Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Gaun pengantin Mutia


__ADS_3

Bimo tidak menyampaikan syarat apapun pada Mutia, bahkan Mutia bebas melakukan apapun setelah menikah, asalkan Mutia dapat menjaga nama baik suaminya, Mutia bersyukur masih bisa terus bekerja setelah menikah. Mutia juga tidak meminta syarat apapun dalam pernikahannya, silahkan berikan mahar berapapun semampu Bimo asalkan tidak merendahkannya.


Mutia mengajukan cuti dan meminta kepada Rosa untuk di pindahkan kebagian penjualan, kebetulan di bagian penjualan sedang kekurangan orang, beberapa hari lalu senior di sana mengajukan pensiun.


Rosa sangat terkejut Mutia akan menikah, sehingga sebuah pelukan mendarat padanya. Ucapan selamat dari Rosa memancing teman satu ruangannya untuk ikut memberikan selamat. Apa lagi ketika tahu siapa yang akan jadi suaminya nanti semakin riuh lah mereka.


Dirga mengepal kuat menahan cemburu, ia sendiri saja bingung dengan perasaanya kepada Mutia, dirinya terlalu egois untuk diam pada satu wanita, ia tidak menepis bagaimana Mutia memperlakukannya dengan baik saat bersamanya, dan itu membuatnya menyesal melepaskan Mutia dan memilih Lala.


Lala juga terlihat tidak suka dan mendoakan pernikahan itu gagal, mana pantas si kerbau itu menjadi Cinderella dalam semalam.


Tio menjemput Mutia ke kantor, Mutia sempat menarik bibirnya senang ketika mobil hitam milik Bimo terparkir di parkiran mobil. ternyata Mutia salah menebak, di dalam mobil hanya ada Lia sedang duduk dengan berbagai majalah gaun pernikahan. Mereka membawa Mutia ke butik untuk melakukan fitting baju yang lagi-lagi hanya seorang diri, Mutia menarik napas kesal tapi tetap menuruti semua yang dilakukan Tio dan Lia.


"Apa saat menikah nanti aku tetap seorang diri di pelaminan?" Pertanyaan Mutia keluar begitu saja.


"Tidak, tapi setelahnya pak Bimo akan kembali ke Surabaya."


Oh jadi tidak ada malam pertama, begitulah yang ada dipikiran Mutia, bagaimana malam pertama toh Bimo tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan dari Mutia sebagai seorang suami. Lagi Mutia menghembuskan napasnya, kenapa Bimo mau menikah dengannya.


Setelah fitting baju Tio juga menyerahkan Kartu undangan yang sudah tercetak, warna silver serta tinta emas pada nama Mutia dan Bimo terkesan mewah dan elegan, tanggal yang tertera di sana satu Minggu lagi, Mutia mengangguk-angguk membuat Lia bertanya.


"Apa non Mutia tidak suka dengan undangannya? Apa perlu diganti?"


Mutia ternganga bagaimana bisa ia tidak menyukainya, undangan itu terlihat bagus juga mahal, undangan dua ribu lembar ini akan diganti jika Mutia tidak menyukainya. tidak, tidak Mutia tidak akan melakukannya itu.


"Aku suka." Mutia tersenyum.

__ADS_1


"Gaun pengantin akan tiba esok, aku yang akan mengantarkannya," ucap Tio.


"Baiklah, terima kasih."


Sampai hari ini Bimo belum juga menghubungi Mutia, bahkan pesan yang ditinggalkan Mutia belum dibuka olehnya, pria itu benar-benar menghilang seperti di telan bumi. Tetapi Tio sangat sering bicara pada Bimo.


Seperti sekarang, Tio menjauh dari Mutia karena ponselnya berdering, Mutia yakin jika itu dari Bimo, ingin rasanya ia merebut ponsel itu dan bicara pada Bimo. "Baca pesanku!" Ah, Mutia hanya bisa berkhayal melakukan itu pada Bimo. Tio kembali mendekat ke arah Mutia setelah pembicaraannya selesai.


"Apa tadi itu mas Bimo?" tanya Mutia.


Tio tidak menjawab, ia hanya terus menghitung jumlah cinderamata yang ada di dalam dus dan membawanya ke dalam kamar Mutia. Kenapa dengan Bimo dan kedua asistennya sama-sama suka diam, tidak menjawab jika di tanya, belum lagi Lia, asisten wanita itu lebih parah lagi. Lia tak ada bedanya dengan sebuah robot tanpa harus di beri daya, ia akan mengerjakan semuanya secara sempurna dan kelincahannya tidak di ragukan lagi. Mutia sampai bertanya-tanya berapa gaji yang ia dapat sampai tidak pernah melakukan kesalahan.


Demi Hendra Mutia akan mengikuti jalan cerita yang dibuat Bimo seorang diri. Ya seorang diri, karena Bimo tidak pernah membicarakan satu kata pun dengan Mutia. Apa lagi semenjak Mutia angkat tangan dengan rencana pernikahan dan membiarkan Lia dan Tio saja yang mengerjakannya tak sekalipun diantara kedua asisten itu bertanya apa yang di inginkannya. Karena hanya Bimo yang terus melakukan semuanya melalui tangan Tio dan Lia dan Mutia hanya mematuhinya.


"Sudah sampai mana persiapannya?" Hendra bertanya pada Mutia. Mereka duduk bersama di teras depan. Suasananya sama persis ketika Hendra menyampaikan surat wasiat Bayu.


"Mungkin sudah sembilan puluh persen, Pah. Pak Tio dan Bu Lia sudah menghandle semuanya secara sempurna."


"Alhamdulillah, semoga pernikahan kalian lancar sampai hari H."


"Aamiin, Pah."


"Maafkan papah, ya?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Telah memaksa kamu menikah dengan orang yang tidak kamu kenal."


Mutia tersenyum. "Mutia baik-baik saja, Pah. Mas Bimo orang yang baik."


"Syukurlah."


Mutia merangkul tangan Hendra dan menaruh kepalanya ke pundak papahnya. Seketika ia merindukan mamahnya, mungkin jika beliau masih ada, pasti sudah sibuk mempersiapkan semuanya. Tidak dengan Maria dan Devi yang terus menerus menghilang entah kemana, mereka selalu beralasan ribet karena ada orang asing di rumah.


Keesokan harinya undangan sudah disebar ke tangan orang yang dikenal oleh Mutia, gaun pengantin pun sudah tiba di rumah, gaun putih yang cantik tapi sayang gaun itu tampak sangat besar karena ukurannya, mungkin terlihat sangat tidak pantas jika dirinya harus bersanding dengan seorang Bimo. Diet yang dilakukan Mutia beberapa hari ini tidak bisa secara instan menurunkan berat badannya menjadi ideal. Mungkin operasi sedot lemak yang harus Mutia lakukan, hanya saja membutuhkan uang yang tidak sedikit bahkan dapat menimbulkan resiko tinggi.


Waktu terus berjalan, tidak terasa pernikahan Mutia sudah di depan mata kebutuhan pernikahan Mutia telah rampung, pekerjaan Lia dan Tio benar-benar sempurna.


Mutia memasuki kamar pengantin yang sudah di sulap menjadi kamar yang indah dengan warna putih gading, matanya melebar ketika melihat gaun yang di pasang pada manekin telah rusak seperti ada yang mengguntingnya. Mutia menangis seraya menelpon Lia dan Tio sehingga mereka berdua kelabakan.


"Bagaimana bisa tidak ada yang tahu!" Marah Hendra pada penghuni rumah. Hendra menenangkan Mutia yang menangis merasa bersalah kepada Bimo dan kedua asistennya.


Maria curiga pada Devi, Maria menarik Devi ke dalam kamarnya.


"Jangan bilang kamu yang merusaknya?"


"Bunda sudah tahu jawabannya."


"Astaga Devi, kalau ketahuan Papahmu bagaimana?"


Devi senang dapat merusak gaun pengantin Mutia, berharap pernikahan mereka gagal. Tetapi Lia dan Tio tidak kehabisan cara demi kelancaran pernikahan Mutia dan Bimo, mereka justru mendapatkan gaun yang lebih indah dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2