
Devi diam-diam mengikuti Mutia sampai ke tempat kerja, ia mengambil banyak gambar untuk melengkapi video yang sudah ia publish ke akun Instagram miliknya.
"Ternyata mereka bekerja di tempat yang sama, atau jangan-jangan pria itu memang kekasih Mutia selama ini?" Gumam Devi.
"Dia siapa?"
"Dia adik tiriku."
"Bukannya adikmu bertubuh gendut?"
"Iya, beberapa bulan lalu memang si babi itu memiliki tubuh yang besar, sepertinya uang suaminya ia gunakan untuk menyedot semua lemak di tubuhnya."
"Kalau tahu dia orangnya, seharusnya kau berikan padaku dari pada kau jual pada Irwan si tua Bangka itu."
"Diam kau! Uang mu tidak sama dengan uang si Irwan!"
"Dasar matre." Devi dan pria yang bersamanya segera melajukan mobilnya meninggalkan Mutia yang kini memasuki gedung berlantai tiga tersebut.
Mutia berjalan memasuki lift di ikuti Dirga. Saat di mobil, Mutia meminta Dirga untuk menjaga jarak dengannya. Dirga sedikit kesal, karena sekarang mereka sudah beda bagian seharusnya tidak masalah jika mereka pacaran, Mutia beralasan jika dirinya sudah menikah, ia tidak mau berita buruk sampai menganggu pekerjaannya. Dirga semakin kesal ketika Mutia menolak diajaknya pulang, karena pasti Lia akan menjemputnya.
***
Di rumah, Mutia duduk memeluk lututnya di atas ranjang, ponsel di kakinya terus berbunyi. Nama Bimo menghiasi ponselnya, ia masih kesal tetapi rindu pada suaminya itu.
Selain panggilan dari Bimo, sebuah notifikasi muncul di room chat kantornya. Sebuah link video di kirim oleh salah satu karyawannya, ia bermaksud menanyakan apakah ketiga orang yang di dalam vidio itu adalah orang yang mereka kenal.
Mata Mutia melebar ketika melihatnya, orang di dalam vidio itu adalah dirinya, Dirga dan Lala. Mutia segera mencari siapa orang yang sudah mempublikasikannya.
"Sial! Ka Devi." Kesal Mutia yang kini menangis. Tentu saja ia takut jika papah dan suaminya tahu.
Mutia segera mencari nomor Devi di kontak ponselnya, membutuhkan waktu cukup lama hingga suara saudarinya kini terdengar.
"Halo." Suara berat dengan napas memburu.
Mutia yang tadinya menangis menjadi terheran, mengapa suara Devi terdengar aneh.
"Halo, ka Devi?"
"Apa." Suara lirih yang terdengar.
"Ka Devi! kamu kenapa?!"
Devi tidak menjawab, hanya terdengar suara-suara aneh yang entah itu apa, decitan kah? Hentakan? Membuat Mutia menduga-duga apa yang sedang di lakukan saudari tirinya. Tidak lama suara erangan terdengar dari seberang sana.
"Ka Devi!" Teriak Mutia kesal. "Astaga."
__ADS_1
"Apa sih? Berisik sekali."
"Apa yang sedang kamu lakukan?!"
"Jangan sok suci, kamu saja selingkuh dari suamimu."
"Ternyata benar, hapus Vidio itu!"
"Ssst, aku sengaja melakukannya. Supaya Bimo meninggalkan dirimu."
Mutia menarik napas kasar, meredam segala amarahnya. "Apa yang kamu inginkan, Devi?"
"Hahaha, ternyata manusia babi ini sudah semakin berani. Hanya satu, aku ingin kamu melepaskan Bimo."
"Sinting!" Mutia menutup ponselnya. Kepalanya semakin sakit, kenapa orang di sekitarnya sangat senang membuatnya kesal. Dirga, Lala, Maria, Devi juga Bimo.
Suara ketukan terdengar tiga kali, rupanya Lia yang kini berdiri di luar pintu.
"Non Mutia, waktunya makan malam."
"Aku tidak lapar," jawabannya singkat.
"Tuan Bimo meminta saya untuk memaksa anda makan malam."
Mata Mutia dan Lia saling bertatap, Lia dengan cepat menunduk. "Bu Lia tidak perlu melapor kalau aku habis menangis, itu akan membuatnya khawatir," ucap Mutia.
Tapi, Lia tidak menjawab, justru dia berjalan meninggalkan Mutia yang berdiri mematung dengan kesal. "Ah, aku lupa kalau Lia lebih patuh pada mas Bimo."
Mutia berjalan menuruni tangga, makanan yang biasa ia makan sudah tersedia. Tidak menunda lagi, ia segera memakannya. Sembari mengunyah Mutia kepikiran bagaimana jika Bimo mengetahui Video itu, dan bagaimana jika papahnya tahu.
Lia datang mendekat. "Nona Sesil sedang berada di luar, apa anda ingin menemuinya?"
Sebenarnya saat ini Mutia tidak ingin di ganggu. Tapi, tidak mungkin kan Mutia menolaknya, apa lagi Sesil sudah berada di luar rumahnya. Mutia mengangguk dan segera menyelesaikan makannya.
Suara langkah kaki terdengar mendekati ruang makan Mutia, wajah cantik yang di hiasi senyum manis langsung terlihat.
"Hai, apa kabar?"
Mutia bangkit dari kursinya dan menghampiri Sesil. "Alhamdulillah. Baik, Mba." Mereka saling berpelukan singkat. "Mba, datang sendiri? Anak-anak sama siapa?"
"Anak-anak sedang bermain dengan neneknya. Aku datang di antar suamiku, ia titip salam."
"Kenapa tidak masuk?"
"Ah, ini urusan wanita."
__ADS_1
Mutia curiga kalau kedatangan Sesil atas permintaan Bimo, meski sejak tadi wanita di hadapan Mutia tidak bertanya apapun, setelah mereka bicara ngalor ngidul, akhirnya Sesil memberi sebuah nasehat kepada Mutia.
"Dalam rumah tangga keributan itu sudah biasa, sebagai istri kita harus menerima masa lalunya yang mungkin saja buruk, mungkin itu semua bukan sepenuhnya salah suami, bisa saja karena keadaan yang memaksa ia berbuat kesalahan. Jadi, jika suamimu ada salah maafkanlah dia."
"Mas Bimo meminta mba Sesil kemari, ya?"
Sesil terkekeh. "Kami tidak sedekat itu."
"Lalu, dari mana mba bisa tahu?"
"Wajahmu, sejak tadi menyimpan rasa kesal dan menyesal."
"Benarkah?"
Mutia hanya diam, ia tidak bisa jujur mengenai masalah yang terjadi padanya. Meskipun Sesil wanita yang baik tetapi ini tentang masalah pribadinya yang tidak boleh orang lain tahu.
"Okelah, aku pamit. Tidak terasa sudah malam."
"Iya, Mba. Terima kasih sudah berkunjung."
"Kapan-kapan kita makan malam di rumahku, ya?"
"Iya, Mba."
Sesil meninggalkan kediaman Mutia, setelah kepergian Sesil Mutia mulai mencerna kata-kata Sesil tadi. Sesil benar, malam itu Bimo tidak sepenuhnya salah, dirinyalah yang menggoda Bimo karena obat perangsang yang diberikan oleh Maria.
Mutia menoleh ke arah meja, dimana ponselnya ia tinggal sejak tadi di kamar. Puluhan miskol terpampang di layar ponselnya, yang akhirnya orang itu kembali menghubungi Mutia.
"Ya Dirga?"
"Apa kamu sudah lihat vidio nya?"
"Bagaimana ini?"
"Tenang saja, aku tidak masalah jika harus di pecat."
"Tapi itu masalah buatku, Dirga. Bagaimana jika suamiku tahu?"
"Bukannya itu baik, jadi kamu tidak perlu mencari alasan cerai darinya."
"Aku tidak mau bercerai dari suamiku!"
Dengan kesal Mutia menutup ponselnya, kini ia semakin takut jika vidio itu sampai di lihat oleh Bimo juga papahnya.
Lia diam-diam menghubungi Tio dan menceritakan semua yang didengarnya barusan. Dengan cepat Tio mencari tahu apa yang terjadi dengan istri majikannya.
__ADS_1