Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Memory card


__ADS_3

Tio memasuki kawasan penjualan Handphone terbesar di Jakarta, ia menuju tempat yang sudah di arahkan oleh Mutia sebelum dirinya datang ke pusat penjualan handphone.


Tidak membutuhkan waktu lama Tio sudah berhasil menemukan tempat yang di maksud oleh mutia dan mendapatkan memory card yang isinya merupakan data cloud dari ponsel Mutia.


Tio memasukkan memory card tersebut ke dalam ponselnya, Tidak hanya menemukan rekaman, tetapi juga menemukan banyak foto Mutia dengan Dirga dan lala.


"Jika tuan Bimo tahu, dia pasti akan kebakaran jenggot." Tio terkekeh.


Tio hanya menyalin suara rekaman ke ponselnya, sisanya tetap tersimpan di dalam memory card milik mutia.


Setelah urusannya selesai, Tio mulai kembali menemui Bimo dan akan menjemput Mutia lalu mengantarkan mereka berdua kembali ke rumah sakit untuk menemui Hendra.


"Bagaimana?" Bimo bertanya pada Tio ketika melihat Tio masuk ke dalam ruangannya.


"Saya menemukan ini." Tio menyerahkan ponselnya dan memutar suara.


("Apa obat yang kita berikan pada si Babi kurang banyak, Bun, sehingga ia bisa meloloskan diri?") itu suara Devi.


("Sepertinya begitu.") terdengar jelas suara Maria.


("Apa benar om Irwan akan mengadukan kita ke polisi?")


("Sepertinya tidak mungkin, karena ia akan terlibat dengan kasus pemerkosaan jika Mutia melaporkannya.")


("Apa kalian tidak takut jika aku melaporkan kalian berdua?") kemudian suara Mutia muncul.


("Bunda benar, aku telah merekam pembicaraan kalian tadi.")


Setelah itu hanya suara ribut dan berakhir dengan teriakan kecil dari Devi dan Mutia.


"Apa maksudnya?"


"Sepertinya malam di mana kalian pertama kali bertemu, mertua dan Kaka ipar anda berniat menjualnya pada pria bernama irwan."


Mendengar penjelasan Tio membuat Bimo geram, bagaimana bisa ibu dan anak itu melakukan hal yang keji pada anak tirinya. Bimo juga pernah berpikir yang sama waktu tahu dari penuturan Mutia.


"Ini bisa di jadikan bukti, kan?"

__ADS_1


"Tentu saja. Saya akan memberikan buktinya serta membuatkan laporannya, pihak berwajib akan menghubungi kita setelah mengecek terlebih dahulu kemudian mendapatkan surat bukti laporan dari penyelidik."


"Bagus, semoga pihak penyidik segera bertindak, aku tidak mau Mutia atau mertuaku dalam bahaya," ucap Bimo. "Mutia Sudah bersiap di rumah, sebaiknya kita segera menjemputnya." Bimo bangkit dari kursinya, mengambil jas yang menggantung dan memakai jas tersebut seraya berjalan keluar ruangan.


Tio mengikuti Bimo dari belakang dan memutar ponselnya, menghubungi bagian keamanan meminta mereka mengeluarkan mobil Bimo dari parkiran. Tio melakukannya supaya Bimo tidak terlalu lama menunggu.


Dengan kecepatan sedang, Mobil yang dikendarai Tio sudah memasuki lingkungan tempat tinggal Bimo dan Mutia.


Mutia yang senang segera keluar dari rumahnya ketika mendengar suara mobil masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Mutia menyambut dengan pelukan hangat dan Bimo mengecup kening istrinya.


Tio yang baru saja membuka pintu untuk keluar dari mobil segera dibutuhkan, karena tidak mau menganggu kemesraan dua majikannya.


Mutia memberikan waktu untuk Bimo beristirahat sebentar dan membersihkan diri sebelum mengantarnya ke rumah sakit untuk menemui papahnya.


"Silahkan masuk, Ka Tio," sapa Mutia pada asisten kepercayaan suaminya.


"Terima kasih, Non."


Tio menghentikan langkah Mutia ketika melihat Bimo sudah naik ke atas untuk masuk ke kamarnya.


Mutia tampak bingung melihat Tio yang tiba-tiba saja menghalangi langkahnya.


"Apa ini?"


"memory card yang berasal dari ponsel anda."


"Apa berhasil? Apa ada bukti percakapan Bunda dengan Ka Devi?"


Tio mengangguk. meraih tangan Mutia dan menaruhnya di telapak tangan Mutia. "Tidak hanya rekaman suara, tapi juga foto anda dan Dirga."


Mutia menutup mulutnya dengan memory card di tangannya, jantungnya bergerak cepat. Dia khawatir suaminya melihat foto mereka saat berpacaran dahulu, meski bukan foto senonoh tapi itu foto mereka berdua kala itu, dan bisa saja Bimo tidak suka saat melihatnya.


"Tuan Bimo tidak tahu, jadi sebaiknya kamu menyimpannya dengan benar."


"Benarkah? Apakah buktinya sudah kamu salin?" Tio mengangguk. "Syukurlah, kalau begitu aku akan memusnahkan ini untuk selamanya. Terima kasih, Ka Tio. Sudah membantu saya mendapatkan bukti serta ini." Mutia menunjukan memory card nya.


Tio tersenyum dan mengangguk kemudian mulai menjauh dari Mutia, ia senang mendengar keputusan Mutia, ia tidak ingin hubungan Mutia dan Bimo menjadi salah paham ke depannya karena foto itu.

__ADS_1


Mutia segera naik dan membantu suaminya menyiapkan pakaian, dan beberapa potongan pakaian karena ia akan menginap malam ini di rumah sakit bergantian dengan Lia yang sudah hampir 24 jam menjaga Hendra.


Mereka bertiga berjalan di koridor rumah sakit, di sana masih terlihat Maria menunggu Bimo sambil bersandar dan memejamkan mata.


Andai saja Maria wanita yang baik, mungkin Mutia akan merasa bersyukur melihat Maria ada di sini. Tetapi, jika mengingat karena ulahnya lah Hendra sampai koma membuat Mutia sangat tidak suka.


"Ngapain bunda masih di sini?" ucap Mutia berdiri di hadapan Maria.


Maria membuka mata dan melihat Mutia tepat di depannya. "Ketus sekali ucapanmu."


"Sebaiknya Bunda pulang, bunda tidak berperan penting berada di sini."


Maria terkekeh. "Setidaknya aku adalah istrinya, yang merawatnya setiap hari selama ini."


"Sudah, sayang. Biarkan saja, perdebatan kalian akan menggangu penghuni rumah sakit." Bimo membawa Mutia menjauh dari Maria.


"Sebaiknya anda pulang, Nyonya. Anda juga harus menjaga kesehatan anda," ucap Tio.


"Apa urusanmu?"


"Tidak ada, aku hanya membantu anda saja agar beristirahat sebentar di rumah karena di sana ada ranjang yang lebih empuk dari pada di kursi ruang tunggu," ucap Tio lagi.


Sepertinya ucapan Tio lebih di dengar oleh Maria, wanita berusia hampir enam puluh tahun itu menurut, ia berdiri dan mulai berjalan menjauhi kamar ICU. Bimo dan Mutia hanya menggeleng saja, siapa yang bisa menolak pesona seorang Tio.


"Entah pelet apa yang ka Tio miliki sehingga banyak orang mematuhinya."


"Apa maksudmu perkataan kamu?" Bimo memandangi wajah istrinya.


Mutia yang bingung mendengar kalimat Bimo segera menoleh, mereka kini saling bertatapan.


"Aku sedang memujinya, bukan memujanya. Jangan bilang kamu cemburu lagi, Mas."


Bimo membuang wajahnya kesal karena ketahuan cemburu, Mutia memukul ringan perut suaminya hingga Bimo membola.


"Kamu," rahangnya menguat karena terkejut tidak menyangka istrinya akan meninjunya.


"Itu tidak lucu, Jangan pernah cemburu Dengan ka Tio, aku menyayanginya seperti Kakak ku dan aku sangat mencintai kamu sebagai suami dan kekasihku." Mutia mendatangi Bimo dan melingkarkan tangannya di pinggang Bimo, memeluk hangat suaminya.

__ADS_1


Bimo tersipu malu dan membalas pelukan istrinya, ia juga mencium kening istrinya. Mau bagaimana pun, Bimo akan merasa cemburu jika orang yang di cintainya memuji orang lain di hadapannya.


__ADS_2