
Para karyawan berasumsi jika Dirga dan Lala adalah dalang dari kecelakaan yang di alami Mutia, terutama karyawan wanita yang tidak segan membicarakannya. Mereka tahu jika Lala sangat membenci mutia sudah sejak lama, kepintaran dan good looking yang dimiliki Mutia saat pertama bekerja memicu persaingan kerja di antara Lala dan Mutia. Ibu Rosa selalu memberikan kerja yang lebih mudah padahal menemui klien untuk memasarkan barang itu cukup sulit.
Mutia segera naik dan menemui atasannya. Clara pemimpin bagian Mutia di bagian yang sekarang terlihat santai bahkan menyatakan kabar Mutia.
"Saya sudah lebih baik, Bu."
"Syukurlah, apa kamu sudah siap untuk bekerja?"
"Tentu saja, Bu."
Mutia bersama Clara pergi keluar dari perusahaan, mereka bermaksud menagih kepada konsumen, di mobil Clara menyebut nama Tio yang meminta bantuan perusahaan untuk menyelidiki kasus Mutia lewat CCTV.
"Benarkah?" tanya Mutia terkejut.
"Sepertinya suamimu akan membawa perkara ini ke jalur hukum."
Mutia terdiam, kenapa suaminya tidak memberi kabar padanya. Mutia juga bertanya-tanya apa Tio sudah menemui Lala karena dialah yang telah memberikan minuman itu padanya.
Sedangkan di tempat Lala, dirinya bersiap untuk melarikan diri. Ia sempat meninggalkan pesan pada Dirga dan mengajaknya melarikan diri bersamanya.
"Kenapa aku harus melarikan diri?" tanya Dirga.
"Karena aku melakukan semuanya untuk kamu."
"Kamu bicara apa, La. Untuk aku bagaimana, jika kemarin Mutia sampai mati aku akan membunuhmu."
"Dirga! Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan Mutia, camkan itu!" Lala menutup panggilan telponnya dan berteriak histeris di kamar kosnya.
Sekembalinya Mutia ke kantor, Dirga menarik Mutia ketika Mutia sedang berjalan ke area kantin. Ia memeluk paksa Mutia.
"Aku rindu padamu, Mutia."
"lepaskan, Dirga." Mutia mendorong kasar tubuh Dirga. Dirga hingga merenyitkan dahi.
"Ada apa Mutia?" Dirga meraih tangan Mutia tetapi Mutia segera menepisnya.
"Apa kamu berkomplot dengan Lala?"
"Tidak, bagaimana bisa aku melakukan hal buruk padamu, Mutia."
__ADS_1
"Sebaiknya kita akhiri hubungan ini, Dirga. Setelah menikah aku hanya mengharapkan suamiku bukan yang lain."
"Jangan bilang begitu, Mutia. Aku mohon kembalilah kepadaku."
"Bagaimana bisa aku meninggalkan suamiku, ia lebih segalanya dari kamu, Dirga." Mutia menahan ucapannya, mungkin kalimatnya menyinggung perasaan Dirga, seharusnya tidak seperti ini. Sesal Mutia dalam hatinya. "Maaf, Dirga. Bukan begitu maksudku."
"Aku tanya sekali lagi, kamu mau kembali padaku atau tidak?"
"Maafkan aku, Dirga." Dirga meninggalkan Mutia seorang diri.
Mutia merasa kesal kenapa dirinya masih begitu lembek mengahadapi Dirga, apa ada sisa cinta di hatinya. Mutia menggeleng tidak ini bukan cinta. Hanya suaminya yang kini bertahta di hatinya.
Setelah makan siang, empat orang polisi datang bersama Tio tetapi tidak ada Bimo. Mutia yang baru saja masuk ke dalam gedung terkejut dan segera menghampiri Tio. Semua orang memandang ke arah polisi, Tio dan kini Mutia.
"Tio, ada apa ini?"
"Maaf, Nona. Saya sudah melapor kejadian waktu itu ke polisi, dan ini semua atas perintah tuan Bimo."
"Tapi, kenapa saya tidak di beri tahu?"
"Saya permisi, Nona."
Mutia segera mengikuti Tio, ia ingin tahu mereka akan pergi kemana. Ternyata polisi datang menangkap Dirga.
"Saya tidak bersalah! Lepaskan," teriak Dirga saat polisi hendak memasang borgol di tangannya. "Mutia, aku di fitnah. Tolong aku!" Mutia tidak bisa menolong Dirga karena Tio menghalanginya. Dirga terus berteriak meminta tolong kepada Mutia.
Begitu juga di tempat Lala, Polisi sudah menangkap dan membawanya ke kantor polisi, kini mereka di interogasi di dalam ruangan berbeda. Dirga di pulangkan dan di nyatakan tidak bersalah oleh pihak polisi, keterangan itu di dapat dari Lala yang mengaku melakukannya bersama Kaka tiri Mutia bukan dengan Dirga.
Mutia baru bisa menemui Bimo saat malam hari, Mutia segera mendekati suamiku yang berjalan di depan Tio.
"Mas, kenapa kamu tidak mengangkat teleponku sejak tadi?"
"Maaf, Sayang, aku sibuk." Dirga bicara sambil memeluk tubuh istrinya.
"Mas, kenapa kamu tidak membicarakan dahulu denganku?"
"Tentang apa?" Bimo menghirup bau tubuh istrinya.
"Tentang Lala dan Dirga."
__ADS_1
"Aku akan menghukum orang-orang yang menyakiti istriku," ucap Bimo.
......***......
"Sial, bagaimana bisa perempuan itu tertangkap CCTV, dan mungkin sekarang ia akan menyeretku sebagai dalangnya," kesal Devi ketika mengetahui Lala di tangkap.
Devi terkesiap ketika bundanya masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk, ketakutan sudah menghantui Devi.
"Bunda, bisa gak sih ketuk pintu dulu," oceh Devi kesal.
Maria kening melihat putrinya yang kini menyalakan sebatang rokok. "Ada apa denganmu?" Maria diam sesaat melihat tingkah laku putrinya yang kini mulai menghisap rokoknya. "Jangan bilang kalau wanita itu tertangkap?"
"Bagaimana bunda tahu?"
"Apa?!"
"tidak hanya Bunda yang terkejut, aku juga sama."
Maria kini ikut ketakutan jika nanti putrinya akan di jemput para polisi. Kemudian Maria akan membuat alibi agar putri semata wayangnya tidak tertangkap polisi.
Dirga sedang mengepal kuat di kamarnya, ia kesal dirinya dibawa kekantor polisi seraya di pertontonkan oleh orang banyak di perusahaan, apa lagi melihat Mutia yang sama sekali tidak menolongnya membuat Dirga merasa kesal. Sehingga Dirga membulatkan tekad untuk mengambil Mutia secara paksa.
Keesokkan harinya entah kebetulan atau memang sudah di rencanakan oleh Dirga. Mutia harus lembur malam ini untuk saling bicara bersamaan Mutia. Mutia tidak sadar jika dirinya di perhatiin secara diam-diam.
Satu jam sudah berlalu, para karyawan sudah tidak ada lagi di dalam gedung kecuali satpam yang sedang menunggu di bawah dan karyawan yang malam ini mendapatkan jam sift dua. Mutia sudah memberi kabar jika dirinya lembur karena ada berkas yang harus dia selesaikan.
Mutia menumpukkan beberapa berkas ke atas meja, ponselnya berdering dengan segera ia mengangkat ponselnya tanpa ia sadar ada seseorang yang kini berjalan di belakangnya yang kini semakin mendekat ke arahnya.
"Ya, Mas. Sebentar lagi aku turun."
Bugh, Mutia di pukul di bagian kepala hingga terasa pusing dan terjatuh, bahkan matanya berkunang-kunang. Seseorang menekan tubuh Mutia yang tergeletak di lantai.
"Mutia, Mutia!" Bimo panik mendengarnya lenguhan dari isterinya, ia menunggu sampai beberapa detik sehingga Bimo segera keluar dari mobilnya dan bergerak cepat ke tempat Mutia berada.
Dagu mutia di tekan kuat, Mutia sudah berusaha melawan tapi tidak bisa melepaskan diri dari pria yang kini menduduki tubuhnya.
"Mutia, Sayang. Aku mencintaimu."
Mutia kenal betul dengan suara milik Dirga yang berbisik di telinganya. Dirga menekan kuat bahunya bahkan mulai mencium pipi Mutia.
__ADS_1
"Dirga, aku mohon lepaskan aku."