Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Selai kacang


__ADS_3

Lala kembali ke kantor, membawa dua gelas es kopi untuk ia berikan kepada Dirga yang saat ini sedang makan siang bersama Mutia. "Aku harap, kalian mau memaafkan kesalahanku kemarin."


Dirga tidak menaruh curiga sama sekali, ia menerima minuman yang diberikan Lala untuk dirinya dan Mutia, sedangkan Mutia justru curiga karena sikap Lala selama ini padanya.


Benar saja, beberapa menit setelah es kopi itu mampir di tenggorokannya ada rasa panas di tenggorokannya bahkan napasnya mulai sesak, Mutia bangkit dari duduknya dengan tangan yang mengusap leher, Mutia terbatuk-batuk, kulitnya memerah dan Mutia jatuh pingsan.


Dengan cepat Dirga mengangkat tubuh Mutia dan membawanya ke rumah sakit terdekat di antar satu orang pria yang duduk tidak jauh dari mereka. Lala yang mengetahui Mutia pingsan bukannya senang justru malah takut, ia tidak mengerti jika hasilnya akan seperti ini, "Apa aku telah membunuhnya?"


Mutia langsung di tangani oleh pihak rumah sakit, melihat kondisi Mutia Dirga jadi kalut, di tambah lagi ponsel Mutia yang kini ditangannya terus berbunyi.


"Angkat telponnya, pak Dirga. Suami Bu Mutia harus tahu kondisinya sekarang," ucap karyawan yang ikut dengan Dirga membawa Mutia ke rumah sakit.


Dirga segera menggeser tombol berwarna hijau, dan menaruh benda pipih itu ke telinganya.


"Sayang, kamu sedang apa, kenapa susah sekali menghubungimu?" tanya suara pria di seberang sana dengan nada khawatir.


"Maaf, saya bukan Mutia."


"Mengapa ponsel istriku ada padamu?" Suara Bimo berubah berat, pasalnya ia tahu suara itu berasal dari siapa, karena mereka pernah satu kali bicara.


"Mutia jatuh pingsan, sekarang ia sedang ditangani oleh dokter."


Mendengar kondisi istrinya Bimo berdiri dari kursinya. "Apa yang kau lakukan padanya!" Teriak Bimo hingga tinju menghantam meja.


"Setelah meminum kopi, Mutia sesak napas dan pingsan...."


"Di rumah sakit mana kalian sekarang." Bimo menyela pembicaraan Dirga. Bimo segera mengambil jasnya yang bersandar di kursi kebesarannya kemudian keluar ruangan. Tio yang baru saja keluar dari lift terkejut melihat Bimo yang baru saja membanting pintu ruang kerjanya, dengan segera menelepon ke bagian keamanan untuk menyiapkan kendaraan Bimo.


Bimo menutup ponselnya. "Mutia pingsan di tempat kerja, sepertinya ia meminum sesuatu yang menyebabkannya sesak napas, tolong cari tahu apa yang di minum oleh Mutia di tempat kerjanya."

__ADS_1


"Baik." Tio segera meminta orangnya untuk datang ke pabrik di mana Mutia bekerja dan mencari tahu apa yang terjadi. Dengan cepat Tio dan Bimo melaju ke rumah sakit di mana Mutia berada.


Sesampainya di rumah sakit, dengan langkah cepat Bimo masuk ke area UGD dan mencari istrinya. Bimo dan Dirga saling melihat satu sama lain, dengan langkah cepat Bimo mendekat hingga sebuah tinju melayang ke wajah Dirga hingga Dirga tersungkur. Ruang UGD jadi ramai karena aksi Bimo sampai keamanan mulai bertindak.


"Suruh pria ini menjauh, Pak. Ia menyebabkan istri saya jatuh pingsan," ucap Bimo. Sampai Dirga terkekeh andai Tio tidak datang mungkin pukulan akan kembali mendarat di pipi Dirga.


"Tenangkan diri anda, Tuan. Jika anda membuat masalah, justru akan sulit menemui nona."


"Keluarga Mutia," suara dokter jaga keluar dari ruangan di mana Mutia berada. Dirga, Bimo dan Tio mulai mendekat. Mereka bertiga membuat dokter bingung.


"Saya suaminya."


"Saya kekasihnya."


Mereka berkata bersamaan hingga saling menatap tajam dan mengepalkan tangan, dokter lebih mengutamakan bicara dengan suami pasien.


"Sepertinya istri bapak alergi sesuatu dan saya menduganya ini adalah bubuk kacang yang dengan sengaja di berikan melalui minuman karena tadi istri anda sedang minum kopi."


"Bisa saja bubuk itu ada di dalam kopi," ucap dokter.


"Lala," ucap Dirga pelan.


"Apa saya bisa menemuinya?" tanya Bimo dan Dirga kompak.


Namun Tio segera menarik kuat lengan Dirga untuk menjauh, entah kenapa tenaga Tio begitu kuatnya sehingga Dirga tidak bisa melawannya.


"Sial kau!" Marah Dirga pada Tio. Kemudian Dirga pergi bersama karyawan yang sejak tadi berada di sekitar mereka. Dirga sudah yakin tidak akan menang melawan Tio, di dalam mobil Dirga terus memaki tanpa henti. Ia kesal tidak bisa menemani Mutia.


Sedangkan Bimo sedang menggenggam tangan Mutia yang penuh bercak merah di sekitar kulitnya yang putih, bahkan sampai leher hingga ke mulut.

__ADS_1


Tio dengan cepat mengurus segala keperluan Mutia untuk mendapatkan kamar rawat inap sehingga Bimo dapat leluasa menjaganya. Tanpa waktu lama, Mutia segera di pindahkan ke kamar VIP.


***


Bimo tampak lusuh melihat kondisi Mutia yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan tertusuk jarum infus, pantas saja istrinya berniat balas dendam karena cara mereka memperlakukan istrinya sangat kejam, bisa saja nyawa Mutia melayang. Tidak mungkin Mutia dengan sengaja memakan atau meminum sesuatu yang akan membuatnya celaka, pasti ada seseorang yang menaruhnya dengan sengaja tanpa sepengetahuan istrinya.


Lala, nama yang keluar dari mulut Dirga, dengan cepat Bimo meminta Tio untuk menyelidikinya begitu juga dengan Dirga, apa lelaki itu bekerja sama untuk mencelakai istrinya.


Bimo segera menghubungi papa mertuanya, bagaimana pun papa Mutia harus tahu dengan kondisi putrinya, Devi yang tahu merasa senang bahwa rencana liciknya berhasil. Maria yang tahu karena ekspresi wajah Devi ikut senang tapi juga khawatir karena Bimo bisa saja menangkap anaknya.


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja, Bunda. Tidak ada yang tau kalau aku menemui Lala. Bahkan minuman itu Lala yang memesannya bukan aku," Devi tertawa riang kembali.


Di rumah sakit, Hendra segera menggenggam tangan putrinya yang terkulai tak sadarkan diri, kalau bisa biar ia saja yang berbaring di atas ranjang dari pada harus melihat putrinya yang terlihat pucat. Mutiara adalah penyemangat hidupnya setelah istrinya meninggal. Ia dengan cepat menuju rumah sakit begitu Bimo menghubunginya.


"Mutia sudah lebih baik, Pah," ucap Bimo pelan di dekat Hendra.


"Terima kasih, Bimo. Karena sudah menjaganya."


"Sudah kewajiban saya sebagai suaminya."


Mata Mutia mengerjap pelan, telinganya menangkap suara, jari jemarinya bergerak pelan di genggaman tangan Hendra, hingga Hendra segera menoleh ke arah putrinya.


"Sayang," ucap Hendra pelan.


Mutia hanya bisa mengalirkan air mata, karena tidak bisa mengeluarkan suara karena tenggorokannya mengalami pembengkakan.


"Kamu istirahat saja, sayang. Jangan banyak bicara."

__ADS_1


"Pasti rasanya perih sekali, kan?" tanya Bimo yang di anggukan pelan. "Kamu harus bersabar, butuh waktu satu Minggu untuk benar-benar pulih." Bimo sudah mengetahui kondisi istrinya dari dokter.


Mutia masih dalam pengaruh obat sehingga ia kembali memejamkan matanya, Hendra mengecup kening putrinya.


__ADS_2