
Maria yang kembali dari rumah sakit mampir terlebih dahulu ke kantor polisi untuk menjenguk Devi, Maria semakin pusing ketika mendengar penuturan Devi mengenai kasusnya.
Bukti yang diserahkan Tio ke polisi semakin memberatkan Devi, Belum lagi keterikatan dengan kasus Lala. Devi makin terpojok Maria pun tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara.
"Bunda, aku mohon, cepat carikan aku pengacara terbaik, bukannya papah Hendra memiliki banyak kenalan."
Maria terus mencubit ujung keningnya, kepalanya benar-benar terasa sakit.
"Bunda tidak memiliki uang Devi."
"Jual semua perhiasan yang bunda miliki, bunda mau aku mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama."
"Bunda harus segera menyelesaikan kasus ini dengan segera, seperti om Irwan telah melaporkan kasus penipuan terhadap kita."
"Irwan tidak sebodoh itu, Devi."
"Semalam, polisi berbicara dengan seseorang melalui telpon dan membicarakan kita soal menjual Mutia ke om Irwan. Sepertinya itu yang aku dengar, Bun."
"Tapi itu tidak mungkin Irwan, itu sama saja ia bunuh diri."
"Argh! Aku tidak mau tahu, Bunda. Bunda harus menyelesaikan kasus ini segera, apa mereka tidak bisa di ajak berdamai."
Maria hingga memegang kepalanya dengan kedua tangan, kepalanya benar-benar sakit.
"Bunda sudah pernah memperingatkan kamu untuk bersabar. Ini semua karena ulahmu sendiri, bunda tidak tahu harus bagaimana."
"Bunda jangan lepas tangan begini dong, semuanya kan ada andil dari bunda."
"Kenapa sekarang kamu menyalahkan bunda?"
Seandainya mereka tidak berbicara di kantor polisi, mungkin nada bicara mereka akan sangat keras seraya saling menyalahkan satu sama lain. Mereka hanya sesekali menggeram karena menahan kesal.
"Bunda mau pulang, kepala bunda sudah pusing. Nanti bunda Carikan jalan keluarnya."
"Bunda, Devi mohon bunda, Devi mau pulang. Memohon pada mutia."
"Kamu sudah gila, bunda tidak mau memohon pada anak itu."
Maria segera bangkit meninggalkan Devi yang terus merengek sembari memanggil namanya. Sepanjang perjalanan pulang, Maria terus memutar otaknya, mencari cara untuk mendapatkan uang dan menyewa pengacara, setidaknya hukuman Devi tidak terlalu berat.
Ketika menuruni taksi dan menghadap ke arah rumah, ada rasa nyeri di hatinya ketika melihat rumahnya yang masih dalam keadaan berantakan hasil para wanita yang suaminya tidur dengan Devi.
__ADS_1
Devi tidak berbeda dengan ayahnya, mantan suaminya itu sering berganti pasangan karena itu Maria memilih bercerai. Kehidupan nyaman ia dapat setelah menikah dengan Hendra, ia hanya berniat akan terus hidup nyaman tapi ternyata kini ia harus kembali hancur.
Pada awalnya Maria berniat ingin menghancurkan Hendra dan Mutiara, karena rasa dendamnya di masa lalu, karena ketulusan Hendra terkadang ia hanya ingin menetap dan menghabiskan waktu bersama suaminya malah kini dirinya yang hancur.
Maria juga sempat merasa ketakutan kehilangan Hendra ketika Hendra pingsan setelah terbentur.
Maria duduk di sofa dan menatap langit, memikirkan nasib putrinya, bagaimana pun hanya Devi keluarganya, putri yang ia lahirkan dengan penuh air mata karena suaminya yang sering mengabaikannya, ia juga harus bekerja keras untuk biaya persalinannya.
"Devi benar, rumah ini adalah jalan satu-satunya."
Maria bergegas masuk ke dalam kamarnya, mencari sesuatu di dalam lemari, laci, dan seluruh tempat di kamarnya.
"Argh!! Dimana Hendra menyimpan surat rumah ini."
Maria mengeluarkan isi lemarinya sampai pakaian berserakan di lantai, Maria juga mengeluarkan isi laci mejanya, kamarnya sudah seperti tempat pembuangan sampah akhir.
"Tidak." Maria mengingat Mutia masuk ke dalam kamarnya kemarin ketika hendak mengambil pakaian Hendra.
"Jangan bilang anak itu yang mengambilnya?"
Maria mengambil ponselnya dan menghubungi Mutia. "Angkat Mutia!" kesal Maria.
"Hallo." Akhirnya Mutia menjawab panggilannya.
Mutia terkekeh di sebrang sana, kekehan Mutia membuat Maria mengepal kuat tangannya.
"Aku tidak mencurinya, Bunda. Rumah itu milik mamaku, aku sebagai anaknya berhak membawa surat rumah itu."
"Kamu keterlaluan, Mutia! Kamu sudah menjebak Devi, menambah kasusnya dan sekarang mengambil rumah juga." Maria segera menutup ponselnya dan berteriak keras di dalam kamarnya.
"Aku tidak bisa membiarkan anak itu memilikinya." Maria yang belum sempat membersihkan diri, ia bergegas keluar dengan membawa tasnya meninggalkan kamar yang berantakan.
Sementara di rumah sakit, Mutia masuk ke kamar Hendra, mengusap dan mengecup kening papahnya.
"Pah, Mutia rindu. Bangun, pah." Bisik Mutia dekat wajah Hendra.
Suara Mutia bergetar, air matanya sekali lagi mengembang. Dengan handuk yang sedikit basah, Mutia membasuh tangan Hendra dan memijat ringan tangan papahnya.
Bimo yang melihat istrinya meneteskan air mata ikut merasa sedih, ia dekati istriku dan mengusap lembut kepala Mutia.
Sikap suaminya itu justru membuat Mutia sesenggukan dan memutar tubuhnu memeluk tubuh Bimo.
__ADS_1
"Sabar, sayang. Jangan menangis, kasian papah."
Bimo membawa perlahan-lahan Mutia keluar dari kamar Hendri, mengajukan istrinya duduk. Bimo mengusap jejak air mata istrinya.
"Jangan nangis dekat papah, kasian."
"Iya, Mas. Aku terlalu cengeng hingga air mata begitu saja keluar."
"Sudah hampir sore, kamu harus makan."
"Aku tidak lapar." tolak Mutia. bagaimana bisa dirinya untuk makan, melihat kondisi Hendra yang terbaring tanpa makan membuat Mutia sangat menyesal.
Mutia melihat Maria berjalan dengan cepat mendekatnya. Mutia bahkan mengerutkan keningnya heran karena Maria terlihat sangat marah.
Begitu juga Maria, sudah sejak dari rumah dirinya menahan marah dan mengumpulkan energi untuk melampiaskan amarahnya pada Mutia. Apa lagi ketika melihat Mutia duduk saling berhadapan dengan Bimo.
Bimo yang tahu kedatangan Maria segera berjaga karena Maria terlihat marah bisa saja Maria akan mendapat masalah.
"Kembalikan surat rumah Papahmu," kesal Maria dengan tetap intonasi yang pelan.
"Surat rumah itu milik mama bukan papa ataupun bunda."
Dengan cepat Maria mencengkram baju Mutia dan menariknya kasar hingga Mutia terbangun dari posisi duduknya kemudian mendorong kasar Mutia hingga hampir jatuh.
Mutia tidak menduga kalau Maria akan bersikap demikian sehingga dirinya tidak sempat menghindar.
Dengan refleks Bimo menangkap tubuh Mutia, menatap tajam ke arah Maria. "Anda sudah gila?!"
"Diam kau, jangan ikut campur urusan kami!"
"Bagaimana ini bukan urusan saya, yang anda dorong adalah istri saya." kini Bimo bicara sedikit lebih rendah karena sadar ini rumah sakit yang bisa saja menganggu pasien lain. Tapi tetap dengan kalimat penuh penekanan.
Maria berkecak pinggang sembari membuka lebar matanya. "Cepat kembalikan surat rumah itu."
"Bunda mau apa? mau menjualnya?"
"Itu bukan urusan kamu."
"Tentu saja surat rumah itu urusan saya, berapa kali aku sampaikan bahwa surat rumah itu atas nama mamaku dan aku adalah anak satu-satunya maka rumah itu menjadi hakku."
Mendapatkan penolakan dari Mutia membuat Maria mengangkat tangannya untuk memukul wajah Mutia. Tapi usahanya gagal karena Bimo sudah menahan tangan Maria.
__ADS_1
"Jangan sentuh istriku."