Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
telur dan kotoran


__ADS_3

Sampai matahari terbit pun Hendra belum ada perkembangannya, membuat Mutia sedih karena kejadian ini lebih parah ketika dirinya akan bunuh diri. waktu itu Hendra hanya mengalami pingsan bukan koma.


Di luar ruangan yang di batasi kaca, Mutia melihat ke arah dalam di mana Hendra terbaring, diagnosa dokter yang menyatakan bisa saja Hendra terkena stroke membuat Kiana semakin terisak, ia berharap Hendra sadar jauh lebih sehat.


Bimo merangkul tubuh istrinya, Mutia menyandarkan kepalanya di dada Bimo dengan tidak merubah posisinya.


"Kapan papah sadar, ya, Mas?"


"Secepatnya, sayang. Kamu harus bersabar, kita harus banyak berdoa."


"Sayang, kita sarapan dulu."


Mutia mengangguk tanpa menoleh, ia terus melihat ke arah Hendra. Mereka berjalan menuju kantin, sedangkan Tio akan menggantikan Mutia dan Bimo berjaga di ruang tunggu ICU.


Mutia baru sadar kalau papahnya membutuhkan pakaian bersih, maka ia harus pulang mengambil beberapa pakaian untuk papahnya. Mutia harus mampir ke rumah Hendra secepatnya.


"Mas, apa hari ini kamu akan ke kantor?"


"Ya, hanya sebentar. Ada pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan Tio, kenapa?"


"Aku akan ke rumah papah, membawakannya pakaian ganti."


"Perintahkan Lia saja untuk ke rumah papah."


"sebenarnya, ada yang ingin aku ambil."


"kalau begitu ajak Lia dan biarkan Tio menjaga papah sebentar dan aku ke kantor."


Mutia mengangguk setuju, setidaknya Hendra ada yang menemani. Mutia segera meminta bantuan Lia untuk mengantarkan dirinya ke rumah Hendra.


Sementara antara Maria dan Devi sedang mengalami kejadian yang sangat memalukan. Beberapa orang wanita dewasa dengan pakaian glamor dan bermerek datang melempari rumah mereka dengan telur dan kotoran hewan. Para tetangga hanya menyaksikan tanpa tahu apa yang telah terjadi.


"Keluar! Dasar pelacur!"


Maria hanya menutup telinganya di dalam kamar, sedangkan Devi mondar mandir tidak jelas, khawatir wanita di luar sana dapat menerobos masuk ke dalam rumah, kemudian menarik rambut serta mengaraknya di jalan.


Tak hanya kotoran, batu juga melayang hingga memecahkan kaca jendela, Maria memekik histeris.


"Ini semua ulah kamu Devi! Teriak Maria dengan masih duduk di dalam kamar."

__ADS_1


"Sudahlah, Bunda. Jangan menyalahkan aku terus!"


...****************...


Mobil Mutia baru saja melewati gapura gang rumahnya, Lia sudah melihat keramaian di depan rumah Hendra .


"Non, sepertinya ada masalah di rumah Pah Hendra."


Mutia segera menoleh dan menaruh ponselnya ketika melihat ke arah depan. "Astaghfirullah, ada apa ini?"


"Sebaiknya anda jangan turun, berbahaya. Biar saya yang melihatnya."


Mutia mengangguk. Terlihat sangat kacau, di lihat dari jauh saja rumah Hendra tampak berantakan, dindingnya terlihat kotor serta jendela yang sudah tidak ada kacanya.


Lia memarkirkan mobilnya dengan jarak yang sangat jauh, khawatir Mutia akan mendapatkan masalah, sedangkan dirinya keluar dari mobil dan mendekati kerumunan. Ia hendak mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Lia juga mulai meminta seseorang untuk di ajak bicara serta menemui ketua RT serta ketua RW untuk melerai dan membenahi kekacauan yang terjadi. Lia juga terlihat sibuk dengan ponselnya.


Ponsel Mutia berbunyi dan nama Bimo yang tertera di sana. "Halo, Mas."


"Kamu jangan keluar dari mobil, tunggu saya," ucap Bimo yang di iyakan oleh Mutia kemudian mengakhiri panggilannya.


Mutia terlihat jijik dengan rumahnya yang kotor dan bau, Mutia mengetuk pintu beberapa kali dan Devi membukanya setelah tahu orang itu adalah Mutia.


"Apa yang terjadi?" tanya Mutia kepada Devi.


"Ck, kamu tidak usah ikut campur." ketusnya pada Mutia.


"Jangan ikut campur bagaimana, hah? Lihat rumah kotor dan bau karena ulah kamu Devi!"


Mendengar Mutia berteriak justru membuat Devi mendekati Bimo dan memohon pada adik iparnya itu.


"Mas, aku minta tolong padamu, lihat Mutia sangat kasar padaku." tangannya melingkar di lengan Bimo.


Bimo dengan kasar melepaskan tangannya kemudian menjauhi Devi. Tentu saja penolakan Bimo membuat Devi murka.


"Mas, kamu juga salah satu pria yang tidur denganku, jangan lupa itu, Mas!"


Mutia hingga membulatkan matanya kemudian melirik ke arah Bimo. Apa benar Bimo sampai melakukannya pada Devi, meski Bimo sudah membicarakannya waktu itu.

__ADS_1


Maria yang sejak tadi berada di dalam kamar ikut keluar karena mendengar suara putrinya. Ia terkejut melihat ada banyak polisi di luar rumah.


"Apa kamu yakin?" Dengan santai Bimo menjawabnya.


"Kita bermalam di Bandung, Mas. Kita bercinta di sana!"


Bimo tersenyum seringai kemudian berdiri menghadap Devi. "Kamu jangan mimpi, aku tidak akan memberikan tubuhku dengan wanita macam kamu, meskipun aku brengsek aku pasti memilah wanita mana yang harus aku tiduri."


Napas Devi terlihat naik turun, ia sedang menahan amarahnya. Tangannya saja hampir melesat memukul pipi Bimo, dengan cepat Bimo menahan tangan Devi.


"Kurang ajar kamu, Mas." Devi mengeluarkan air matanya.


"Kamu yang kurang ajar, kamu sudah meracuni istriku. Jika saja aku punya bukti kuat saat itu kamu sudah mati di tanganku."


Mutia memegang lengan Bimo, meredam amarah suaminya. Mutia juga melihat Maria berdiri di ambang pintu kamarnya, bunda tirinya itu mematung, mungkin saja ia terkejut mendengar ucapan yang keluar dari Devi serta Bimo.


Maria yang terlihat takut dan terkejut tiba-tiba saja mendekati Mutia dan mengayunkan pelan tangan putri tirinya.


"Bukan salah Devi, ini salah Bunda. Bunda tidak sengaja menarik Papahmu, ini bukan salah Devi." Maria terus mengulang kalimatnya.


"Bunda!" teriak Devi.


Mutia tentu saja terkejut bahkan menutup mulutnya dan menangis, Akhirnya ia tahu papahnya jatuh akibat ulah mereka berdua.


Maria berlari ke arah dapur dan mengambil kotak obat di atas lemari pendingin, mencari-cari botol obat, ia juga melempar botol kosong ke segala arah.


Devi mendekati Maria dan mengguncangkan tubuh Maria. "Bunda cari apa?! Bangun bunda!"


Maria tetap saja mengacak semua isi kotak obat kemudian berteriak histeris karena obat yang dia inginkan tidak dapat ia temukan.


"Sebaiknya kamu mengambil pakaian papah," perintah Bimo pada Mutia. Mutia mengangguk dan berjalan ke kamar Hendra yang di ikuti oleh Lia.


Bimo memanggil salah satu polisi dan menceritakan semua yang terjadi di dalam barusan, polisi itu mengaguk dan berjalan mendekati Maria.


Maria yang di dekati pria berseragam polisi tampak panik dan mulai bertingkah aneh lagi. "Aku tidak membeli obat terlarang, ini obat penenang. Aku tidak membunuh suamiku, aku tidak sengaja menariknya."


Ocehan Maria tentu saja dapat dijadikan sebagai bukti, polisi tersebut mulai mengajak Maria bicara lebih santai bahkan membawanya ke atas sofa, dan mulai mengintrogasi Maria.


Devi hanya terdiam dan takut sembari duduk tidak jauh dari Maria.

__ADS_1


__ADS_2