
Keterangan Maria juga Devi di nilai polisi hanya kecelakaan bukan karena kelalaian, maka dari itu maria tidak sampai di tahan hanya harus melaporkan diri jika di butuhkan oleh pihak kepolisian. Maria dipersilahkan pulang sedangkan Devi terjerat kasus vidio asusila dengan beberapa Pengusaha, para istri dari beberapa pria melaporkannya.
Maria bingung bagaimana cara membantu putrinya, menyewa pengacara cukup mahal biayanya.
"Bunda, tolong Devi, Bun," mohonnya pada maria sebelum Maria pamit pulang.
"Bunda akan usahakan," ucapnya menenangkan putrinya.
"Bunda, jual saja semua barang papah, dan kita pergi saja dari kota ini."
Mungkin benar kata Devi menjual rumah milik Hendra adalah jalan satu-satunya. Tetapi, ia tidak berani melakukannya atau akan ada lagi masalah yang akan ia hadapi.
"Kamu jangan menambah masalah baru, Devi."
"Lalu aku bagaimana, Bunda. Aku tidak mau terus berada si tempat ini."
Maria bergegas pulang, karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi, ia harus meminum obat penenang setiap kali rasa cemas datang.
Tadi siang, Maria tidak sempat menemukan obat yang ia inginkan, karena obat yang di milikinya sudah habis, ia segera menghubungi seseorang yang selalu memberikannya obat.
Tidak membutuhkan waktu lama, seorang pria datang menemui Maria di rumahnya, Maria yang baru saja membersihkan rumahnya tampak lelah ketika menerima tamunya.
"Rumah anda terlihat kacau, Nyonya."
Maria hanya diam dan duduk di sora dengan amplop kecil berisi uang.
"Bukannya suami anda sedang berada di rumah sakit?" ucap pemuda itu duduk tak jauh dari Maria.
"Apa hubungannya dengan obat yang aku pesan?"
"Seharusnya anda menemani suami anda, kan?"
"Peduli apa kamu! Cepat berikan dan sana pergi!"
Pemuda itu terkekeh mentertawakan Maria yang kesal, pemuda itu merogoh tasnya dan memberikan satu botol berukuran kecil kemudian mengambil uang bayarannya yang berada di meja dan segera pergi dari rumah Maria.
Pemuda itu benar, harusnya ia bersama Hendra saat ini. Meskipun ia membenci Hendra tapi hendra adalah suaminya dan ia juga memiliki rasa oleh karenanya ia mau menikah dengan Hendra.
Toh, tetap saja dia lah sumber kesalahan di masa lalu, andai saja ia memilih Hendra tidak mungkin Hendra menikahi ibunya Mutia. setelah menenggak satu butir obat yang ia bilang obat penenang, Maria segera membersihkan diri dan akan menemui Hendra.
Dengan menggunakan taksi online, Maria menuju rumah sakit di mana Hendra masih terbaring koma. Mutia lah orang yang pertama kali ia lihat.
__ADS_1
Mutia yang juga melihat kedatangan Maria segera berdiri dan menghalangi datangnya Maria, ia tidak suka wanita itu berada di sini.
"Mau apa anda ke sini?"
"Saya tidak mau berdebat dengan kamu Mutia, saya hanya ingin mengurus suami saya."
"Cih, apa anda sudah lupa, anda lah yang menyebabkan papah berbaring sekarang." Suara Mutia sudah meninggi.
Bimo yang sejak tadi berada di dekat Mutia memegang erat pundak istrinya, ia berusaha menenangkan amarah Mutia.
"Itu murni kecelakaan," ucap Maria dengan mata yang menatap kesal ke arah Mutia.
"Anda tidak boleh berada di sini, papah akan menceraikan anda ketika ia sadar."
Maria terkekeh. "Bagaimana bisa ia menceraikan saya, jelas papahmu sangat mencintai saya dari pada ibumu."
Tangan Mutia mengepal kuat, ia tidak bisa lagi menjawab jika sudah mengenai ibunya, berdebat dengan Maria tidak akan ada habisnya, wanita tua itu memiliki keunggulan masalah cinta dari Hendra.
Maria mulai meninggalkan Mutia yang terus menatapnya kesal, Maria memandangi tubuh Hendra yang terbaring tidak sadarkan diri, bahkan matanya sidah berkaca.
"Maafkan aku, Pah," ucap Maria pelan memandang Hendra di balik kaca.
Sementara Mutia bicara sambil berbisik menanyakan kepada Bimo bagaimana bisa Maria tidak di tahan polisi.
"Papah sangat mencintai bunda, mana mungkin papah rela wanita itu di tahan."
Melihat kondisi Mutia, Bimo meminta Mutia untuk beristirahat di rumahnya malam ini.
"Sebaiknya kita pulang untuk Beristirahat, Mutia. kamu sejak semalam belum tertidur."
"Aku tidak ingin jauh dari papah, Mas."
"Kalau kamu sampai jatuh sakit, apa papah akan senang melihatnya."
"Bagaimana dengan papah, aku tidak mau bunda yang menemani papah, Mas."
"Lia yang akan menjaga papah malam ini, Tio juga harua beristirahat."
"Baiklah."
Mutia, Bimo dan Tio mulai meninggalkan rumah sakit tanpa berpamitan dengan Maria. Bimo juga meminta dokter mendahului Lia jika ada masalah dengan Hendra, Maria dibuat tidak memiliki akses untuk menyentuh suaminya.
__ADS_1
"Mereka benar-benar kurang ajar," bisik Maria.
Diperjalanan pulang Mutia baru ingat, ia seharusnya mengambil ponselnya yang ia titipkan di tempat perbaikan ponsel, di ponselnya ada rekaman suara milik Maria dan Devi ketika dirinya di jual kepada Om Irwan, Mutia berharap rekaman itu dapat pulih dan dapat dijadikan bukti agar papahnya dapat menceraikan Maria.
Mendengar hal itu, Tio bersiap akan mengambilnya besok. Mutia merogoh tasnya dan mengambil kertas sebagai bukti tanda terima kemudian menyerahkannya kepada Tio, agar Tio tidak di persulit ketika akan mengambil ponsel miliknya.
"Terima kasih, Ka Tio."
"Sama-sama, Nona."
"Sejak kapan kamu memanggilnya kaka?"
Mutia yang di berikan Pertanyaan dari Bimo terlihat bingung.
"Kapan ya? Mutia juga lupa," ucapnya singkat.
Bimo jadi gemas dan mencubit pipi Mutia. "Bagaimana bisa istriku ini dan orang kepercayaannya ku memiliki panggilan sayang tanpa sepengetahuanku."
"Apa sih, Mas. Aku menghormati ka Tio karena dia lebih tua, itu saja."
"Kecemburuan anda tidak masuk akal, Tuan." Tio segera meluncurkan kalimat setelah mutia bicara membuat Bimo membulatkan matanya karena terkejut.
"Kamu mulai berani bersuara, Tio?"
Mutia memukul dada Bimo untuk menghentikan candaan Bimo yang tidak lucu. Bimo hanya mengaduh karena pukulan Mutia sangat kuat.
"Aduh, kamu sudah berani memukul suamimu?"
"Karena bicara kamu tidak lucu, Mas. jangan cemburu dengan hal yang tidak harus kamu cemburui."
"Loh, aku hanya bertanya, tetapi tanggapan kalian aneh."
"Saya akan membantu anda nona untuk memukul tuan."
Mutia merasa senang, karena baru kali ini Tio berada di pihaknya, selama ini Tio hanya akan mendengarkan Bimo saja.
Bimo hanya menarik napas dan bersandar, kali ini ia kalah karena di serang oleh kedua orang yang ia sayanginya, ia juga senang karena Mutia terlihat baik-baik saja.
Mutia menyandarkan kepalanya di bahu Bimo seraya melingkarkan tangannya di tangan Bimo dan mencoba memejamkan mata sesaat sebelum tiba di rumah.
Bimo mengusap lembut pucuk kepala Mutia bahkan mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Istirahatlah sayang, semua akan baik-baik saja."