
Sebuah undangan terselip di antara berkas yang harus di tanda tangani oleh Bimo, Bimo membuka dan membacanya.
"Kenapa aku baru menerimanya?"
"Anda sudah melihatnya ketika kita berangkat ke Bandung, sepertinya anda lupa."
Bimo membukanya dan ia tersenyum, sepertinya undang pernikahan koleganya.
"Tolong siapkan pakaian untuk Mutia, aku ingin istriku terlihat cantik," ucap Bimo sambil mengayunkan undangan di tangannya.
"Baik." Bimo segera menekan tombol pada ponsel dan menghubungi Lia, memerintahkan Lia untuk memilih gaun agar Mutia terlihat sempurna mendampingi Bimo.
"Lia akan mempersiapkan semuanya untuk non Mutia," ucap Tio memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Terima kasih."
"Sepertinya mertua anda juga akan hadir, karena mertua anda mewakili perusahaannya, dan sepertinya Devi akan berada di sana juga. Saya khawatir di sana Devi akan melukai non Mutia."
"Kita bersiaga saja, terima kasih, Tio."
Tio mengangguk singkat kemudian pergi meninggalkan ruangan Bimo.
Beberapa jam setelah Tio meninggalkan ruangan Bimo, suara keributan terdengar dari luar, seseorang memaksa masuk bahkan lolos dari Tio, wanita itu menerobos masuk ke dalam ruangan Bimo.
"Lepaskanlah!" Devi memberontak. "Mas Bimo!!"
Bimo bersandar di kursinya lalu memberi isyarat dengan tangannya untuk melepaskan kakak iparnya tersebut. "Panjang umur sekali wanita ini," ucap Bimo pelan.
Devi segera masuk kemudian duduk di hadapan Bimo. "kenapa tidak ada kabar setelah beberapa hari? Tanya Devi menatap harap ke arah Bimo.
"Apa yang harus aku beri kabar kepadamu?"
"Kita sudah tidur bersama, Mas. Jangan buang aku begitu saja."
Bimo tersenyum seringai tanpa memandang ke arah Devi, ingin rasanya wanita di hadapannya ini segera mendapatkan hukumannya sehingga rasa sakit hati Mutia terbayarkan.
"Pulanglah, aku sedang sibuk."
"Jika Mas Bimo terus mengacuhkan aku, aku akan beritahu Mutia kalau kita sudah tidur bersama."
__ADS_1
Bimo tidak perduli, ia hanya terus mengamati berkas di mejanya. Devi akhirnya meninggalkan ruangan Bimo dengan kesal.
Bimo menekan tombol di mejanya, tak lama kemudian Tio masuk ke dalam ruangan Bimo, ia berdiri tegap siap menerima perintah dari atasannya.
"Aku ingin foto itu segera di keluarkan."
Mendengar perintah Bimo, Tio mengangguk dan berjalan keluar, ia tahu betul dengan maksud atasannya, ponselnya ia buka dan menelpon seseorang di seberang sana.
"Luncurkan sekarang." perintah Tio dengan tegas pada anak buahnya. Kemudian Tio berjalan menuju ruangannya.
***
"Apa ini?" tanya Mutia heran.
"Anda harus bersiap-siap, tuan Bimo akan menjemput anda."
Mutia membuka paper bag dengan logo Merk terkenal. Sebuah gaun berwarna biru Dongker selutut dengan bagian belakang yang sedikit terbuka, setidaknya pakaian itu akan memperlihatkan bagian punggung Mutia.
"Ini sangat cantik, tapi kenapa sangat terbuka?"
"Hanya sedikit, Nona. Anda pasti terlihat cantik."
"Acara pernikahan kolega tuan Bimo."
Mutia mengangguk pelan, ia harus tampil cantik agar suaminya merasa senang berdampingan dengannya. Mutia segera membersihkan diri, ia tidak ingin suaminya menunggu lama, karena wanita lebih banyak menghabiskan waktu di cermin.
Mobil Bimo sudah terparkir di halaman, Tio sudah memberi pesan bahwa Bimo sudah bersiap dari kantor dan akan segera berangkat.
Mutia segera turun ketika Lia menyampaikan pesan dari Tio. Dengan perlahan Mutia turun ke bawah, terlihat cantik dan elegan. Membuat Bimo terpesona ketika melihat Mutia, pakaian Bimo pun senada dengan warna pakaian Mutia.
Bimo menjulurkan tangannya untuk menyambut mutia. "Kamu sangat cantik, Mutia."
Pipi Mutia merona, membuat Bimo mengusap lembut pipi istrinya. "Terima kasih, Mas. Kamu juga terlihat tampan."
Bimo menaruh kening ke kening Mutia bahkan memberikan kecupan singkat di bibir Mutia, tangannya menyentuh punggung Mutia yang membuat dirinya terkejut karena dapat menyentuh kulit mulus istrinya. Bimo memutar tubuh istrinya dan melihat kulit putihnya terpampang jelas.
"Kenapa gaunmu terbuka?"
"Aku hanya memakai pakaian yang di berikan Lia, bukankan ini pilihanmu, Mas."
__ADS_1
Bimo melirik Lia juga Tio dan menatap tajam, Bimo memang yang memilih pakaian itu tetapi ia tidak tahu jika punggung istrinya akan terlihat seperti itu, dan ini akan memancing mata liar pria lain.
"Kalau begitu, aku akan menggantinya."
"Tidak perlu, kenakan blezer atau apapun itu."
"Itu akan mengganggu kenyamanan nona Mutia, tuan." Lia tiba-tiba saja menimpali.
"Lihat! Punggung istriku dapat di lihat Tio."
Tio yang namanya di sebut langsung memutar tubuhnya. Ia tidak ingin menjadi sasaran kecemburuan bosnya.
Bimo memijit pelipisnya, waktu mereka tidak cukup jika harus membeli warna yang sama, atau ia akan repot jika memilih pakaian lain. Dengan kesal Bimo pasrah saja melihat istrinya memakai gaun pilihannya sendiri.
Mutia menjadi pusat perhatian orang di pesta pernikahan, di sana juga ada klub BTS serta anggota yang lain, mereka jadi banyak mengobrol karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Di pesta itu pula Mutia dapat bertemu dengan papahnya, ketika acara di mulai, Mutia duduk bersama di meja yang sudah disiapkan oleh panitia dan terpaksa harus terpisah dengan papahnya.
Kesibukan serta terhanyutnya dengan acara pernikahan yang sangat meriah, membuat Devi memanfaatkan kelengahan orang-orang di sana. Ia berjalan keluar yang diam-diam di ikuti Mutia .
Mutia berpamitan untuk ke toilet, sehingga ia harus keluar ruangan tanpa Bimo. Tanpa sepengetahuan Devi, Mutia mendengar pembicaraan Devi dengan seorang pelayan.
Setelah kepergian Devi, Mutia justru menangkap pelayan wanita tersebut. Dengan gemetar pelayan itu meminta maaf dan akan mengembalikan uang yang sudah diberikan Devi kepadanya.
"Aku memaafkan kamu, dengan satu syarat, laksanakan tugasnya."
pelayan wanita itu terheran, bahkan Mutia memberikan uang lebih banyak lagi ke tangannya. "Tapi, nyonya."
Mutia tersenyum. "lakukan tugasmu, tetapi berpindah target, lakukan padanya bukan padaku, setelah itu pergilah yang jauh jika uang yang aku berikan kurang hubungi aku," ucap Mutia.
Tentu saja pelayan itu mengangguk pasti, karena ia benar-benar membutuhkan uang, apa lagi ia bekerja di pernikahan ini hanya panggilan yang tentu saja akan mengangur setelah pesta ini selesai, uang yang di berikan Mutia sangat banyak bahkan cukup untuk ia pulang ke kampung halamannya.
"Baik nyonya, tapi apa saya tidak akan di penjara?"
"Saya sudah merekam pembicaraan kalian, jika ia mengadukan ke polisi, aku jamin wanita tadi akan masuk penjara juga."
Pelayan wanita itu tidak menolak lagi, ia segera meninggalkan lorong kemudian di susul Mutia. Mereka berjalan terpisah. Mutia kembali duduk bersama Bimo, sedangkan wanita itu sengaja berdiri dekat dengan Mutia agar Devi berpikir jika pelayan itu sedang bersiap untuk mencelakai Mutia.
Tampak wajah Devi terlihat puas, ia tidak sabar dengan hasil kerja pelayan wanita yang sekarang duduk di belakang Mutia.
__ADS_1