
Pelayan wanita itu terus saja berputar di sekitar Mutia, ia siap melakukan aksinya. pelayan itu sudah bersiap dengan idenya untuk ia praktekan ketika targetnya lengah.
Sedangkan seluruh mata para tamu menatap Mutia karena penasaran, ternyata kabar Bimo menikah dengan wanita gemuk sudah menyebar di kalangan pengusaha muda apa lagi jika para istri pengusaha muda itu adalah para istrinya yang tergabung di BTS, bang Toyib Squad yang Mutia dan Sesil naungi.
"Jadi ini istri anda?" tanya salah satu tamu yang duduk dalam satu meja.
Bimo tidak menjawab, hanya tersenyum sembari sesekali tangannya menyentuh punggung istrinya, ia sudah tidak rela punggung istrinya itu terekspos .
"Aku pikir kamu membawa wanita lain," ucap yang lainnya.
Lagi, Bimo hanya tersenyum mendengar ocehan para tamu yang tidak banyak ia kenal hanya sekedar tahu saja.
"Kalau bukan istriku yang beritahu, aku pasti sudah berpikir anda berselingkuh," ucap orang pertama.
"Saya tidak berani untuk selingkuh, apa lagi istri saya ini sudah cukup sempurna bagi saya," ucap Bimo seraya menatap istrinya. Mutia yang sedang bersandar pada kursi justru tersipu dengan pujian suaminya.
Bimo bangkit dari kursinya ketika melihat beberapa orang ikut berdiri untuk memberikan ucapan selamat kepada tuan rumahnya. Bimo menggandeng mesra Mutia melewati Devi yang terlihat akan menerkam mereka berdua.
Devi memberi isyarat kepada pelayan wanita untuk segera menjalankan aksinya ketika mata mereka saling menatap, pelayan itu hanya mengangguk.
Mutia meminta Hendra untuk berjalan bersama, Mutia menarik manja papahnya, akhirnya Hendra, Maria juga Devi ikut berdiri di dekat Bimo dan Mutia.
Mutia berjalan menggandeng papahnya singkat bahkan mengusap lengan papahnya tanda sayang dan perhatian Mutia kepada Hendra. Hendra mengecup kening putrinya, sebagai balasan perhatian dari Mutia.
Kesempatan itu diambil oleh Devi yang tiba-tiba saja menggandeng Bimo di sekitar keramaian, membuat Bimo reflek menepisnya dan hal yang tidak terduga pelayan wanita itu menyenggol Devi hingga Devi harus jatuh ke lantai dan bertumpu pada meja prasmanan, sehingga makanan yang berada di meja harus jatuh ke tubuhnya.
"Argh!!" Devi memekik.
Maria yang berjalan di dekatnya tak sempat menangkap putrinya, dengan cepat Maria menarik Devi, karena high heels Devi terlalu panjang membuatnya sulit berdiri sampai terjungkal kembali.
"Tolongin dong!" pinta Maria kesal. Padahal sejak tadi Hendra pun sudah berusaha membantu membangunkan.
Tubuh Devi penuh saos dan bumbu masakan lainnya, untung saja semua tamu sudah menikmati hidangan jika belum sudah pasti para tamu akan kecewa karena makanannya sudah tidak ada lagi.
Tidak hanya merasa kasian di antara tamu juga ada yang tertawa menyaksikan tubuh Devi yang kotor.
__ADS_1
"Kamu ini bagaimana, sih! Lihat pakaian aku jadi kotor," oceh Devi kesal pada pelayan.
"Maaf, saya tidak sengaja."
"Kamu harus membayar ganti rugi!"
Mutia segera mendekati keduanya, Mutia mendesis menyuruh Devi untuk diam. "Ssss, Kaka sayang. Jangan buat malu, lebih baik Kaka pulang, Kaka tidak lihat semua menatap ke arah Kaka," ucap Mutia pelan dan mencoba membersihkan sisa kotoran di pakaian Devi.
Devi melihat ke sekelilingnya, ternyata benar, semua orang menatapnya bahkan wajah mereka terlihat ada yang meringis, serta tersenyum mengejek.
"Lain kali, jika ingin mengerjai aku, gunakan dengan benar." Mutia tersenyum dengan suara yang pelan.
Devi terkejut mendengar ucapan Mutia. "Jadi, kalian sengaja?" Devi berbisik sembari tangannya mengepal kuat diantara gaunnya. Matanya juga menatap kesal ke arah pelayan wanita suruhannya.
"Awas kalian!"
"Ssst, aku merekam pembicaraan kalian, dan aku akan melaporkannya ke polisi jika kamu mengganggu dia," ancam Mutia.
Maria ikut mendengarkan pembicaraan putrinya dan putri sambungnya, meski terlihat sedang saling membantu tetapi mereka seperti sedang menusuk satu sama lain.
"Papah duluan sayang, kamu berhati-hati," ucap Hendra yang berjalan di belakang Maria. Mutia mengangguk.
Suara pesan masuk bergantian di ponsel para tamu, seperti suara pesan berantai, dan pesan itu juga masuk melalui ponsel Mutia, Mutia mengambil ponselnya di dalam tas mungilnya.
Sebuah pesan SMS dari nomor tidak dikenal meninggalkan pesan teks berupa link, di antara mereka sudah ada yang membukanya, kemudian menunjukkan kepada teman-teman yang lain, membuat mereka membuka link yang berada di ponsel mereka.
Mutia tidak kalah terkejut ketika foto Devi dan pria muncul di ponselnya, sehingga Mutia berjalan mendekati Devi yang di rangkul oleh Maria.
Devi menariknya dan memfokuskan penglihatannya yang ternyata itu benar dirinya, Devi menoleh ke semua tamu undangan yang tiba-tiba saja mengeluarkan suara karena membicarakan foto tersebut.
Dengan cepat Devi berjalan meninggalkan gedung dengan wajah paniknya, Maria juga Hendra tak kalah malunya dengan perbuatan Devi.
Plak! Devi memegang pipinya, sebelum Hendra yang memukulnya Maria sudah lebih dulu memukul putrinya, ia tentu tidak akan terima jika Hendra memukul putrinya atas kesalahan yang di perbuat Devi.
"Papah tidak menyangka, Devi! beliau itu rekan kerja papa, mau di taruh di mana muka papa jika bertemu dengan mereka, hah, jawab?"
__ADS_1
"Devi butuh uang, Pah."
"Papa selalu membelikan apa yang kamu mau, Devi." Nada Hendra sudah menurun, ia tidak bisa berbuat apa-apa pada putri sambungnya karena mungkin kebutuhan glamornya tidak bisa di sanggupi oleh Hendra.
"Itu tidak cukup, Pah."
Hendra terduduk di sofa, memijat ujung dahinya. Ia. Rasa malu yang amat sangat dirasakan oleh Hendra mau bagaimana pun Devi adalah putrinya meski hanya anak sambung.
"Sebaiknya kamu angkat kaki dari sini, Devi."
"Papah!" Maria dan Devi berbarengan.
"Bagaimana bisa kamu mengusirnya!" Maria marah.
"Aku akan berpura-pura tidak terjadi apapun asal Devi keluar dari sini."
"Anakku akan tinggal di mana?"
Devi mulai tergugu menangis, ia juga bingung akan tinggal di mana, selama ini kebutuhannya di siapkan oleh Maria juga Hendra.
"Jika, Mas mengusirnya, maka aku juga akan pergi!"
Mendengar kalimat Maria membuat Hendra membuka mata lebar ke arah Maria.
"Kamu mengancam?"
"Aku tidak suka kamu bersikap kasar pada putriku."
"Kasar, sejak kapan? Anakku kalian hina saja, aku tidak memukulnya, bahkan masalah ini saja kamu yang memukulnya, Maria."
"Aku sudah mengambil keputusan, Devi harus meninggalkan rumahku sebagai hukumannya."
Hendra berjalan masuk ke dalam kamarnya, Maria bermaksud ingin meminta Hendra untuk tidak menghukum putrinya, tetapi saat Maria menarik tangan Hendra justru Hendra terkilir dan jatuh, kepalanya menghantam meja sehingga Hendra jatuh pingsan.
"Pah!" teriak Devi dan Maria terkejut melihat darah keluar cukup deras dari pelipisnya.
__ADS_1
"Tolong!" Teriak Maria menaruh Hendra ke pangkuannya. Meski kesal Hendra tetaplah suaminya.