
Bimo melingkarkan tangannya di pinggang Mutia serta mengecup leher putih milik istrinya, Mutia sudah tahu kedatangan suaminya ketika pintu kamar dibuka.
"Jangan melamun," ucap Bimo berbisik.
"Aku tidak melamun, Mas. Sana mandi dulu."
"Aku hanya ingin menyapa istriku sebentar."
Mungkin saja benar, rasa lelah akan hilang jika saling berpelukan, seperti Bimo yang kini memeluk istrinya dan menghirup wangi tubuh Mutia.
"Ada apa?" tanya Bimo. Yang melihat Mutia dengan tatapan kosong.
"Mas, kamu mau kan bicara jujur?" tanya Mutia yang melepaskan pelukan Bimo. Bimo mengerutkan alisnya bingung. Mutia menarik Bimo dan duduk di sisi ranjang.
"Mas, apa kamu sedang melakukan sesuatu di belakangku?
Bimo menatap kedua mata Mutia, mencari tahu pertanyaan apa yang di lontar istrinya. "Tentang apa?"
"Mas dan Tio sedang merencanakan sesuatu di belakangku, kan?"
Bimo heran kenapa istrinya ini bisa tahu. "Rencana apa?" Bimo berpura-pura tidak mengerti.
"Kamu, menemui Devi, aku tahu, Mas?"
"Dari mana kamu tahu?" Bimo tersenyum.
"Aku mendengar pembicaraan kalian." Mutia menunduk. Meski ia tahu jika suaminya itu sedang membantunya, tetapi ada rasa cemburu di hatinya.
"Ya." Bimo menarik lengan Mutia untuk datang kepelukannya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Bimo tersenyum, pasti istrinya sedang cemburu. "Aku tidak melakukan apa pun, Tio menaruh kamera di tas milik Devi." Bimo menceritakan semua kejadian di hotel malam itu kepada Mutia.
Mutia melepaskan pelukannya, ia heran dari mana peralatan itu ia dapatkan.
"Kamu jangan ragukan kepandaian Tio, ia memiliki banyak teman, barang seperti itu sangat mudah ia dapat."
"Kenapa kamu melakukannya, Mas?"
"Bagaimana aku bisa diam saja, jika nyawa istriku terancam. Lagi pula, bagaimana bisa seorang Kaka menyukai adik iparnya meski kalian saudara tiri."
Tanpa Mutia bicara, Bimo sudah banyak tahu mengenai dirinya juga Devi yang ingin sekali merebut suaminya.
kepandaian Tio juga dapat menekan Lala untuk jujur siapa pelaku di balik bubuk kacang yang bisa saja menewaskan Mutia.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana rencana selanjutnya?" Tanya Mutia.
"Kamu jangan khawatir, Tio sudah mengaturnya. kamu hanya perlu menenangkan Papahmu."
Mutia mengerutkan alis, ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan suaminya serta asistennya sampai harus menenangkan Hendra.
Melihat Mutia yang masih melamun membuat Bimo menarik pipi Mutia agar melihat kearahnya. Tangannya membelai lembut dari pipi hingga ke dagu kemudian menarik dagu istrinya untuk mendekati bibirnya, kecupan lembut mendarat di sana, hanya kecupan singkat.
Mutia tersenyum dan menarik diri dari suaminya sehingga Bimo berekspresi dengan wajah seperti anak kecil yang di tinggalkan ibunya.
"Mandi, Mas. Aku harus mempersiapkan makan malam."
"Kiss." Goda Bimo memonyongkan bibirnya.
Mutia mengecup singkat tetapi Bimo semakin bertingkah seperti anak-anak, bahkan ia sudah melebarkan tangannya untuk minta di peluk.
"Ya ampun, Mas. Bagaimana jika kamu punya anak, jika tingkah kamu seperti ini."
"Anak?" Tanya Bimo aneh.
Mutia dan Bimo terdiam, mereka sama-sama berpikir soal anak di rumah kecil mereka.
"Yuk bikin anak."
"Gak, sana mandi cepat!" Mutia menarik paksa suaminya untuk menuju kamar mandi. Tetapi justru Mutia dalam bahaya karena Bimo sudah menarik tubuh Mutia ke dalam kamar mandi. "Mas, aku sudah mandi. Kyaaa!"
Mutia cemberut ketika berada di meja makan, Mutia sedang protes dengan suaminya karena memaksakannya untuk mandi bersama, padahal dirinya baru saja selesai mandi.
Bukannya menyesal, Bimo justru semakin gemas dengan Mutia. Ada saja ide-idenya untuk menggoda istrinya.
"Sudah dong ngambeknya." Mutia hanya diam. "Dengan kamu ngambek gitu aku jadi gemas untuk mencium kamu, Mutia."
Mutia melebarkan matanya ketika mendengar kalimat suaminya. Apa Bimo tidak lihat tempat jika ini sedang di ruang makan. Mutia menarik napas panjang, ia tidak mau adegan kamar mandi harus di ulang di ruang makan, memikirkannya saja Mutia sampai menggelengkan kepala. Dan tingkahnya justru membuat Bimo menahan senyumnya, menggoda Mutia justru membuatnya senang.
Setelah makan, sikap manja Bimo kembali muncul, ia melingkarkan tangannya di pinggang Mutia yang sedang mencuci piring.
"Yang."
"Apa?"
"Biarkan Art yang merapikan."
"Cuma bekas makan kita kok, Mas. Mereka sudah Membuatkan kita makan."
Bimo tetap saja menempel di belakang tubuh Mutia, padahal jelas terlihat tubuh Bimo terlihat lebih besar dari Mutia.
__ADS_1
Para asisten rumah tangga Bimo justru senang melihat perkembangan kedua majikannya yang semakin hari semakin romantis, mereka siap menutup mata mereka jika Bimo sudah bermanja dengan Mutia. Sikap Bimo yang tegas terlihat seperti kucing yang manis ketika di bersama Mutia, meski terkadang sikap kucing galaknya tetap muncul ketika harus berbicara dengan yang lain.
Setelah selesai mencuci piring, Bimo menarik paksa Mutia untuk naik, Ia sudah tidak sabar untuk bermanja dengan istrinya tanpa ada orang yang lalu lalang di dekatnya.
"Mas, aku belum selesai."
"Biar mereka yang melanjutkan, kita harus segera buat anak," ucapnya berbisik.
"Hah! Lagi, Mas?"
"Satu kali mana bisa, kita harus membuat bagian tubuhnya secara berkala, jangan sampai anak kita kekurangan anggota tubuhnya jika hanya sekali membuatnya."
Plak! Mutia memukul lengan suaminya.
"Apa?"
"Kamu pikir aku bodoh? Bagaimana bisa prosesnya seperti itu untuk menjadikan anak yang sempurna."
Bimo terkekeh melihat ekspresi kesal Mutia bahkan sudah berani memukulnya.
"Astaga, istriku ini kenapa begitu menggemaskan? Kiss."
"Aish." Mutia melengos pergi. Bimo dengan cepat menarik tubuh Mutia ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak boleh menolak suamimu," ucap Bimo dengan tatapan serius. Mutia hingga menelan ludah takut suaminya marah.
"Maaf, Mas." Mutia tertunduk tidak berani menatap mata suaminya.
"Kenapa kamu menolakku?"
Mutia terdiam, mencari kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaan suaminya, karena maksud Mutia tidak ingin menolak, hanya saja Mutia merasa aneh jika harus bermesraan atau bercinta di tempat lain selain di kamar.
"Kenapa diam?"
"A-aku bukan menolakmu, Mas. Tetapi aneh saja jika harus bercinta di dalam kamar mandi atau berciuman di depan umum."
"Hey, kita ini suami istri, kamu tidak boleh menolak aku jika aku memintanya."
Mutia mengerti maksud suaminya, hanya saja semua yang dilakukan bersama Bimo adalah yang pertama dalam hidupnya dan dia merasa aneh.
Bimo menarik dagu Mutia supaya istrinya itu melihat dirinya, Bimo tersenyum. "Aku tidak marah, sikap kamu yang seperti ini sangat menggemaskan sehingga aku senang menggoda kamu."
Bagaimana bisa menggemaskan, dirinya sedang merasa takut jika suaminya marah kepadanya.
cup!
__ADS_1
"Aku mencintai kamu, Mutia."