
Seminggu sudah berlalu setelah kejadian selai kacang, suara Mutia juga sudah terdengar normal, memerah di tubuhnya juga sudah mulai samar. Mutia sedang memoles salep ditangannya. Bimo yang melihatnya segera mengambil salep yang sedang di pegang oleh Mutia.
"Mau di bawa kemana, Mas?"
"Biar aku yang mengoleskannya."
"Tidak, Mas. Aku bisa mengolesnya sendiri."
Bimo mengangkat tinggi-tinggi salepnya, tingkah mereka sudah seperti anak kecil yang sedang bermain. Mutia mengalah saja, daripada drama kekanakan mereka harus terus berlanjut.
"Aku tidak masalah, Mutia. Kau bisa meminta tolong padaku jika kamu kesulitan." Bimo mengusapkan salep pada ruam di leher belakang istrinya.
"Aku sangat berterima kasih, Mas."
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Mutia."
"Untuk apa?" Mutia mengerutkan alisnya.
"Untuk kesabaran juga hubungan kita."
Mutia tersenyum seraya menunduk, seharusnya ia yang berterima kasih karena Bimo sudah mau berada di sisinya selama ini.
Bimo pamit untuk ke ruang kerjanya, ketika Tio dan Lia mengetuk pintu kamar mereka. Mutia tersenyum.Tetapi setelahnya, raut wajah Mutia berubah, amarahnya datang. Sudah saatnya ia balas dendam kepada Lala juga Devi.
Tanpa sepengetahuan Lia juga Bimo, Mutia mendapatkan pesan dari Dirga. Tentu saja Mutia berterima kasih tetapi bukan berarti Dirga akan selamat dari rasa balas dendam Mutia. Biarkan ia orang yang paling akhir untuk di jatuhkan.
Mutia menoleh ketika pintu kamarnya di buka dari luar, itu Bimo. Mutia heran kenapa cepat sekali suaminya itu kembali.
"Sudah selesai?"
"Ya, aku hanya harus menandatangani beberapa berkas."
"Mas, besok aku akan mulai bekerja."
Bimo duduk di ranjangnya tepat di samping Mutia. "Tidak bisakah kamu berhenti saja?"
"Kenapa? Aku kan sudah bilang akan tetap bekerja setelah menikah."
"Apa, kurang uang yang aku berikan?"
__ADS_1
"Tidak, bahkan sangat lebih."
"Lalu?"
"Aku butuh bersosialisasi, Mas," ucap Mutia pelan. "Kalau di rumah saja, aku pasti jenuh."
Cup! Bimo melayangkan kecupan di pipi Mutia, ia merasa gemas melihat istrinya cemberut.
Mutia menyentuh pipinya, ia terkejut, kenapa suaminya itu senang sekali mengejutkannya.
Melihat Mutia membeku, Bimo lagi-lagi mengecup pipi Mutia, membuat Mutia membulatkan matanya ke arah suaminya.
"Kenapa? Sepertinya kamu tidak rela."
"Bu _" Mutia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena suaminya itu sudah menghentikan ucapan Mutia dengan bibirnya.
Bimo melepaskan ciumannya ketika beberapa detik, ia tahu bahwa istrinya sedang menahan napasnya, jarak mereka tetap dekat bahkan hidung mereka masih bersentuhan, di rasa cukup Mutia menghirup udara Bimo kembali mencium bibir tebal Mutia dengan lembut, bahkan satu tangannya sudah menyentuh bagian belakang Mutia.
Mutia yang pada awalnya diam, kini sudah mulai membalas ciuman Bimo. Tidak di pungkiri Mutia juga menantikan sentuhan dari Bimo, Mutia mengalungkan tangannya ke leher Bimo tanpa di sadari oleh mutia kini tubuhnya sudah bersandar pada ranjang.
Bimo melepaskan ciumannya, memandang penuh hasrat kepada Mutia. Tangan Mutia turun menyentuh lembut dada Bimo yang masih terbalut kaos berwarna biru muda, tidak menunggu lama lagi Bimo melepaskan kaosnya. Mutia sempat mengalihkan pandanganya, pipinya merona melihat pemandangan indah dari tubuh suaminya. Terlihat tubuh yang sangat menjaga penampilan, ototnya tumbuh dengan tidak berlebihan membuat Mutia menggigit bibirnya, membayangkan dirinya menyentuh bagian tubuh suaminya. Bimo menarik dagu Mutia yang mengalihkan pandangan darinya kembali menciumi seluruh wajah Mutia hingga ke lehernya.
Tangan Bimo mulai naik ke bagian dada Mutia dan menekan lembut, ukuran yang pas di tangannya membuat ia gemas untuk semakin menekannya.
Mutia melenguh pelan, napasnya memburu karena sentuhan Bimo padanya. Bimo berhasil membuka semua pakaian Mutia dan kini tidak ada lagi yang menghalangi tubuh mulusnya, Mutia mencoba meraih bantal untuk menutupi tubuhnya tapi gagal, Bimo dengan cepat menahan tangan Mutia dan menggeleng.
"Mereka sangat indah Mutia." Bimo kembali mencium lembut bibir Mutia. "Aku mencintaimu, Mutia."
Mutia tersenyum mendengarnya. "Aku juga mencintaimu, Mas Bimo."
Akhirnya, setelah ikrar yang mereka ucapkan memulai pergulatan mereka semakin panas, Bimo tidak memberikan Mutia kesempatan untuk membalas, Bimo membiarkan dirinya menjadi pemimpin percintaan yang sangat panjang, seperti kerinduan itu tidak ada habis-habisnya.
Suara erangan dan lenguhan mengakhiri pergulatan mereka malam ini, Bimo berbaring memeluk tubuh Mutia, berkali-kali mendaratkan ciuman di keningnya sebelum tidur.
...****...
Matahari membangunkan Mutia, rasa bahagianya sampai ingin membuatkan sarapan untuk Bimo sebelum suaminya pergi bekerja, Mutia juga akan berangkat kerja karena sudah satu Minggu dirinya terdiam di rumah.
Belum di bangunkan oleh Mutia, Bimo sudah turun ke bawah dengan pakaian lengkap. Bimo tersenyum melihat Mutia sedang menata makanan di meja.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun, Mas? Sudah rapi juga."
"Hari ini aku ada rapat, doakan aku, ya." Bimo memeluk tubuh Mutia di hadapan para asisten.
"Mas, malu."
"Kenapa harus malu, mereka akan pura-pura buta, Sayang."
Mutia mendorong tubuh dan memukul lengan suaminya. "Sembarang kalau bicara. Ayo duduk." Ajak Mutia memaksa suaminya duduk.
"Kamu yang memasaknya?"
"Tentu saja, Nasi goreng spesial telur mata sapi," ucap Mutia yang kemudian duduk di hadapan suaminya dengan menu yang sama.
"Aku baru melihatnya hari ini."
"Apa?"
"makanan yang sama di meja makan."
Mutia terkekeh, ia sadar suaminya sedang mengkritik halus makanan oatmeal yang selama ini ia makan, beberapa kali mereka makan selalu menunya berbeda.
"Aku akan makan menu yang sama saat makan bersamamu, Mas."
"Bagus, aku tidak suka kamu diet, cukup olahraga saja, kamu montok seperti dulu aku tidak masalah."
"Aku tidak mau jadi gemuk." Mutia cemberut. Bimo mencubit gemas pipi Mutia.
Setelah selesai sarapan, Bimo kembali memeluk Mutia serta mendaratkan ciuman di kening Mutia sebelum berangkat kerja.
"Aku izinkan kamu bekerja tapi jauhi laki-laki itu." Mutia mengangguk pelan.
Mutia tidak bisa berjanji apa-apa, karena balas dendamnya akan berantakan. Dirga merupakan alat untuk menjatuhkan Lala saat ini.
Setelah Bimo pergi, Mutia berangkat dengan mobilnya di antar oleh Lia serta supir seperti biasanya.
Semua karyawan yang tidak bisa menjenguk Mutia langsung mendekati dan menanyakan kabarnya. Dirga yang mendapatkan kabar kalau Mutia masuk hari ini langsung turun ke lobi untuk memastikan keadaan wanita idamannya yang sudah satu Minggu tidak di lihatnya.
Dirga tanpa tidak tahu malunya langsung memeluk dan meminta maaf, semua orang memperhatikan mereka, Mutia segera mendorong kasar. Dirga sadar kalau semua sedang menatapnya sinis.
__ADS_1