Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Lamaran


__ADS_3

Setelah makan malam, Hendra mengajak putrinya bicara berdua ditemani secangkir teh hangat, dan sebuah amplop biru muda yang sudah ada di atas meja, amplop yang Bimo berikan kepada Hendra tadi malam. Bapak dan anak itu mengobrol di teras depan. Hendra sedikit ragu saat hendak menyampaikan kalimat kepada Mutia.


"Ada apa, Pah? Sepertinya penting."


Hendra mengangkat cangkir, meniup udara panas dari tehnya dan meminumnya sedikit demi sedikit kemudian menaruhnya kembali.


"Papah ingin kamu menikah dengan Bimo." Mutia terkejut dan raut wajahnya berubah. "Bimo menemui papah untuk melaksanakan wasiat terakhir Bayu." Hendra menyerahkan amplop biru muda ke tangan Mutia.


Mutia membaca surat wasiat Bayu, tertulis bahwa Bimo harus menikahi putri Hendra sebagai balasan jasa Hendra padanya.


"Karena kamu belum menikah, perempuan, dan memenuhi syarat maka papah menerima surat wasiat terakhir Bayu. Papah harap kamu menyetujui, maafkan papah kali ini memaksa."


"Bagaimana dengan Bimo, Pah?"


"Bimo setuju."


Mutia tertunduk, tubuhnya gemetar menahan sedihnya, bagaimana bisa ia menerima pernikahan ini, ia tidak mencintai Bimo lalu bagaimana perasaan Bimo ketika ia tahu kalau istrinya sudah tidak gadis lagi, pasti ia akan sangat kecewa.


"Apa Muti bisa menolaknya?"


"Papah harap kamu setuju."


Air matanya sudah tidak tertahan lagi, air itu terjun begitu saja membasahi pipinya, Hendra hanya melirik sebentar kemudian kembali menyesap minumannya. Hendra sadar betul keputusan ini salah karena memaksa putrinya menikah tanpa cinta.


Tapi, wasiat sahabatnya tidak salah juga karena demi persahabatan dan persaudaraan kenapa tidak ia terima toh Bimo anak yang mapan dan tampan, ia juga pemuda yang patuh. Bimo pun menerima kekurangan fisik Mutia karena berat badannya. Andai saja pria lain pasti sudah menolak menikah dengan Mutia.


...***...


Satu hal yang terjadi setelah menangis semalaman, mata sembab, tubuh tak bertenaga dan kepala yang pusing. Rasa yang sama ketika di khianati Dirga harus terulang lagi. Akan tetapi ini rasa nikah paksa, rasa takut bukan patah hati.


Yang paling menyebalkan lagi Mutia harus bertemu Lala dan Dirga di pintu lift, mereka dapat melihat kesedihan dari wajah Mutia.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mutia." Dirga mencoba mendekat tapi Lala segera menahannya.


Mutia hanya menarik sudut bibirnya, dirinya tidak mau terbuai lagi oleh mulut manis Dirga. Melihat tingkah mereka berdua kemarin saja Mutia muak, Mutia mendorong paksa pintu pantry sehingga Dirga dan Lala yang sedang berciuman kelabakan. Dengan santai Mutia masuk, mengambil cangkir dan kopi lalu menyeduhnya. Mutia hanya melirik seraya tersenyum kemudian meninggalkan mereka dengan luka yang terkorek kembali.


Ponsel Mutia berbunyi ketika sedang bekerja, kepalanya bertambah pusing setelah di marahi oleh Rosa perkara proposal yang di tukar oleh Lala.


"Halo?"


"ini aku, Bimo."


Mutia terkejut bagaimana bisa Bimo mendapatkan nomornya. "Darimana anda tahu nomor telepon saya?"


"Hanya isi hatimu yang aku tidak tahu, Mutia." Mutia mengerutkan alis dan memijat keningnya karena semakin pusing. "Apa kita bisa bertemu dan makan siang bersama?"


Mutia menarik napas, ada rasa takut untuk bertemu Bimo, karena pasti mereka akan membicarakan soal perjodohan mereka. Apa ia harus jujur saja jika sudah tidak gadis lagi dan pernah akan di jual oleh Bundanya? Apa Bimo bisa percaya meski jelas Mutia tidak memiliki buktinya.


"Baiklah, dimana kita akan bertemu?"


"Aku akan menjemputmu." Ponselnya di matikan oleh Bimo.


Bimo sengaja melakukannya karena pasti Mutia tidak ingin di jemput dan memilih untuk bertemu langsung di tempat. Tanpa sepengetahuan Mutia, Hendra sudah bicara kepada Bimo soal pernikahan dan Mutia belum menjawabnya. Bimo mengambil kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Mutia.


Bimo sudah menunggu Mutia di lobi, Bimo baru memberi kabar kepada Mutia lima menit sebelum jam makan, membuat Mutia terkejut dan bergegas turun ke bawah tidak mau membuat Bimo menunggunya terlalu lama, tangannya berkeringat ia gugup bagaimana cara menyampaikannya pada Bimo.


Semua pasang mata memandang ketika Bimo menunggu Mutia, ia berdiri di dekat meja resepsionis. Tubuhnya tegap, tinggi dan tampan, pakaiannya juga terlihat rapi dan maskulin. Semua gadis memuji penampilan sempurna Bimo.


Bimo segera menoleh ketika pintu lift terbuka, menatap Mutia dengan senyum manis, Hati Mutia sempat bergetar melihat senyuman yang terlihat tulus dari Bimo yang kemudian ia tepis karena Dirga juga pernah memiliki senyum seperti itu.


"Maaf, membuat mas Bimo menunggu?"


"Tidak, ayo." Bimo mempersilahkan Mutia untuk berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


Tio berdiri di samping mobil membukakan pintu untuk Mutia, Bimo mengambil alih pintu mobil dan mempersilahkan Mutia untuk duduk.


"Terima kasih."


Bimo menutup pintunya dan berjalan memutar untuk duduk disebelah Mutia. Yang pintunya sudah dibukakan oleh Tio. Kemudian Tio mulai menjalankan mobilnya ke restoran yang sudah ia pesan.


Mereka tidak bicara hanya diam membisu penuh ketenangan hingga Sampai ke tujuan, sebuah restoran seafood yang berada di kawasan Karawaci, Bimo sudah memesan banyak menu untuk mereka makan.


"Wah, mas Bimo pandai sekali menyambut tamu, tahu saja kalau tamunya banyak makan sehingga memesan makanan cukup banyak," ucap Mutia ketika melihat meja sudah banyak makanan.


"Maaf Kamu jangan tersinggung, karena saya tidak tahu kesukaan kamu apa, makanya saya memesan banyak makanan."


"Saya tidak tersinggung, Mas. Saya hanya menyampaikan apa yang saya pikirkan."


Bimo tidak lagi bicara, ia tahu gadis di hadapannya ini sedang tersinggung tetapi ia tak ada maksud untuk menyinggung perasaan Mutia.


Mutia dan Bimo menikmati makan siang hanya dengan suara garpu dan sendok yang saling beradu. Kesepian itu berlangsung hingga selesai makan dan Bimo mengantar kembali Mutia ke kantornya. Tio terus melirik lewat kaca spion berharap kesepian segera hilang.


Mobil Bimo sudah berhenti di depan kantor Mutia, mereka masih saja diam hingga akhirnya Mutia pamit tanpa menoleh kearah Bimo.


"Terima kasih untuk makan siangnya."


Bimo terus menatap wajah Mutia dari samping secara intens sejak berada di mobil, Bimo menahan tangan Mutia. "Ada yang ingin kamu sampaikan?"


Tio memilih keluar dari mobil membiarkan Bimo bisa leluasa berbicara dengan Mutia.


"Sebaiknya kita batalkan perjodohan kita, tidak akan jadi masalahkan?"


"Beri aku alasan."


Mutia terdiam, matanya sudah mengembang, ia malu dan takut untuk menyampaikannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, tolong rahasiakan ini dari papah." Mutia menguatkan diri, menarik napas kemudian melepaskannya. "Aku sudah tidak gadis lagi, bahkan aku tidak tahu siapa yang sudah tidur denganku."


Tio mengetuk jendela mobil, sepertinya ada urusan yang tidak bisa di tunda oleh Bimo. Mutia pamit meninggalkan Bimo yang belum sempat menyampaikan kata untuk Mutia.


__ADS_2