Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Bukti yang hancur


__ADS_3

Mutia harus segera pulang ia tidak ingin membuat Hendra seorang diri di rumahnya, Ketika menuruni tangga, Lala sudah berdiri di pintu kamarnya, ia menarik tangan Mutia dengan kasar.


"Apa sih, La!"


"Jangan kecentilan menggoda Dirga, dia itu milikku dan selamanya akan jadi milikku." Lala sadar betul jika Dirga mulai menyukai wanita gendut dihadapannya sekarang.


"Kamu ini lucu, La. Di hadapan Bu Rosa aku sudah mengatakan bahwa Dirga bukanlah siapa-siapaku dan kalau tidak salah dengar kamu juga menolak keberadaan Dirga, kan?"


"Aku hanya melindungi pekerjaannya, seperti kamu, kan. Aku tahu kamu sangat mencintai Dirga."


"Ya, kamu benar, aku sangat mencintainya, jika kamu memang sudah tidak menginginkannya, maka serahkan dia padaku." Cih, Mutia jijik mengakuinya di hadapan Lala. Memang benar jika dirinya sangat mencintai Dirga. Tapi, karena pria itu mempermainkan perasaannya apa pria itu berhak mendapatkan cinta tulusnya.


Lala menarik kerah kaos Mutia karena kesal mendengar jawaban Mutia.


"Lepaskan!"


"Awas saja, kau!"


"Talk my hand." Mutia menyeringai lalu pergi.


"Aku akan membalasmu, Mutia!"


Mutia tidak perduli dengan ancaman Lala terhadapnya, ia akan mempersiapkan diri jika sampai dipecat nanti.


Mutia kembali ke rumah Hendra tepat pada jam makan malam, mereka duduk bersama di meja makan menikmati makan malam yang sudah di siapkan bi Nurul.


"Pah, Mutia akan kembali ke sini." Perkataan Mutia mampu membuat Maria dan Devi ternganga Tapi tidak dengan Hendra, ia terlihat senang.


"Syukurlah, kamu mau kembali, Sayang," ucap Hendra.


Ancaman Maria kemarin ingin membuat Hendra dan mutia terkapar di jalan membuat mutia bergidik, bagaimana bisa orang terdekatnya begitu kejam, ia memutar otaknya bagaimana cara memisahkan papahnya dari Maria. Mereka benar-benar benalu tidak tahu diri, sudah diangkat derajatnya malah ingin mencelakainya.


Sejujurnya Mutia sudah sejak awal tidak menyukai Maria dan Devi, tapi Mutia paham betul kalau Hendra membutuhkan sosok seorang wanita di sisinya, dan Maria adalah mantan kekasih saat di sekolah dulu. Entah ada masalah apa membuat Hendra dan Maria berpisah dan Hendra memilih salsa sahabatnya sendiri dan menikahinya setelah mereka berpacaran selama satu tahun.

__ADS_1


"Tapi, Pah. Dia mau tidur di mana?" Protes Devi.


"Ya di kamar ku lah, aku baru kos lima bulan saja, kamarku sudah Kaka jadikan ruang pakaian. Enak saja." Mutia menyela.


Devi membuka lebar matanya, sedangkan Mutia menyeringai, membuat Devi semakin terlihat kesal.


"Sudah, kalian jangan ribut, berikan saja kamar Mutia kembali, Dev. Nanti ruang di sebelahmu di skat saja untuk ruang pakaianmu. Kapan kamu kembali, sayang?"


"Secepatnya, Pah, mungkin besok. Oh iya, Pah. Mutia juga berencana akan berhenti bekerja." Mutia ingin meninggalkan lingkungan yang berkaitan dengan Dirga dan Lala.


"Loh, kamu mau menganggur?" Kini Maria yang protes.


"Hanya berencana, Bunda. Kalaupun ia nanti aku akan mencari pekerjaan lain, aku pasti menghasilkan uang lagi."


"Kamu ini, nambahin pengeluaran saja, ingat ya, Papahmu butuh uang untuk obatnya."


Mutia terkekeh. "Yang menganggur itu ka Devi, Bunda. Sampai sekarang kuliah saja tidak selesai. Ngapain aja?"


"Kamu!" Devi geram. Mungkin jika Maria tidak menahannya, si Devi itu sudah menjambak rambut Mutia.


"Maksud Papah, aku ini bodoh!?" Devi yang mendengar kata beasiswa merasa tersinggung kalau dirinya ini bodoh dan menghabiskan uang papah tirinya. Mutia tersenyum tipis.


"Papah tidak bicara seperti itu, kapan papah bilang kamu bodoh? Jangan asal menyimpulkan sendiri."


"Sudah, sudah. Cepat makan atau selera makanku bisa hilang." Protes Maria.


Setelah makan, Devi dengan kesal mengeluarkan isi kamar yang selama ini ia gunakan sebagai lemari pakaian miliknya yang lumayan banyak, saking banyaknya mampu membuat toko pakaian.


"Mulai berani si babi itu." kesal Devi bicara dengan Maria. Yang sedang menumpukkan pakaiannya.


"Ah, ponsel sialan." Maria mematikan ponselnya yang terus berdering. Irwan yang seharusnya dapat bercinta dengan Mutia merasa kesal dan akan menuntut Maria juga Devi atas penipuan, bahkan *********** masih terasa sakit karena mendapat tendangan dari Mutia.


"Apa obat yang kita berikan pada si Babi kurang banyak, Bun, sehingga ia bisa meloloskan diri?"

__ADS_1


"Sepertinya begitu."


"Apa benar om Irwan akan mengadukan kita ke polisi?"


"Sepertinya tidak mungkin, karena ia akan terlibat dengan kasus pemerkosaan jika Mutia melaporkannya."


"Apa kalian tidak takut jika aku melaporkan kalian berdua?" Mutia tiba-tiba muncul di ambang pintu, ternyata Mutia sudah sejak tadi mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu. Mutia juga menggoyangkan ponsel di tangannya.


Ibu dan anak itu terkejut dan menduga kalau Mutia telah merekam pembicaraan mereka.


"Bunda benar, aku telah merekam pembicaraan kalian tadi."


Dengan cepat Devi dan Maria berusaha merebut bahkan terjadi tarik menarik di antara ketiga wanita itu, sayangnya Mutia kurang gesit, mungkin karena tubuhnya yang besar sehingga ponsel itu dapat di ambil oleh Devi yang berhasil membanting ke lantai dan menginjak-injak hingga hancur.


Hendra yang mendengar keributan tersebut hingga menghampiri mereka.


"Ada apa?!"


Saking terkejutnya mereka mematung. Mutia terkekeh membuat semua orang menatapnya.


"Lihat, Pah. Ka Devi seperti anak kecil, ponselku di bantingnya hingga hancur."


"Memangnya apa sih, yang kalian ributkan?" tanya Hendra yang kini memperhatikan ketiganya.


"Mutia hanya mengambil foto ka Devi sedang mengupil, Pah." Tidak mungkin Mutia mengatakan sebenarnya, bukti yang ia dapat sudah hancur jika Mutia jujur tanpa bukti dialah yang akan kena imbasnya. "Ka Devi! Mutia gak mau tahu, belikan Mutia ponsel yang baru!" Mutia berpura-pura merajuk dan melarikan diri ke kamar yang selama ini ia pakai saat menginap, kamar samping gudang.


"Tapi_" suara Devi terhenti.


"Biar Bunda yang ganti, lain kali kamu jangan seperti itu, bercanda sebagai Kaka beradik itu biasa," oceh Maria. Ia juga tidak ingin mengadu kepada suaminya, jika mengadu yang ada dialah yang akan jadi tersangkanya.


"Kalian ini benar-benar aneh," ucap Hendra lalu pergi melanjutkan lagi menonton televisi.


"Tahan emosimu, Bunda tidak mau Hendra kena serangan jantung dan mati cepat, kita masih butuh makan dan tempat tinggal, kan?"

__ADS_1


Devi yang manja terlihat kesal hingga cemberut dan hampir menangis.


Sedangkan di kamar, Mutia kesal barang buktinya hancur. "Apa ponsel ini bisa di perbaiki?" Ia melihat ponselnya sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Ia simpan ponselnya ke dalam tasnya, ia merapikan beberapa barang yang ada di kamar ini untuk ia pindahkan ke kamarnya nanti.


__ADS_2