Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Sahabat papah


__ADS_3

Mutia sudah rapi, seperti biasa ia harus lebih pagi untuk sampai ke kantor jika berangkat dari rumah Hendra, sedangkan Devi tidak terlihat batang hidungnya, mungkin gadis manja itu belum bangun.


"Ponsel barunya ada di meja makan." Tunjuk Maria kearah meja makan.


"Terima kasih, Bunda. Kapan Bunda membelinya?" Mutia berjalan menuju ruang makan.


"Semalam." Mukanya terlihat masam, sepertinya ia merasa sial karena uangnya harus keluar untuk beli ponsel.


"Mutia, ayo kita berangkat bareng, papah mau ketemu klien." Hendra sudah terlihat rapi. Mutia mengangguk setuju, lumayan bisa irit ongkos.


Hendra menurunkan Mutia di halte, karena tergesa-gesa Hendra tidak bisa mengantarkan Mutia sampai ke kantornya.


"Nota pembelian Budi muaratex bagaimana?"


"Ini, Bu."


Rosa mengecek semua nota yang akan segera di tagih. "Oke, terima kasih."


"Sama-sama, Bu."


"Oh iya, Mutia. Tolong sediakan proposal pengajuan kontrak yang baru untuk perusahaan PT Tedi evensia agar mengirimkan benang secara teratur tiap minggunya beserta harganya."


"Baik, Bu."


"Jangan sampai salah isi kontraknya, kamu paham?"


"Baik, Bu."

__ADS_1


Mutia melirik ke depan dimana Lala baru saja melihatnya dengan tatapan sinis, sedang Dirga pura-pura tidak melihatnya. Ternyata di hati kecilnya masih ada rasa cinta untuk Dirga, hatinya sakit di acuhkan oleh Dirga. Pria itu belum menjelaskan apa-apa padanya, bagaimana bisa dalam waktu singkat pernyataannya berubah, kemana rasa cinta yang ia utarakan kepadanya selama ini, ingin sekali Mutia bertanya apakah kalimat mencintai yang Dirga keluarkan malam itu benar-benar pernah ada dan tulus, atau masih permainannya.


Mutia mendatangi plaza pusat handphone, ia berencana ingin memperbaiki ponselnya yang hancur, berharap data yang tersimpan bisa di pulihkan agar rekaman itu bisa ia jadikan barang bukti ke papahnya.


Mutia meninggalkan ponselnya di konter, pihak konter akan menghubunginya jika dapat diperbaiki karena sepertinya hanya LCD-nya saja yang hancur.


Mutia kembali ke kosannya merapikan barang, ia akan pindah malam ini, rasa takutnya semakin menjadi ketika melihat cermin dan kamar mandi yang membuatnya bergidik karena membayangkan dirinya yang bunuh diri.


Ponsel yang berada di atas meja bergetar, papahnya memanggil. "Iya, Pah?"


"Kamu sedang apa?"


"Sedang merapikan barang, Pah."


"Apa perlu bantuan papah?"


"Tidak usah, Pah. Barang Muti tidak banyak kok."


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Papah hanya ingin kamu cepat ada di rumah."


"Baiklah, Pah."


Mutia sudah selesai merapikan semua barangnya ketika panggilan Hendra berakhir, supir penyewaan mobil pick up juga sudah meninggalkan pesan singkatnya, mengabarkan jika mereka sudah berada di bawah.


Akhirnya Mutia akan meninggalkan kosan dan tidak akan pernah kembali lagi, ia meninggalkan banyak kenangan, di kosan ini cintanya pernah terjalin bersama Dirga meski cinta palsu yang ia terima tetapi perhatian yang diberikan Dirga selalu membuat hatinya menghangat dan luluh.

__ADS_1


Mutia juga menyempatkan pamit dengan penghuni kos yang lain juga pemilik kos tetapi tidak menemukan Lala, dan itu membuatnya senang karena jika bertemu pasti emosi yang akan ia dapatkan.


Mutia sampai di rumah saat makan malam, barangnya segera di turunkan dari mobil. Tidak banyak barang milik Mutia dan semua barangnya bisa masuk ke dalam kamarnya, hanya kasur lipat saja yang masuk ke dalam gudang.


Rumah Hendra memang tidak mewah, bangunan yang berdiri di atas tanah dua ratus meter persegi dengan taman mungil yang memutari rumah, tiga kamar ukuran empat kali empat, kamar tamu ukuran tiga kali tiga yang selama ini dipakai Mutia jika menginap, satu gudang dan satu kamar ART. Masing-masing ruang tamu, ruang tengah yang dipakai menonton televisi dan ruang makan ya hanya dipisahkan dengan bufet dan dapur yang berada di paling ujung bersebelahan dengan kamar ART.


"Siapa itu, Pah?" tanya Mutia pada sosok pria yang berdiri di ambang pintu rumahnya.


"Ah, ia Bimo. Anak dari sahabat papah." Hendra memperkenalkan Mutia dengan pria bernama Bimo.


Bimo Dewanto, usianya sekitar 28 tahun. Ia seorang insinyur dan kini bekerja di sebuah perusahaan pengembang perumahan, Begitulah Hendra memperkenalkan tamunya, sejak tadi pria bernama Bimo itu tak hentinya memandang heran ke arah Mutia, bahkan sampai pandangan mata mereka dengan tidak sengaja bertemu pun pria itu tidak bergeming.


Bayu ayahnya Bimo sudah bersahabat sejak SD dengan Hendra, saat Bayu kuliah Hendra lah yang membantu membiayainya meski Hendra harus bekerja sambil kuliah. Setelah lulus kuliah Bayu bekerja dengan perusahaan asing dan bekerja di luar negeri sedangkan Hendra tetap di Indonesia.


Sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu akhirnya Bimo menemukan Hendra menggunakan jasa mencari orang dan baru tadi pagi Bimo saling bertatap muka dengan membawa banyak bukti jika Bimo adalah putra satu-satunya Bayu.


Bimo menyampaikan berita bahwa Bayu sudah meninggal dunia beberapa bulan lalu, Bimo mencari Hendra atas permintaan Bayu dan disinilah ia sekarang.


"Papah meminta saya untuk menemukan Om dan menyampaikan isi surat ini." Bimo menyerahkan surat dalam amplop biru muda.


Mutia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kamar miliknya akhirnya bisa ia dapatkan. Kamar sejuta kenangan bersama mamahnya, ia juga bisa memanjang foto peninggalan mamanya di setiap sudut kamarnya. Mutia merasa tubuhnya sangat lelah, ia mencari ponselnya bermaksud untuk mengisi daya pada ponselnya tetapi puluhan panggilan dari Dirga membuat Mutia membuka aplikasi WhatsApp. Dirga mengoceh karena Mutia pindah kos tidak memberi kabar padanya.


"Mengapa aku harus memberikan kabar padamu? Dasar aneh."


Mutia sengaja tidak membalas pesannya, karena ia sedang menjauhi diri dari Dirga, ia harus mencoba melupakan Dirga dari hidupnya. Mutia mengsugestikan diri bahwa mencintai Dirga adalah kesia-siaan, ia tak pantas mendapatkan cinta tulus darinya. Terus menerus Mutia menanam kalimatnya.


Ia belum sempat mencerna perkataan Lala waktu itu, bahwa Dirga sengaja memacarinya hanya ingin membuat bobot tubuhnya menjadi besar, selalu memberinya makanan penuh lemak dan cemilan, berat badan Mutia yang awalnya hanya empat puluh delapan kini mencapai delapan puluh kilo, sedangkan tinggi badan Mutia hanya seratus lima puluh lima sudah terbayangkan seperti apa tubuh bulatnya.

__ADS_1


Hanya saja Mutia tidak habis pikir kenapa Lala bersikap begitu kepadanya apa Kesalahan yang sudah ia perbuat kepada Lala, sebelumnya hubungan Lala dan Mutia baik-baik saja, setelah Mutia bercerita pada Lala jika dirinya menyukai Dirga pun masih baik-baik saja bahkan Lala menjodohkan mereka.


Tetapi setelah hubungannya dan Dirga berjalan tiga bulan justru perselingkuhan di konser terkuak, padahal sikap Dirga terlihat tulus pada Mutia sampai Mutia tidak menyadari jika cintanya palsu.


__ADS_2