
Bruk, bruk, bruk suara ketukan kasar terdengar di luar kamar Devi, Devi yang baru saja pulang dua jam lalu harus bangun dan kesal karena geduran pintu itu sangat menggangu.
"Apa, si...?!" Amarahnya terhenti ketika orang yang di luar itu adalah Bundanya. Wajah bundanya tampak terlihat marah.
Maria mendorong kasar kamar anaknya kemudian masuk ke dalam kamar dengan kesal. Devi sampai ikutan kesal karena ibunya langsung menerobos masuk.
"Ada apa sih, Bun?" Devi segera menutup pintu kamar.
Maria menunjukkan ponselnya yang ia lempar ke atas ranjang, ketika Devi mengambil dan melihatnya matanya terbuka lebar, jelas terlihat gambar dirinya tanpa busana sedang berhubungan intim dengan seorang pria dan gambar itu tidak hanya satu tapi tiga gambar dengan pria berbeda.
"Apa ini, Bunda?"
"Harusnya bunda yang bertanya, Devi?!"
Devi gagu tidak bisa menjawabnya, foto itu terlihat jelas wajahnya juga prianya, ia duduk lemas di atas ranjang, ponsel Maria ia simpan di sampingnya kemudian memegang kepala dengan kedua tangan, bagaimana bisa foto itu ada, siapa yang mengambilnya. Bisik Devi dalam hati.
"Bagaimana ini, seandainya mas Bimo tahu?" ucap Devi.
"Dasar Bodoh!" ucap Maria. "Mau di taruh di mana muka Bunda, Devi!" teriak Maria lagi. Maria benar-benar sakit kepala dengan kebodohan putrinya. "Bagaimana jika Hendra tahu, hah?"
Devi hanya terdiam, ia memutar otaknya mencari alasan jika Hendra atau Bimo tahu mengenai foto tersebut.
"Tapi, Bun. Bunda dapat dari mana foto tersebut?"
"Dari nomor yang tidak dikenali."
"Ada orang yang ingin menjebak aku, Bun. Pasti itu Mutiara."
Maria membuka matanya lebar, ucapan dari anaknya itu pasti benar, pasti Mutia sudah tahu jika bubuk kacang tersebut dari Devi sehingga Mutia membalas dendam pada putrinya, tetapi dari mana Mutia mendapatkan foto tersebut dari foto yang didapat posisi kameranya tidak jauh dimana Devi dan para pria itu bercinta. Atau bisa saja para pria itu yang menjebak putrinya.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, Bunda. Aku mengenal siapa pria yang tidur denganku, kalau alasan bunda memeras mereka tahu kalau aku ini kere."
"Argh, Bunda tidak mau tahu, seandainya Hendra marah, Bunda tidak mau ikut jatuh dengan kamu."
"Loh, Bunda kok ngomongnya begitu?"
"Bunda tidak mau lagi tidur di jalan seperti waktu kamu kecil, mengerti!" Maria keluar dari kamar Devi seraya membanting keras pintunya.
"Mutia, tunggu saja pembalasan dariku, suamimu akan jadi milikku."
...***...
"Apa yang kamu lihat dengan sangat serius itu, Tio?"
Tio menutup laptop dengan cepat. "Tidak ada, Tuan."
Bimo memicingkan mata mencurigai orang kepercayaannya itu. Ia melirik antara Tio dan laptop. "Jangan bilang kamu sedang menonton adegan porno?"
"Ternyata benar, menikah lah," ucap Bimo dengan tawa mengejek.
Tio membuka kembali laptop tersebut, sudah kepalang tanggung pikirnya, kemudian ia mengirimkan beberapa gambar ke ponsel milik Bimo.
Bimo merogoh ponselnya yang berada di sakunya, matanya terbelalak melihat pesan yang dikirim Tio barusan. "Kamu menonton mereka?!" Tio mengangguk tanpa ada rasa malu. "Gila kamu." Bimo berjalan mendekati Tio. Dengan segera Tio menutup laptopnya. "Ada apa?"
"Anda yakin mau melihatnya?"
"Apa maksudmu?"
"Apa nona Mutia harus tahu?"
__ADS_1
"Astaga, kamu mengancamku?!" Bimo memutar langkahnya seraya mengoceh dan meninggalkan ruang kerjanya.
Tio menyunggingkan senyumnya, apa tuannya ini yang gila hendak melihat tubuh adik iparnya yang tanpa benang sehelai pun, ada-ada saja. Tio mengambil ponsel yang berada di laci dan mulai mengirimkan gambar tersebut ke nomor mertua Bimo dengan ponsel yang bukan miliknya.
"Ada apa?" tanya Mutia yang melihat Bimo masuk ke dalam kamar dengan wajah yang sulit diartikan, kesal tapi juga takut. Kesal karena ucapan Tio tapi takut Mutia tahu kalau baru saja ia hendak melihat video yang ditonton oleh Tio.
"Tidak ada." Bimo menghampiri Mutia yang sedang duduk menghadap cermin, ia taruh tangan di pundak istrinya dan mencium kepala istrinya, ia hirup aroma wangi rambut istrinya. "Kapan kamu akan mengurus pengunduran dirimu?"
"Atasanku sudah menghubungi aku dan meminta maaf atas kejadian waktu itu dan aku sudah meminta beliau untuk mengurusnya, teman-teman juga banyak bertanya melalui roomchat dan aku takut jika komentar negatif keluar dari mulut mereka." Tubuh Mutia gemetar, mau bagaimana pun semua orang tahu kisah di balik cinta segitiganya waktu itu.
"Sudah, kamu jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Sebaiknya kamu mengubur semua masa lalu dan hidup denganku sampai akhir." Lagi, Bimo mencium pucuk kepala istrinya.
Setelah kejadian Dirga malam itu, seisi perusahaan terkejut mendapatkan berita penangkapan Dirga karena hendak memperkosa Mutia itu pun karena polisi yang mendatangi perusahaan dan meminta keterangan lewat keamanan kantor. CCTV pun sudah di dapat, dan satu dua orang pasti melihat dan menyebarkan berita tersebut.
Banyak yang menyayangkan perbuatan Dirga pada Mutia, karena sudah lama Mutia diperlakukan tidak baik oleh Lala bahkan berita simpang siur hubungan mereka jadi alasan Dirga berbuat hal yang senonoh pada Mutia.
"Sebenarnya mas Dirga itu pacarannya sama mba Lala, terus selingkuh sama mba Mutia karena itu mba Lala melabraknya," ucap wanita yang sedang bergosip.
"Eeeh, bukan begitu justru sebaliknya, mba Mutia itu pacaran dengan Dirga tapi Dirga-nya selingkuh ke mba Lala, tapi mbak Lala ga mau terima dimana-mana pelakor kan berkuasa," ucap orang kedua.
"Ya berarti emang mas Dirga-nya yang brengsek dong." kini orang ketiga yang bicara.
Cerita tersebut meluas sampai satu kantor dan berasumsi masing-masing, sehingga tidak segan mereka akan bertanya di room chat karena membutuhkan jawaban yang akurat dari orangnya yaitu Mutia.
Tetapi Mutia tidak menjawab, ia masih gemetar jika mengingat perlakuan Dirga padanya, Dirga seperti kemasukan setan, Mutia mengenalnya dengan sosok yang ramah dan menyenangkan tetapi malam itu Dirga benar-benar menakutkan.
Sesungguh Mutia menyesal melaksanakan balas dendam pada mereka, tapi rasa sakit di hatinya membuat akal pikirannya tertutup, andai saja Mutia tidak menikah mungkin dirinya akan memaafkan Dirga waktu itu.
Hanya saja tuhan mengatur sedemikian rupa agar Bimo-lah yang menjadi suaminya dan mereka sudah saling mencintai, mereka berdua saling menerima kekurangan serta kelebihan pasangan dan saling memaafkan serta menguatkan.
__ADS_1
Mutia sungguh beruntung mendapatkan Bimo yang sudah menerima perjodohan itu, mulai sejak itu saja Mutia sudah menaruh hati pada Bimo yang mau menikahi wanita gendut sepertinya meski tanpa cinta, bisa saja Bimo menolak perjodohan itu ketika tahu calonnya tidak menarik tetapi Bimo justru menerimanya. Lalu pria mana lagi yang harus Mutia cintai selain Bimo?