
Sementara di tempat lain, Mutia tersenyum mengingat kejadian heboh yang menimpa Devi, juga bertanya siapa yang telah menyebarluaskan foto tidak senonoh yang dilakukan Devi.
"Jangan bilang?!" Tiba-tiba saja Mutia mengeluarkan suara saat keheningan terjadi di mobil.
"Apa?" tanya Bimo lembut kemudian menarik istrinya untuk duduk lebih dekat.
"Kalian yang menyebarkan foto tadi?"
"Suruh siapa ia mencelakai istriku," ucap Bimo menarik lembut rambut di dekat telinga Mutia.
"Ah, di rumah pasti sangat kacau, bagaimana dengan papah."
Tidak hanya Devi yang mendapatkan malu, pasti papah dan bunda tirinya juga terkena imbasnya, Mutia berharap Hendra baik-baik saja saat ini.
"Dilihat dari ekspresi papah tadi, sepertinya ia terlihat tidak syok." Bimo menyelipkan anak rambut istrinya ke telinga. Mutia mengangguk mengiyakan.
Mutia dengan cepat mencium pipi Bimo, membuat Bimo terhenyak, meski Mutia adalah istrinya tetapi Mutia tidak pernah memulainya, selalu dirinya yang lebih dulu, hatinya senang karena ciuman di pipinya.
"Terima kasih, Mas. Kamu sudah membantuku. Aku melakukannya karena mereka yang lebih dulu berbuat jahat padaku."
Bimo mengangguk. "Aku tahu semuanya." Bimo mencium pipi istrinya, bahkan memegang dagu Mutia agar Mutia mau memberikan bibirnya untuk di kecup.
"jangan," bisik Mutia. Bimo melirik ke arah depan ia mengerti yang di maksud Mutia, Bimo tersenyum.
Mobil sudah terparkir di halaman kediaman Bimo dan Mutia, Tio pun segera pamit untuk beristirahat. Bimo menggenggam tangan Mutia dan berjalan bersama ketika hendak masuk ke dalam rumah.
Mutia tersenyum manis, hatinya sangat bahagia diperlukan selembut itu oleh suaminya, di tatapnya Bimo dari samping, Mutia tersenyum kembali bagaimana bisa suaminya itu sangat tampan.
Ketika masuk ke dalam kamar, Bimo memeluk Mutia dari belakang bahkan mengecup ceruk leher Mutia.
"ih, Mas. geli."
__ADS_1
"Mendengar suara manja dari Mutia membuat Bimo semakin menggila, di putarnya pelan tubuh Mutia hingga menghadap ke dirinya. Bimo mengecup kening, mata, hidung kemudian bibirnya.
Tangan Mutia yang tadinya menahan dada Bimo kini berjalan naik hingga mengalungkan tangannya di leher Bimo.
Ciuman lembut berubah menjadi panas, tanpa di sadari oleh Mutia, Bimo melepaskan ciuman serta kemejanya. Mata Mutia sempat membola terkejut.
Bimo mendorong tubuh Mutia sampai ke dinding dan mulai mencium bibir istrinya kembali, tangan Bimo tak lepas menjelajah di bagian atas tubuh Mutia bahkan menekan lembut di bagian favorit Bimo. Bimo mengangkat tubuh Mutia sehingga kaki Mutia melingkar di pinggang Bimo, mereka tidak melepaskan ciuman panas itu.
Bimo baringkan tubuh Mutia di ranjang secara perlahan dan kembali menikmati rasa cinta mereka, sayangnya ponsel Mutia maupun Bimo berbunyi, mereka sempat kehilangan hasrat. Mutia dan Bimo berusaha tidak memperdulikan panggilan ponsel yang kini sudah berbunyi dua kali.
Bimo dan Mutia terkekeh geli. Mereka sama-sama mengambil ponsel mereka jauh dari ranjang.
"Bunda?" ucap Mutia ketika melihat panggilan ponselnya.
sedangkan Bimo melihat nama Tio di ponselnya sambil menunjukkan pada istriku. "Akan aku bunuh dia," ucapnya sehingga Mutia terkekeh.
Mutia dan Bimo sama-sama menekan tombol hijau dan mulai berbicara.
***
Benturan keras yang terjadi di rumah di karenakan Hendra sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya.
"Pah," ucap lembut Mutia sambil mengusap pucuk kepala Hendra.
"Mengapa ada luka di kening papah?" tanya Bimo kepada Maria dan Devi yang sejak tadi terdiam di sisi ranjang satunya.
"Papah terjatuh dan terbentur meja." Devi menyambar karena ia tidak akan membiarkan Maria mengatakannya, Devi tahu mamanya memakai hati dengan Hendra meski Devi tahu pada awalnya Maria menikah dengan Hendra hanya ingin balas dendam karena Hendra meninggalkannya dulu.
Mutia hanya terus menangis pelan di samping tubuh Hendra. Ia melihat kabel dan selang medis yang terhubung di tubuh papahnya, dadanya nyeri melihat kondisi Hendra, dia sudah berharap papahnya baik-baik saja tadi. Tapi, ternyata Hendra malah tergeletak di rumah sakit.
Mutia mendekatkan mulutnya ke telinga Hendra. "Papah, bangun, Pah. Mutia mohon." Mutia memejamkan matanya yang dibarengi air mata yang menetes.
__ADS_1
"Ya tuhan, Mutia mohon jangan ambil Papah, Mutia tidak mau kehilangan papah seperti kehilangan mamah," ucap Mutia dalam hati.
Mutia kembali duduk di kursinya menggenggam kembali tangan Hendra bahkan menciumnya, ia menguatkan dirinya serta papahnya.
Bimo mendekat dan mengusap lembut punggung istrinya mencoba menguatkan hati Mutia, ia daratkan kecupan di ujung kepala Mutia yang menangis seraya menggenggam tangan Hendra.
Bimo sadar Mutia sedang menahan tangisnya, ia berjongkok di hadapan Mutia dan menarik Mutia ke hadapannya dan memeluknya. Bimo membiarkan Mutia menangis seraya bersembunyi di pelukan Bimo.
"Mas, papah akan sadarkan?"
"Tentu saja, Papah orang yang kuat, sayang. Papah akan sadar." Bimo mengusap punggung Mutia yang masih di pelukannya. Hatinya benar-benar teriris mendengar Isak tangis istrinya. "Ayo, kita keluar. Biarkan papah istirahat, ini ruang ICU tidak boleh ada orang di dalam ruangan."
Mereka keluar dan duduk di depan kamar ICU. Tio yang sedang berbicara dengan dokter tentang kondisi Hendra kemudian menghampiri, ia bercerita kalau Hendra sudah dalam kondisi tidak baik bukan akibat syok.
"Papah seperti ini pasti bukan karena habis bertengkar, karena papah selalu bisa menahan emosinya. Sepertinya papah terlalu memforsir tenaganya dan tidak teratur mengecek kesehatannya, sebelum aku menikah, aku yang selama ini membawa papah mengecek kesehatannya."
"Saat ini yang papah butuhkan adalah doa, semoga papah segera sadar." Mutia mengangguk.
Tio menyuruh Maria dan Devi kembali pulang karena tidak mungkin mereka semua berjaga bersamaan.
"Saya ini istrinya," ucap Maria kesal.
"Anda bisa bergantian berjaga dengan non Mutia, untuk saat ini non Mutia yang akan menjaga pak Hendra."
"Sudah, Bun. Ayo."
Devi menarik paksa tangan Maria dan membawa bundanya keluar dari rumah sakit. Sepanjang jalan Maria ngedumel karena tidak terima di sisihkan untuk menjaga suaminya.
Sedangkan Devi masih khawatir, karena apa yang terjadi akibat dirinya dan bundanya. Tanpa sengaja kecelakaan tadi ada campur tangan mereka. Apa bundanya ini tidak sadar akan hal itu.
"Bunda, berhentilah bicara," kesal Devi pada Maria. "Apa bunda tidak sadar kalau papah terjatuh karena di tarik oleh Bunda."
__ADS_1
Maria memicingkan matanya. "Maksud kamu, mamah yang membuat Hendra celaka?" Devi mengangguk. "Mamah hanya ingin Hendra tidak mengusir kamu bukan sengaja menarik atau mendorong Hendra hingga jatuh."
"Tapi, Bun. Pasti akan ada penyelidikan apa lagi papah jatuh setelah melihat fotoku dan pasti polisi akan memanggilku."