Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Aku mencintaimu, Mutiara


__ADS_3

Tio berjalan keluar ruangan Bimo saat menerima pesan dari Lia, dengan cepat Tio menghubungi seseorang lewat ponselnya, ia memerintahkan seseorang di seberang sana untuk menyelidiki yang dialami Mutia.


Tidak butuh waktu lama, sekitar dua jam Tio sudah mendapatkan balasan dari orang yang di pinta untuk menyelidiki Mutia, sebuah Video sudah sampai ke tangan Tio.


"Apa kamu bisa menghapusnya?"


"..."


"Bagus, lakukan, terima kasih." Sambungan terputus dan dengan langkah cepat Tio menyerahkan sebuah vidio kepada Bimo.


"Apa ini?"


"Non Mutia sedang dalam masalah."


Mendengar nama istrinya, Bimo segera memutar video di mana Mutia sedang di lindungi oleh Dirga di dalam restoran, Bimo memijit ujung keningnya.


"Apa yang terjadi?"


"Berita yang aku dapat, pria ini adalah kekasih non Mutia, begitu juga wanita satunya. Intinya mereka di duakan dan pria bernama Dirga ini memilih non Mutia."


"Yang aku tahu, pria ini adalah mantan kekasihnya, apa mereka kembali lagi?"


"Entahlah. Tapi, sebelum menikah dengan anda, wanita yang bernama Lala ini adalah sahabat non Mutia, ia menjodohkan Mutia dengan Dirga. Anehnya non Mutia di buat gemuk kemudian di campakkan."


"Dari mana kamu dapat berita seperti itu?"


"Saya sudah mengirim orang untuk menyelidiki non Mutia."


"Bagaimana dengan Mutia sekarang?"


"Lia bilang, sejak pulang bekerja non Mutia menangis di kamarnya, kebetulan non Sesil datang berkunjung setelah kepergian non Sesil, non Mutia kembali menangis sambil berbicara di telepon kemudian berkata ia tidak ingin cerai dari anda."


"Apa kamu bisa menghapus vidio itu?"


"Saya sudah pastikan vidio itu hilang."


"Baguslah, aku ingin menemuinya. Kita kembali sekarang."


"Baik, Tuan."


Mereka merapikan berkas yang akan di bawanya pulang. Bimo tidak mau menunggu sampai satu Minggu ke depan, masalah antara dirinya dan Mutia harus segera selesai, semenjak tiba di Semarang pekerjaan Bimo selalu berakhir tidak baik, pikirannya selalu tertuju kepada Mutia. Apa lagi di tambah Mutia dalam masalah membuat dirinya semakin tidak konsen dalam mengerjakan pekerjaannya.


***

__ADS_1


Bimo dan Tio sampai di bandara jakarta setelah subuh, kemudian meminta supir dari kantor untuk membawakan mobilnya.


Sedangkan Mutia yang baru saja bangun merasakan pusing karena menangis semalaman, matanya juga sembab dan terasa perih. Ada rasa menyesal saat mencoba balas dendam kepada Dirga dan Lala, sepertinya tuhan melarang Mutia melakukan aksi balas dendamnya dan seakan tuhan sedang memperingatinya.


Setelah selesai mandi, Mutia turun ke lantai bawah, ia memakan sarapan oatmeal nya, ia masih memakan menu sehatnya setiap sarapan.


Suara mobil mengalihkan pandangan Mutia ke jendela besar di mana terlihat mobil baru saja masuk ke garasi.


"Itu kan mobil mas Bimo?" Tanyanya pelan pada Lia. Yang kemudian di anggukan oleh Lia.


Wajah Bimo terlihat kesal. "Sial! Sepertinya mas Bimo sudah tahu," batin Mutia.


Langkah Bimo cukup berat dan panjang, dada Mutia terasa sesak apa lagi kini mutia susah payah menelan air yang baru saja ia teguk. Mutia berdiri dari kursinya ketika tubuh Bimo sudah terlihat yang kini datang mendekat.


"Mas," ucapnya lirih. Telapak tangan Mutia dingin karena gugup dan takut, pasalnya Mutia tidak dapat mengartikan ekspresi Bimo yang semakin mendekatinya, ia pasrah saja jika Bimo akan memukulnya karena ketahuan berselingkuh.


Bimo terdiam di hadapan Mutia, Mutia segera menunduk karena tidak berani menatap mata suaminya. Kedua telapak tangan Bimo yang hangat mendarat di pipi Mutia, sehingga Mutia menengadah memandang wajah Bimo, ia terkejut suaminya melakukan hal itu, ia sempat khawatir akan mendapatkan pukulan di pipinya.


Bimo menempelkan keningnya ke kening Mutia, seraya memejamkan matanya. Lia dan Tio memerintahkan para asisten rumah tangganya untuk keluar dari rumah dan kembali ke ruangan mereka masing-masing begitu juga dengan Lia dan Tio.


"Mas," ucap Mutia berbisik.


"Mm."


"Belum."


"Lalu, kenapa sudah kembali?"


Bimo menghembuskan napasnya. "Aku sudah melihat Video kalian."


Mutia memejamkan matanya, mau bagaimana pun Bimo pasti akan mengetahuinya karena memang itu yang di harapkan oleh Devi.


"Maaf, Mas." Mutia meneteskan air matanya, ia sangat menyesal aksi balas dendamnya justru melukai suaminya. "Maafkan aku, aku hanya berniat membalas dendam pada mereka karena dulu telah bersikap buruk padaku." Mereka saling bicara pelan dengan terus menempelkan kening mereka. Mutia mulai menceritakan pertemuan sampai perpisahan mereka hingga terisak.


"Aku bahkan mencoba untuk bunuh diri karena merasa semua orang membenciku, malam itu pun aku di jual oleh bunda kepada lelaki hidung belang teman kerja papah." Mutia tidak menceritakan bagaimana ia bisa memutar kembali hidupnya.


"Apa kamu mencintai Dirga?"


"Bagaimana bisa, aku justru membencinya, aku..." Kalimatnya terhenti karena Bimo sudah menutup mulut istrinya dengan bibirnya.


"Aku mencintaimu, Mutiara."


Mutia segera memeluk Bimo dan menangis di dada suaminya, Bimo membiarkan istrinya meluapkan rasa sedihnya dengan mengusap lembut punggung istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas. Aku bersikap sembrono sampai tidak memikirkan kamu, sehingga kamu salah paham karena melihat Vidio itu."


"Aku takut kamu kembali pada Dirga dan meninggalkan aku, Mutia."


"Mana mungkin aku kembali pada pria yang membuang aku seperti sampah kemudian dipungut kembali."


"Apa rencanamu sekarang?"


"Aku hanya ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan, mengangkatnya tinggi-tinggi kemudian di hempaskan ke tanah tanpa perasaan."


Bimo memeluk tubuh istrinya dengan erat, untuk mengurangi rasa sakit di hati istrinya. Entah seperti apa perlakuan mereka pada Mutia sehingga istrinya begitu ingin membalas dendam.


Mutia berhenti terisak, hati Mutia sudah mulai membaik, dengan masih memeluk istrinya Bimo memulai kembali percakapannya. "Mutia?"


"Ya, Mas."


"Apa hari ini kamu ingin berkencan denganku?"


"Aku harus bekerja, Mas. Ada klien yang harus aku temui pagi ini."


Bimo menarik napas dan menghembuskannya lagi, Mutia menengadah untuk melihat wajah suaminya. "Sepertinya kamu harus berhenti bekerja."


"Haruskah?"


"Baiklah." Bimo melepaskan pelukannya dari Mutia. "Temui klienmu, nanti sore aku jemput kamu kita kencan malam ini." Bimo berjalan mundur meninggalkan Mutia.


Mutia tersenyum. "Kamu mau kemana, Mas?"


"Aku meninggalkan pekerjaanku untukmu, kamu harus memanjakan aku malam ini."


Mutia terkekeh. "Baiklah suamiku."


...***...


Sementara itu Devi menemui Lala di tempat kerja, Devi bermaksud mengajak Lala bekerja sama dengannya untuk mencelakai Mutia.


"Kamu yakin?"


"Tentu saja, aku ini Kaka tirinya."


"Tapi, kenapa harus aku yang melakukannya?"


"Kamu bisa saja mencampur ke dalam minumannya saat ia sedang berdua dengan kekasihmu. Mutia akan menyalahkan kekasihmu dan membencinya sehingga kekasihmu itu akan kembali ke pelukanmu."

__ADS_1


Lala mengangguk mengerti, ide Devi sangat brilian. Bahkan Lala sangat berterima kasih pada Lala dan akan melakukan secepatnya.


__ADS_2