
Setelah pembicaraan semalam, Mutia dan Bimo tidur saling berpelukan. Sekarang Mutia sedang menatap wajah Bimo dari dekat, ia tersenyum malu. Jari telunjuknya ragu ingin menyentuh bagian wajah suaminya.
"Kamu sedang apa?" Bimo bicara sambil memejamkan matanya. Membuat Mutia terperanjat, Mutia menggeleng cepat.
"Astaga, jantungku terasa ingin meledak karena terkejut," ucapnya dalam hati.
Bimo membuka mata dan tersenyum ketika melihat wajah istrinya yang tersipu malu. "Selamat pagi," bisik Bimo.
"Pagi." Mutia hanya menggerakkan bibirnya.
Bimo bergerak maju sampai wajahnya hampir menyentuh Mutia, tetapi Mutia segera bangkit dari ranjangnya, membuat Bimo mengerutkan dahinya.
Mutia tidak ingin napas paginya dapat terhirup oleh suaminya, ia segera mengambil pakaian di dalam lemarinya.
"Kamu mau mandi?" Mutia hanya mengangguk tanpa menjawab. "Apa aku boleh ikut?"
Mutia menggeleng cepat dan berlari ke kamar mandi, pertanyaan suaminya sudah bisa ia tebak. Semalam mereka banyak bicara mengenai hubungan mereka, dan mereka sepakat untuk memperbaiki hubungannya di mulai seperti layaknya sepasang kekasih yang baru menjalani hubungan.
Suara ketukan pintu membuat Bimo mengurungkan niatnya menggoda Mutia, Lia dan Tio sedang berdiri di luar kamar. Begitu membuka pintu kamar, Bimo segera berjalan memasuki ruang kerja bersama Lia dan Tio.
Mereka bertiga sedang berencana bertemu dengan Devi jauh dari Mutia, mereka tidak ingin Mutia tahu apa yang sedang mereka lakukan. Bimo meminta Lia untuk mengawali Mutia karena pasti Dirga akan mendekati Mutia ketika Bimo sedang tidak di rumah.
Bimo pamit dengan Mutia saat sore hari, ia beralasan ada hal yang harus di kerjakan dan berjanji esok akan kembali, awalnya Mutia sedih akan di tinggal oleh Bimo tetapi mendengar Bimo hanya akan pergi selama dua puluh empat jam maka Mutia mengizinkan.
Malam harinya Sesil datang ke rumah Mutia, ia baru saja mendapatkan kabar jika Mutia sakit, Sesil baru saja kembali dari itali karena adik iparnya menikah di sana.
"Astaga, mengapa kalian berdua tidak mengabari ku?"
Mutia hanya membalas dengan suara yang hampir tak terdengar, mendengar Mutia bicara seperti itu membuat Sesil menyuruhnya untuk tidak bicara lagi. Sesil membawakan beberapa buah tangan untuk Mutia dan Bimo.
"Terima kasih, Mbak."
"Ah, sudah, sudah. Kamu jangan bicara lagi, aku ngilu mendengarnya. Sebaiknya aku pulang dan kamu beristirahat. Oke?"
Mutia mengangguk.
...****************...
__ADS_1
Bimo duduk bersantai di sebuah sofa dengan wine di tangannya, ia berada di dalam kamar sebuah hotel berbintang lima di daerah Bandung. Cukup jauh dari Mutia.
Devi berjalan dengan high heels serta pakaian minim yang melekat di tubuhnya, berjalan dengan seksi mendekati Bimo. Kemudian Devi duduk di samping Bimo dengan jari yang bermain di dada Bimo yang masih mengenakan kemeja hitamnya.
"Sayang, kenapa kita begitu jauh dari rumah?"
"Aku tidak ingin Mutia tahu."
Mendengar pernyataan Bimo, Devi tampak kesal. Ia menuangkan wine ke gelasnya dan menenggaknya sekaligus. Ia pun dengan kasar menaruh gelasnya ke atas meja, setelahnya Devi melipat kedua tangannya di dada.
Bimo hanya terus mengayunkan wine di dalam gelasnya tanpa di minum, ia tidak perduli dengan tingkah Kaka tirinya yang terlihat sedang merajuk.
"Tak bisakah kamu tidak menyebut namanya? Kita sedang berduaan seharusnya kita melakukan percintaan, kamu menghilangkan moodku."
"Pulang saja jika kamu mau," jawab Bimo ketus.
Devi terkejut, mungkin seperti inilah sifat asli pria pujaannya. Mungkin saja Mutia juga di perlakukan dengan cara yang sama oleh Bimo, begitulah pikiran Devi saat ini.
Tiba-tiba saja kepala Devi terasa pusing, bahkan matanya terlihat kabur. "Mas, mas. kepalaku pusing."
Devi tertidur sembari bersandar, Tio telah mencampurkan obat tidur dengan dosis cukup tinggi yang akan membuatnya tertidur sampai esok hari.
Tio masuk ke dalam kamar bersama dua orang wanita, seorang pelayan di hotel tersebut. Devi di angkat oleh Tio naik ke atas ranjang dan memerintahkan kedua pelayan itu untuk melepas semua pakaian milik Devi.
Bimo dan Tio menunggu di luar sembari tersenyum siasatnya berhasil, setelah beberapa menit kedua pelayan itu keluar kamar, Tio memberikan uang tips kepada kedua wanita tersebut dan meminta untuk merahasiakannya.
Bimo kembali masuk dan duduk di sofa, Tio membuang wine yang sudah tercampur obat tidur ke westafel. Dan melemparkan pakaian Devi ke sembarang tempat. Tio menyelipkan sebuah alat ke dalam tas Devi, alat yang akan mengirim suara ke dalam ponsel Tio dan merekanjuga secara otomatis.
"Apa itu akan berhasil?"
"Kita harus mencobanya, Tuan." Bimo hanya mengangguk.
"Aku akan kembali ke kamarku, bangunkan aku jika kakak iparku sudah bangun."
"Baik."
Tidak hanya Bimo yang keluar kamar, Tio juga meninggalkan kamar Devi. Mereka berdua tidur di kamar tidak jauh dari kamar milik Devi.
__ADS_1
Lima jam kemudian, Devi lamat-lamat membuka matanya, kepalanya masih terasa pusing. Ia meregangkan tubuhnya dan terkejut karena tubuhnya tidak memakai apapun kecuali selimutnya.
"Apa aku sudah melakukannya?" tanya Devi pada dirinya sendiri sembari tersenyum tetapi kebingungan. "Tapi, sepertinya aku hanya melihat mas Bimo mendekat dan aku tidak ingat selanjutnya. Bodoh kamu Devi." kesal Devi.
Bimo membuka kamar milik Devi, karena Tio segera memberitahukan Bimo ketika Devi bangkit.
"Kamu sudah bangun?"
"Iya, Mas."
"Cepatlah bersihkan tubuhmu, aku akan segera pulang, pekerjaanku sudah menumpuk."
"Apa kita akan pulang bersama?"
"Tidak. Aku akan berangkat lima menit lagi."
"Mas!" bentak Devi merasa di acuhkan. Bimo hanya melirik tajam, membuat nyali Devi ciut. "Kenapa begini sih, Mas?"
"Apa aku harus membayar percintaan kita tadi malam?" bohong Bimo.
Mendengar perkataan Bimo membuat Devi sumringah, entah dari mana pikirannya terlintas kalau ia berharap mendapatkan keturunan dari Bimo. Ia tersenyum bahagia ke arah Bimo.
"Kapan kita bertemu lagi, Mas. Semalam aku tidak merasakan apapun, bisakah kita bercinta lagi?" dengan tidak tahu malunya Devi bicara seperti itu kepada adik iparnya.
"Tio yang akan menghubungimu." Bimo menaruh banyak uang ke ranjang. "Belanja sesuka hatimu."
Mata Devi seakan melompat, ia belum pernah mendapatkan uang sebanyak itu setelah bercinta dengan orang lain.
"Terima kasih, Mas," ucapnya senang.
Bimo segera meninggalkan kamar hotel, sedangkan Devi melemparkan semua uang itu ke udara sembari tertawa puas. Bimo dan Tio yang mendengarnya di luar terlihat kesal sembari mengepal.
"Dasar murahan," oceh Bimo kemudian pergi yang di ikuti oleh Tio.
Devi segera menghubungi Maria dan menceritakan semuanya kepada ibunya.
"Apa!? Kamu sudah gila, Devi! Cepat pulang!"
__ADS_1