Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Bui untuk Dirga


__ADS_3

Meski kepalanya masih pusing dan berat akibat pukulan dari Dirga, Mutia masih berusaha menahan tubuh Dirga yang berada di atas tubuhnya, kenangan buruk bersama Irwan kembali berputar di ingatannya.


"Aku mohon, Dirga, lepaskan aku." Mutia mulai tergugu, tubuh Mutia di gerayangi oleh Dirga, bahkan tangan Dirga memaksa masuk kebagian inti kewanitaannya melalui rok yang Mutia kenakan.


"Jika aku tidak bisa memilikimu seutuhnya, maka aku harus mendapatkan kenikmatan sesaat dengan kamu, Sayang."


Mutia memberontak bahkan memekik ketika dadanya di tekan kuat oleh Dirga, terasa sangat menyakitkan. Mutia menyerang Dirga menggunakan kukunya, Dirga tersulut ketika Mutia berhasil mencakar wajahnya, tangannya melayang ke pipi mulus Mutia hingga Mutia terkulai lemas karena tamparannya, tenaga Dirga benar-benar kuat sehingga Mutia tidak bisa lagi menggunakan kekuatannya untuk melawan Dirga.


"Setan!" Sebuah tendangan melayang ke tubuh Dirga hingga Dirga terjungkal ke sisi lain. Bimo menduduki tubuh Dirga dan menghajarnya penuh amarah, Dirga berhasil lolos dan memukul tepat di perutnya, Bimo menendang perut Dirga membalas rasa sakit di perutnya, Dirga memukul balik tetapi justru kecepatan tangan Bimo dapat menangkis dan memukulnya kembali.


"Sudah, Pak. Tolong mbak Mutia dulu."


Seorang security yang datang bersama Bimo melerai dan memegangi tubuh Dirga yang wajahnya sudah bonyok, Bimo segera mendekati Mutia dengan pakaian yang sudah sobek dan ada darah di sudut bibirnya bahkan pipinya memar. Bimo membuka jasnya dan menutup tubuh istrinya kemudian membawanya keluar gedung untuk ke rumah sakit.


Saat di perjalanan menuju rumah sakit, Bimo menghubungi Tio dan memintanya untuk mengurus Dirga.


Setelah beberapa jam, Mutia membuka matanya, ia menarik selimut sampai ke dadanya. Mutia meringis tubuhnya masih terasa sakit akibat cengkraman Dirga.


Bimo yang sadar istrinya sudah siuman datang mendekat secara perlahan, ia tidak ingin mengejutkan istrinya yang masih terlihat ketakutan.


Melihat wajah Bimo, Mutia justru bangkit dan memeluk Bimo, ia menangis terisak dan meminta maaf karena tidak menuruti keinginan suaminya untuk menghindari Dirga.


"Sudah, sayang. polisi sudah mengurus Dirga. Aku pastikan ia mati di penjara," ucap Bayu. Seraya mengusap lembut punggung istrinya dan memeluk erat.

__ADS_1


"Jangan beritahu papah, ya," pinta Mutia. Bimo mengangguk.


Bimo juga tidak ingin mertuanya itu kena serangan jantung, lagi pula dirinya dan Tio bisa mengatasi semuanya.


"Istirahatlah."


Mutia menuruti perintah suaminya dan kini berbaring di ranjang, Bimo mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Bimo berusaha menguatkan Mutia dengan caranya, sesekali ia mencium kening Mutia bahkan menyentuh hidung istrinya dengan hidung miliknya. Bimo sangat khawatir kejadian tadi akan membuat istrinya trauma.


Tapi, di lihat dari respon Mutia sepertinya ia baik-baik saja. Jika mengingat Dirga membuat pipi istrinya memerah dan sudut bibirnya luka ingin rasanya Bimo mematahkan tulang-tulang di tubuh Dirga, bahkan tangannya kini mengepal kuat menahan emosi. Bimo tidak ingin Mutia tahu jika ia sedang menahan amarahnya.


Keesokkan harinya, tepat di sore hari, Mutia kembali ke rumahnya. Mutia duduk bersantai menatap jendela kamar.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Jika itu terjadi, aku akan membunuhnya."


Mutia memeluk tubuh Bimo, mengusel kepalanya di dada bidang suaminya seperti kucing yang hendak di manja pemiliknya. Bimo tersenyum melihat tingkah istrinya tapi bahagia karena istrinya jauh lebih baik. Bimo mencubit gemas pipi mutia.


"Aa, sakit," ucap Mutia dengan nada bicara kekanakan.


"Ah, maaf. Apa sakit?"


Mutia mengangguk sembari kembali mengusel kepalanya di dada Bimo, sangat menggemaskan. Tingkah Mutia membangkitkan hasratnya sebagai lelaki, andai saja istrinya dalam kondisi baik, ia pasti akan menerkamnya.

__ADS_1


"Mutia?" Bimo mengusap lembut ujung kepala Mutia hingga ekor rambutnya.


"Hm?" Mutia mengadah memandangi wajah suaminya yang kini menatapnya sendu. Mutia sadar jika dirinya sedang dalam masalah, Mutia mulai menjah dari suaminya karena khawatir. Bimo terkekeh geli melihat tingkah lucu dari Mutia.


Sementara, di kantor polisi Dirga sedang duduk di lantai menyandarkan tubuhnya dengan kepala menengadah ke langit-langit penjara. Wajahnya penuh luka dan memar akibat pukulan Bimo.


Entah tatapan kosong itu sebuah penyesalan atau sebuah kekesalan, hatinya bercampur aduk. Ia memutar memori saat bersama Mutia, senyum manis gadis itu sangat tulus kepadanya yang kemudian tatapan gadis itu tidak lagi memancarkan cinta untuknya. Harusnya sejak itu ia sadar jika Mutia sudah tidak mencintai dirinya. Tetapi keegoisan dirinya sendiri yang ingin memiliki Mutia berakhir di ruang sempit dan berjeruji. Kemarin ia hanya ingin Mutia merasakan bukti bahwa ia sangat mencintai Mutia dan akan memilihnya dari pada Bimo, jika tubuh mereka sudah menyatu karena yang Dirga tahu pernikahan mereka karena di jodohkan tanpa ada cinta di dalamnya.


Bukannya sadar jika perbuatannya salah, tetapi ia justru berikrar kepada hatinya jika ia akan merebut Mutia dari suaminya dan akan menjadikan Mutia hanya miliknya saja saat keluar dari penjara. Dirga tidak menyesal meski wajah Mutia malam itu terlihat ketakutan tetapi justru membuat Mutia terlihat sangat cantik dan ingin kembali melihat wajah itu.


"Hei!" seorang petugas baru saja memukul jeruji besi, membuat Dirga melirik ke arah polisi tersebut. "Kenapa, Lu! Senyum-senyum! Sudah gila lu?! Baru hari pertama kaga usah pura-pura gila!" ketus polisi tanpa seragam itu. petugas yang lain hanya terkekeh geli melihat temannya emosi pada tahanan.


Kesialan Dirga justru bertambah di dalam penjara, bukan karena tahanan lain tetapi karena mendapatkan bogem mentah dari para polisi yang dengan sengaja bertanya padanya.


"Kenapa di penjara, Lu?" Dirga tidak menjawab justru mendapatkan tamparan pedas dari pipinya. "Jawab kalau di tanya!"


"Dituduh memperkosa, Pak," jawab Dirga.


Kepala Dirga di toyor. "Tolol, bini orang elu perkosa dapat kaga malah di penjara."


Setiap hari ada saja pertanyaan dari petugas, di jawab atau tidak pasti ada tangan melayang ke wajahnya, sial sekali. Ternyata itu ulah Tio yang sengaja meminta para petugas untuk melayani dengan sangat baik kepada Dirga dengan sekotak pizza dan ada tips di sana. Meski awalnya menolak karena di anggap sogokan tetapi ada polisi yang main setuju saja. Melayani sangat baik di situ bukanlah dalam arti positif justru sebaliknya.


Tiap kata yang diutarakan Tio pasti dapat menghipnotis orang lain. Lagi pula, berani sekali Dirga berurusan dengan orang macam Bimo dan Tio yang sudah terkenal dengan orang-orang di pemerintahan hukum. Bahkan pengacara pribadi mereka cukup terkenal. Tidak hanya pengacara jaksa dan hakim saja Tio cukup mengenalnya. Tio dapat menjamin Dirga akan lumutan di penjara.

__ADS_1


__ADS_2