Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Dirga bukan orang biasa


__ADS_3

"Tentu saja surat rumah itu urusan saya, berapa kali aku sampaikan bahwa surat rumah itu atas nama mamaku dan aku adalah anak satu-satunya maka rumah itu menjadi hakku."


Mendapatkan penolakan dari Mutia membuat Maria mengangkat tangannya untuk memukul wajah Mutia. Tapi usahanya gagal karena Bimo sudah menahan tangan Maria.


"Jangan sentuh istriku." Bimo ingin sekali melawan orang di hadapannya jika saja orang itu bukan wanita, apa lagi wanita itu adalah mertuanya.


Mutia memegang lengan Bimo, memberi isyarat untuk suaminya menahan emosi.


"Nyonya Maria, aku pastikan papahku dan anda bercerai, sehingga anda tidak harus repot-repot menjual rumah mendiang mamaku, lagi pula seharusnya anda berpikir sejak awal jika ingin menikah dengan papahku bahwa papahku bukanlah orang kaya."


"Aku menikah dengan Hendra karena cinta!" Maria berteriak histeris. Ia jelas mencintai Hendra hanya saja dirinya selalu tidak ikhlas jika Mutia dan mendiang mamanya adalah orang terdekat Hendra.


"Hendra sedang berbaring tidak sadarkan diri dan kamu membahas soal perceraian, aku tidak akan bercerai dari Hendra."


Mutia tersenyum memberikan senyuman manisnya, menatap ke arah Maria. "Aku bisa melakukannya tanpa papah dan aku akan membuat anda dan putri anda keluar dari kehidupan kami."


"Wanita sialan!" Maria kembali ingin menyerang Mutia, ingin mencakar bahkan menjambak rambut Mutia. Lagi, Bimo dengan cepat berhasil menghadang tangan Maria yang ingin menyentuh istrinya.


"Berhentilah nyonya Maria, saya tidak ingin mengasari anda!" Bimo menjadi pembatas antara Maria dan Mutia.


Tio yang baru saja tiba segera memegang Maria dengan sekuat tenaga.


"Bersiaplah kamu dan anakmu akan kembali ke jalan seperti sebelumnya." Mutia kembali memancing emosi Maria yang masih memberontak saat di pegangin oleh Tio.


"Jangan bilang kamu juga yang memberangkatkan kasus Devi?!"


"Devi pantas mendapatkannya."


Maria semakin emosi, tubuhnya memberontak kuat bahkan Tio menjadi tempat melampiaskan kekesalannya.


"Bawa ia keluar." titah Bimo kepada Tio yang disahuti dengan anggukan.


Banyak orang yang sedang memperhatikan mereka, dua petugas keamanan rumah sakit juga terlihat mendekati mereka.

__ADS_1


"Wanita ini membuat onar, bawa ia keluar," ucap Tio pelan dan sopan kepada petugas, sedangkan Maria terus mengamuk sehingga petugas menarik paksa Maria dari ruangan.


"Kamu harus menarik laporan kamu, mutia!"


Mutia tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Maria di seret keluar, seperti rasa yang teramat bahagia karena musuhnya dapat di kalahkan.


"Kamu suka sekali memancing emosi ibu Maria."


"Biarkan saja, selama ini aku hanya diam tidak bisa berkata apapun, cacian dan makian yang keluar dari mulut Devi juga ibunya membuat aku menelan umpatan setiap harinya."


Bimo mengusap lembut rambut hitam istrinya. "Apa kamu terluka?" Bimo khawatir karena sikap kasar Maria kepala Mutia tadi yang bisa saja melukai istrinya.


"Aku baik-baik saja, Mas."


"Astaga." Suara yang tidak asing tiba-tiba saja muncul di dekat Bimo dan Mutia, wanita itu datang dengan suaminya. Ia memukul pelan lengan Bimo. "Ini rumah sakit, kenapa aku selalu melihat kalian bermesraan." kemudian menghampiri Mutia memeluk singkat dan mencium kedua pipi Mutia.


"Mbak Cecil apa kabar?"


"Aku baik-baik saja, Bagaimana kabar Papahmu?"


"Kamu harus sabar." Cecil kembali memeluk Mutia .


"Iya, mbak dan terima kasih sudah meluangkan waktunya."


Cecil meraih tangan Mutia dan membawanya duduk, mereka saling bicara membicarakan kejadian papahnya. Cecil juga ikut geram ketika mendengar kabar tentang yang terjadi antara Mutia dan Dirga.


Rio suami Cecil membawa Bimo menjauhi Mutia dan Cecil yang sedang berbincang di depan kamar Hendra.


"Aku membawa kabar buruk," ucap Rio.


Bimo mengerutkan alisnya. "Ada apa?"


"Aku melarang Daru untuk menyampaikan ini padamu." Rio berdehem, ia juga melirik ke arah para istri dan Bimo mengikuti kemana Arah pandang Rio. "Dirga akan segera di sidangkan, hanya saja, ia memiliki beberapa pengacara hebat yang bisa saja membantah bahkan melenyapkan semua barang bukti yang sudah di serahkan ke kantor polisi."

__ADS_1


"Apa! Bagaimana bisa?" Raut wajah Bimo penuh tanya dan ia mengepalkan tangan karena kesal.


"Dirga bukan orang biasa, ia merupakan anak dari salah satu orang tertinggi di negara ini, hanya saja ia anak dari istri simpanan yang identitasnya tidak di ketahui banyak orang," ucap Rio dengan berbisik


"Argh Sial!" Bimo memukul angin.


"Tenangkan dirimu." Rio menepuk pundak sahabatnya itu. "Daru bilang ini akan sulit di menangkan, bahkan bisa saja Dirga sudah pulang ke rumah sebelum di sidangkan, sebaiknya kamu melindungi istrimu, kita tidak tahu kekuatan mereka."


"Uang benar-benar bisa membeli segalanya."


"Kau benar. Ah, dan aku khawatir Dirga akan berbuat nekat, Dirga terus berkata sangat mencintai Mutia dan akan membawanya pergi darimu, itu penuturan Daru."


"Bang-sat."


***


Maria membanting pintu dan tas nya ke atas sofa, ia berjalan mondar mandir karena masih terbawa emosi, ia menuju kamarnya berniat ingin berbaring di atas ranjang tetapi dirinya justru menjerit ketika kamarnya berantakan karena ulahnya sendiri ketika mencari surat rumah.


"Argh! Ingin sekali aku membunuhnya?" teriak Maria. "Apa yang harus aku perbuat dengan anak sialan itu?"


Maria terus mengoceh tidak jelas sambil duduk di atas ranjangnya, ia membaringkannya tubuhnya. Maria benar-benar bingung, ia tidak ingin bercerai dari Hendra, ia juga tidak mau Devi menjalani hukuman berat di penjara.


"Semua gara-gara kamu Mutia."


Maria tidak menyangka jika Mutia sudah berubah banyak, tidak hanya penampilannya tetapi juga sikapnya, Mutia sungguh-sungguh berani melawannya tadi. Apa semua karena Mutia menikah dengan Bimo. Maria bergulat sendiri dengan pikirannya bahkan kepalanya hingga ingin meledak karena sakit.


"Berapa uang yang akan aku dapat jika bercerai dari Hendra? Apa bisa menyewa pengacara untuk membebaskan Devi? Atau aku harus menyewa preman untuk membunuh Mutia."


Maria terus memikirkan banyak cara di pikirannya, banyak keluar kata jika dan andai di benaknya.


"Andai aku menyewa preman tapi kemudian tertangkap aku bisa di penjara juga. Jika menyewa pengacara untuk membebaskan Devi kemudian menjauh dari Mutia, atau aku bisa mengerjakan keduanya, Argh!"


Air mata sudah mengembang di mata Maria. "Kenapa semuanya tidak berjalan dengan benar?"

__ADS_1


Maria menghela napasnya. "Apa aku harus minta maaf secara dramatis supaya mereka memaafkan aku dan Devi. Tapi, si babi itu tidak akan memaafkan aku begitu saja, apa lagi sekarang ia memiliki keberanian dan kuasa suaminya."


"Apa benar Hendra akan menceraikan aku ketika sadar nanti? Apa sebaiknya aku menjual benda berharga yang lain, sebelum aku dan Devi di usir dari rumah ini."


__ADS_2