
Mutia sedang duduk di kantin perusahaan, ia sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba saja seorang pria duduk di hadapannya, Mutia hanya melirik tak terkejut sama sekali karena bau parfum Dirga sudah tercium terlebih dahulu.
"Kamu mau apa sih?"
"Kamu semakin cantik saja, Mutia."
Mutia tidak peduli, ia terus menikmati makan siangnya. Mata Mutia juga tidak melirik sama sekali ke arah Dirga, Mutia lebih memilih memandang ke jalan melihat para karyawan yang sekarang menatap ke arah mereka.
"Sebaiknya kamu pergi, Dirga. Atau Lala akan mencakar habis wajahmu."
"Aku merindukan kamu, Mutia."
"Gila," ucap Mutia sinis.
Mutia memutar bola matanya jengah. Mutia merapikan kotak bekalnya memilih pergi dari pada mendengar ucapan Dirga yang membuat telinganya sakit.
Dirga menangkap tangan Mutia, wanita itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dirga.
"Lepaskan!"
"Apa kamu sudah melupakan kisah cinta kita."
"Astaga Dirga, kamu ini punya malu gak sih?!"
"Ada apa denganmu Mutia, santai saja, rileks."
Mutia mencoba melepaskan cengkraman tangan dari Dirga, tapi gagal Dirga lebih kuat. "Apa maumu?" Dirga menarik tangan Mutia untuk kembali duduk dan Mutia mengikuti.
"Aku tahu satu hal tentang pernikahanmu." Mutia mengerutkan alis karena heran. "Kalian menikah bukan karena cinta tapi perjodohan, benarkan? Apa perubahanmu sudah mendapatkan cintanya? Aku rasa belum."
Darimana makhluk menyebalkan ini tahu, dan apa maunya. Mutia menggerutu dalam hatinya.
"Aku tahu kalau kamu masih mencintaiku, aku masih membuka hatiku untukmu, Mutia."
Mutiara merasa mual mendengar ucapan dari Dirga entah kenapa kepercayaan dirinya begitu tinggi sehingga Ia berpikir jika Mutia masih mencintainya. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk membalas rasa sakit hati Mutia selama ini, di mana rasa cintanya yang tulus dikhianati oleh Dirga dan Lala.
"Kamu benar Dirga, lalu aku bisa apa? Kamu tidak bisa lepas dari Lala dan aku sudah menikah."
"Kamu bisa meninggalkan suamimu dan aku meninggalkan Lala."
Pria ini sudah gila, mana mau Mutia kembali dengannya, dari status sosial saja Bimo sudah lebih tinggi, ketampanan suaminya lebih dari sempurna dari pada Dirga, pede sekali dasar cowok brengsek.
"Kamu saja yang meninggalkan Lala, aku tidak mau meninggalkan suamiku." Mutia akhirnya bisa meloloskan diri dari Dirga yang kini terkekeh.
__ADS_1
Dirga menatap kepergian Mutia yang kemudian menghilang di kejauhan, saat Dirga bangkit Lala sudah berjalan mendekatinya.
"Ada apa sama kamu? kenapa terus saja menghindar?"
"Urus dirimu saja mulai sekarang."
"Dirga!"
Dirga tidak memperdulikan teriakan Lala yang memanggil namanya.
Mutia sudah kembali sibuk di meja kerjanya, sebuah pesan masuk dengan puisi cinta baru saja Dirga kirimkan untuknya, Mutia tidak membalasnya. Sebuah pesan lain dari nomor yang berbeda juga masuk ke ponsel Mutia, kini Sesil yang meminta kehadirannya malam ini di acara pembukaan butik kawan segrup BTS nya, tentu saja Mutia harus minta izin terlebih dahulu.
Mutia tidak mengirim pesan ke ponsel Bimo karena pasti Bimo tidak akan membukanya, Mutia menghubungi Tio.
"Tuan, Nona Mutia meminta izin untuk pergi setelah pulang kerja."
"Kenapa dia mengirim pesan kepadamu?" Bimo bicara tanpa menoleh, tangannya sibuk menandatangani berkas
Tio menulis perkataan Bimo dan mengirimkan pesan ke ponsel Mutia.
"Pasti ia tidak membukanya, begitu kata Nona."
"Apa kau mengirim perkataanku padanya?" Tio mengangguk. "Astaga Tio." Bimo membuka matanya dengan lebar.
"Maaf, Tuan."
"Berkumpul dengan teman-teman BTS-nya ada acara pembukaan butik."
"Dimana?"
"Di mall Daan Mogot."
"Bukannya Willy yang memiliki toko di mall itu?"
"Betul."
"Izinkan dia. Lalu, tanyakan pada Willy."
Mutia tersenyum karena Bimo mengizinkannya, Mutia menghubungi Lia untuk membawakannya baju saat menjemputnya nanti.
***
"Selamat ya," ucap Mutia pada Kim. Mutia juga membawakan buket bunga untuk Kim .
__ADS_1
"Terima kasih, ayo masuk. Sesil sudah berada di dalam."
Kim menggandeng Mutia sampai menemui sesil. Mereka selalu memamerkan kebersamaan grup BTS ke akun sosial media mereka begitu juga Mutia. Banyak komen memuji kelompok mereka tapi tidak sedikit yang menghujat aksi mereka.
Setelah lama mengobrol dan memakan makanan yang dihidangkan Mutia di jemput oleh Tio, Mutia heran mengapa ada Tio, kemana Lia.
"Tuan sudah menunggu anda." Mutia merasa senang dirinya di Jemput oleh Bimo. Mutia segera pamit kepada teman-temannya.
Di parkiran basemen Bimo berdiri bersandar pada mobilnya, suaminya itu benar-benar tampan padahal ia baru saja kembali bekerja. Mutia berlari kecil mendekati Bimo.
"Jangan berlari," ucap Bimo khawatir melihat high hill yang Mutia kenakan.
Mutia mencium punggung tangan Bimo. "Sudah lama, Mas?" Mutia tersenyum sangat manis, hatinya berbunga-bunga.
"Baru saja, bagaimana acaranya?"
"Menyenangkan, apa Mas sudah makan?"
"Belum, apa kamu mau menemaniku makan malam?"
"Tentu saja." Reflek tangan Bimo menyelipkan rambut Mutia ke belakang telinga membuat pipi Mutia merona.
"Ehem! Ingat ini tempat umum." Protes Sesil. Yang baru saja datang mendekati sepasang suami istri itu. "Kasihan sama Tio yang jomblo," ucapnya lagi.
Bimo dan Mutia tersenyum merasa malu sudah kepergok oleh Sesil.
"Teruskan di rumah nanti, ya?"
"Baik, Mba." Bimo menjawab. Membuat mutia tersipu malu. Sesil pamit terlebih dahulu menaiki mobilnya.
Bimo membuka pintu mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam mobil, kemudian ia ikut masuk ke dalam mobil setelah memutari mobilnya, Tio mulai berjalan meninggalkan mall dan mencari rumah makan. Bimo bertanya tentang aktivitas Mutia seharian ini, Mutia menceritakan semuanya kecuali tentang Dirga. Tangan Bimo tak hentinya memainkan rambut Mutia yang halus dan lembut, Bimo tersenyum seraya memandangi wajah cantik istrinya.
"Kenapa, Mas?"
"Tidak, ternyata istriku ini bawel, ya." Bimo mencubit pipi Mutia tapi tak sakit, dibilang istriku, hatinya seperti melambung tinggi ke udara. "Tidak seperti pertama bertemu irit bicara."
Mutia mengingat beberapa bulan lalu, di mobil yang sama, Mutia dan Bimo hanya diam selama perjalanan ke resto, saat itu ia takut dan malu, tetapi sekarang Mutia lebih banyak bicara untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Kalau pekerjaan, Mas, bagaimana?" Mutia mengalihkan pembicaraan karena jika terus dipandangi seperti itu ia merasa akan meleleh.
"Tidak ada yang spesial, setiap hari rasanya sama saja."
"Tapi, mas Bimo senangkan? Maksudku menyukai pekerjaan yang sekarang digeluti oleh mas Bimo. Karena kalau udah suka pasti akan bersungguh-sungguh dan jika mengecewakan tidak sakit hati."
__ADS_1
"Tentu saja, aku menitinya sejak duduk di bangku kuliah, Tio sudah menemaniku sejak itu."
Mobil memasuki kawasan rumah makan seafood, Bimo suka sekali dengan makanan seafood. Bimo menggenggam tangan Mutia erat seperti anak ABG yang sedang dilanda asmara.