berolahraga sebentar, tadi saat ia keluar dari kamarnya Mutia belum melihat Bimo, mungkin Bimo belum bangun. Setelah tiga puluh menit berlari di atas treadmill Mutia menuju dapur. Ia Membuatkan jus serta kopi yang setiap pagi dibuatkan oleh Nirah, Mutia mulai belajar membiasakan mengurus kebutuhan Bimo.
"Aku mandi dulu, ya." Pamitnya yang di anggukan oleh Nirah.
Setelah Mutia mandi, ia belum juga mendapati suaminya keluar dari kamarnya. Apa jika hari libur ia tidak akan keluar kamar? Begitu pikir Mutia. Bertanya pada Lia juga pelayan tidak ada yang tahu, seperti bukan Bimo biasanya, begitu kata pelayan di rumahnya. Mutia berinisiatif untuk mengetuk kamar suaminya. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan Bimo.
"Mas, Mas Bimo." Mutia memanggil suaminya dengan suara pelan, tidak ada suara yang menjawab. Pintunya tidak dikunci, Mutia perlahan membuka pintu kamar Bimo dan melihat suaminya itu masih tengkurap di atas ranjang. Ini sudah lewat waktu jam sarapan pagi, Mutia harus membangunkannya.
"Mas," Mutia mulai memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam, tidak ada pergerakan dari Bimo. "Mas." Mutia mulai mendekat lagi sampai ke ranjang Bimo. "Mas." Mutia sudah berada di dekat Bimo. Mutia menyentuh bahu Bimo dan menggoyangkannya pelan. "Mas." Tak ada jawaban. Mutia berjongkok di sisi ranjang menatap wajah suaminya yang tampan, ya ampun mas Bimo sedang tidur saja terlihat tampan. Ia mulai menekan jarinya ke pipi Bimo secara perlahan. "Mas."
Bukannya menjawab, Bimo malah merangkul leher Mutia hingga istrinya itu memekik karena terkejut. "Semalam aku tidak bisa tidur, jadi aku sangat mengantuk." Suaranya serak khas bangun tidur.
"Apa yang kamu pikirkan sampai tidak bisa tidur?"
"Entahlah, sampai sakit kepalaku."
Mutia mengerti, tapi jika Bimo tidak sarapan sekarang ia akan terlambat sarapan pagi maka akan bermasalah dengan lambungnya nanti dan akan semakin sakit kepala. "Sebaiknya mas Bimo sarapan dulu, nanti bisa melanjutkan tidurnya." Mencoba melepaskan tangan Bimo dari lehernya tapi gagal.
Bimo mulai membuka matanya, tapi ia menutup kembali matanya. "Apa aku sudah mati?"
"Kenapa mas? Apa kepalanya sangat sakit?"
"Seperti aku sudah berada di surga karena ada bidadari di dekatku."
Mutia memukul pelan bahu Bimo. "Gombal." Membuat Bimo terkekeh seraya bangkit dari tidurnya sekarang ia duduk bersila di atas ranjang dengan rambut yang acak-acakan matanya masih terpejam karena ngantuk.
"Atau aku bawakan saja makanannya ke kamar?"
Sepertinya Bimo benar-benar mengantuk, Mutia akan membawakan saja makanan untuk suaminya ke kamar. Mutia turun ke dapur, mengambilkan makan serta minum, ia taruh semuanya di atas nampan.
"Apa Tuan sakit?"
__ADS_1
"Mas Bimo bilang, semalam ia susah tidur."
Mutia naik ke atas, masuk ke kamar Bimo, suaminya itu sudah kembali berbaring, Mutia menaruh nampan ke atas meja. "Mas." Mutia menggoyang-goyangkan tubuh Bimo sampai ia membuka matanya. "Ayo makan." Ajaknya.
Bimo menyuap makanannya. "Kamu sudah makan?"
"Belum, nanti saya akan makan setelah mas Bimo makan."
Bimo menyendok nasi dan memberikannya pada Mutia. "Buka mulutmu." Mutia menuruti. Akhirnya mereka memakan nasi itu berdua dengan Bimo yang menyuapi.
Setelah selesai, Mutia hendak membawa piringnya ke dapur. Tapi, Bimo sudah menarik istrinya hingga duduk di ranjangnya. Bimo membaringkan kepalanya di atas paha Mutia, sikap manja Bimo membuat jantung Mutia berdegup kencang. "Tolong pijat kepalaku," ucap Bimo. Mutia menggeser duduknya agar lebih nyaman kemudian mulai memijat kepala Bimo.
Kaki Mutia sudah terasa kesemutan, sudah hampir satu jam kakinya menopang kepala Bimo, dengan perlahan Mutia bergeser dan menaruh bantal sebagai pengganti pahanya. Dengan perlahan Mutia meninggalkan kamar Bimo seraya membawa piring kotor ke dapur.
Mutia menghabiskan waktunya di kamar dengan bermain ponsel, melihat foto-foto kebersamaannya saat pembukaan butik Kim. Karena mengantuk Mutia terlelap tidur.
Di dapur Siti dan Nia sedang bergosip membicarakan majikan mereka.
"Aku tidak sengaja mendengar kalau mereka di jodohkan," jawab Siti.
"Memangnya kenapa jika di jodohkan? Banyak kok pernikahan yang di jodohkan tapi mereka tidak tidur terpisah." Protes Nia
"Mungkin mereka berdua tidak saling mencintai."
"Aku harap mereka segera saling mencintai, tidur sekamar, punya anak, iiii pasti anak mereka lucu-lucu karena orangtuanya cantik dan ganteng." gemas Nia.
"Mutia." Suara berbisik terdengar di telinga Mutia, membuat wanita cantik itu membuka matanya.
"Mas." Mutia menjauhkan wajahnya karena wajah Bimo terlalu dekat, Mutia bangkit dan melihat jam di dinding. Jam satu siang saatnya makan siang.
"Mas, sudah lapar ya?"
__ADS_1
"Iya, ayo kita makan," ajak Bimo. "Setelah itu kita ke rumah mertuaku."
"Baiklah." Mutia turun dari ranjangnya dan Mutia baru sadar siapa orang yang dimaksud Bimo. "Eh, mau ke rumah papa, ya?"
"Iya."
Mutia memekik senang hingga melompat ke pelukan Bimo, kemarin saat Hendra mampir Mutia sedih karena terlalu cepat papahnya pergi. Karena terlalu senang Mutia sampai tidak sadar jika Bimo juga sudah memeluknya dengan erat. Mutia tersipu malu dan segera melepaskan pelukannya.
"Ayo mas, kita makan, aku sudah tidak sabar ingin bertemu papah."
Bimo mengangguk mengiyakan, Mutia menarik tangan suaminya sampai ke ruang makan.
***
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Saat Mutia dan Bimo datang kebetulan Hendra sedang asik dengan tanamannya, ia sedang menambahkan tanah pada tanaman yang berada di pot. Mutia memeluk papahnya erat.
"Benar kata Papah, Bun. Si babi itu sudah berubah. Bagaimana bisa aku merebut hatinya mas Bimo kalau dia sudah berubah cantik begitu." Kesal Devi bicara pada Maria.
"Banyak cara untuk membuat mereka bercerai, sayang. Kamu tahu apa yang bunda pikirkan?"
"Apa?"
"Irwan." Maria dan Devi tertawa. Mereka pernah gagal menjual Mutia pada Irwan, melihat Mutia sudah secantik sekarang pasti uang yang akan di dapat pasti lebih mahal. Wajah Devi terlihat senang dengan rencana Maria.
Mutia menggandeng Hendra untuk masuk ke dalam rumah, Bimo membawa banyak buah tangan untuk keluarga mertuanya.
Mutia juga tidak lupa mencium tangan Maria dan Devi, ia tetap menjaga sopan santun pada ibu dan Kaka tirinya. Saat Bimo bersalaman, mata Bimo mengernyit merasa jijik karena iparnya sedang menggodanya dengan mengedipkan satu matanya. ia membuang pandangannya, bagaimana bisa wanita itu melakukan hal tadi, Bimo kan suami dari adiknya, dasar aneh.
__ADS_1
Mutia menaruh semua makanan di meja makan, makanan yang sudah ia beli di restoran untuk ia makan bersama keluarganya. Semua yang ia beli adalah makanan kesukaan Hendra dan Bimo, Hendra terlihat sangat bahagia bisa berkumpul lagi.