Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Hendra pulih


__ADS_3

Mutia masuk ke dalam ruang rawat Hendra setelah Sesil dan suaminya pamit pulang, Bimo mengantarkan sahabatnya sampai di parkiran karena pembicaraan mereka belum selesai.


"Pah, Mutia datang," ucap Mutia seraya menutup pintu ruang rawat.


Mutia mendekati Hendra secara perlahan, wajahnya kembali muram ketika melihat Hendra yang tertidur pulas dengan selang medis di tubuhnya.


Mutia menarik kursi secara perlahan dan meraih telapak tangan Hendra. Ia usap dan menciumnya.


"Pah, cepat sembuh. Muti rindu sama papah."


Mutia baringkan kepalanya di sisi lengan Hendra, tangannya masih mengepal tangan Hendra, Mata Mutia terbuka lebar, ia terkejut tangannya berdenyut seperti ada pergerakan dari Hendra.


"Pah?" Mutia berbisik di telinga Hendra, jari tangan Hendra kembali bergerak. Mutia segera keluar dengan berlari ia memanggil Dokter.


Bimo yang baru saja naik segera mendekati Mutia penuh kekhawatiran ketika dokter dan suster masuk ke dalam ruangan Hendra.


"Ada apa, sayang?"


"Papah sadar, Mas."


Dokter mencoba mengajak bicara Hendra. "Tuan Hendra, anda dapat mendengar saya?" tanya dokter.


Hendra hanya mengedipkan matanya untuk merespon pertanyaan dokter. Hendra mengedarkan pandangan, mencari seseorang sekaligus mengumpulkan ingatan terakhirnya. Hendra mengingat tentang putri tirinya yang tidur dengan beberapa pria seusianya.


Hendra juga ingat kalau dirinya terjatuh karena tangannya di tarik oleh Maria, Hendra menitikkan air mata. Apa istrinya berani mencelakai dirinya. Mata Hendra juga melihat sosok Mutia di luar ruangan bersama menantunya.


Dokter serta suster melepas selang Ventilator setelah memastikan keadaan Hendra yang sudah stabil. Setelah selang di lepas akhirnya Hendra dapat mengeluarkan suara.


Hendra menyebut nama putrinya dengan suara serak, kemudian dokter memberi isyarat pada suster untuk memanggil keluarganya.


Mutia melangkah lebar, ketika dokter memberi izin untuk masuk menemui pasien.


"Muti senang papah sudah sadar." Mutia memeluk bahkan menangis senang di pelukan papahnya.


"Karena pak Hendra Baru sadar dari koma, saya sarankan untuk tidak berpikir berat, pak Hendra harus menjaga emosi agar kondisinya semakin baik."


Usai melaksanakan pemeriksaan dokter dan suster akhirnya meninggalkan ruangan Hendra.


"Mutia sangat bersyukur papah sudah sadar, papah harus segera sembuh, Muti ingin melihat papah sehat dan selalu tersenyum seperti biasanya."

__ADS_1


Bimo mengusap punggungnya Mutia. "Harapan kamu akan terwujud sayang, lihat papah sudah dalam keadaan sadar, pasti papah akan lebih baik."


Mutia tersenyum bahagia karena suaminya selalu saja menguatkan Mutia.


Hendra tersenyum bahagia melihat Putri memiliki tatapan penuh cinta untuk Bimo, ia sempat berpikir hubungan Mutia tidak akan berlangsung lama. Membuat dirinya tidak menyesal karena sudah menikahkan Mutia dan Bimo dari hasil perjodohan yang di buat temannya.


***


Bimo mengantarkan Mutia pulang untuk beristirahat, meski awalnya suami istri itu selalu melakukan perdebatan kecil, pada akhirnya Mutia setuju. Hendra juga sudah diberi obat penenang Agar beristirahat kembali. Kini Lia yang menjaga Hendra di rumah sakit.


"Istirahatlah sebentar Mutia, setelah beberapa jam kita kembali lagi," ucap Bimo memerintahkan istrinya untuk tertidur.


"Sebentar, Mas. Aku akan menyiapkan beberapa pakaian dahulu."


Setelah selesai memasukkan pakaian bersih dan mengeluarkan pakaian kotor, Mutia mulai naik ke atas ranjangnya, berbaring seraya memejamkan matanya. Beberapa hari membuat Mutia sulit tertidur baru hari ini Mutia dapat tidur dengan mudah karena sudah merasa tenang.


Setelah beberapa jam beristirahat di rumah, Mutia dan Bimo kembali ke rumah sakit.


Melihat kedatangan Maria dan Bimo membuat Hendra penasaran, sejak ia sadar beberapa jam lalu, ia belum melihat Maria dan Devi. Baru saja Hendra Ingi bertanggung tetapi putrinya lebih dulu bertanya.


"Bagaimana dengan keadaan, Papah? Apa yang papah rasakan sekarang?"


"Itu karena papah kelamaan berbaring."


"Perawat juga bilang begitu tadi."


Hendra terus melirik kearah luar, ia berharap istrinya akan segera masuk ke dalam.


Bimo menangkap kegelisahan di wajah Hendra, dan menduga jika mertuanya tersebut mengharapkan seseorang ada di sini sekarang.


"Bunda belum tahu jika papah sadar," ucap Bimo.


Mutia sempat ingin memberitahukan yang sebenarnya tetapi Bimo menggenggam erat tangan istrinya dan memberi isyarat pada Mutia. Isyarat itu membuat Mutia menahan kalimatnya meski ia tidak paham dengan maksud suaminya.


"Bagaimana dengan Devi?" tanya Hendra.


"Polisi sedang memeriksa Devi, Pah. Papah jangan khawatirkan masalah ini," ucap Bimo lagi menyela ucapan Mutia. "Papah harus memulihkan kesehatan dahulu baru memikirkan masalah yang lain."


Mutia akhirnya mengerti dengan maksud pembicaraan Bimo, padahal Mutia ingin sekali bercerita kepada papahnya dan segera menceraikan Maria.

__ADS_1


"Iya, Pah, Mas Bimo benar."


"Suruh masuk jika bundamu datang," ucap Hendra dengan suara yang masih gemetar.


Mutia tampak murung, ternyata papahnya teramat mencintai Maria, mungkin saja perkataan Maria ada benarnya kalau papahnya dan Maria tidak akan bercerai.


"Baik, Pah. Bimo akan segera menyuruh bunda masuk jika bunda datang," ucap Bimo.


"Pah, Bimo dan Mutia akan ke kantin dahulu, kami belum makan. Di luar ada Lia dan Tio yang akan menjaga papah."


Hendra hanya mengangguk merespon ucapan menantunya.


Bimo membawa Mutia keluar dari kamar Hendra, dan mulai bicara pelan kepada istrinya itu.


"Kita harus menjaga kondisi papah, sayang. Kamu ingat apa kata dokter? Papah dilarang untuk berpikir berat karena akan mempengaruhi kesehatannya."


"Aku tahu, Mas."


"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Kita utamakan kesehatan papah dahulu baru membahas yang lain setelahnya."


Mutia mengangguk mengiyakan. Apa yang dikatakan suaminya itu ada benarnya, untuk saat ini kesehatan Hendra adalah yang utama.


Di tempat lain, Maria yang sedang memasak mie instan seraya membuka ponselnya ketika suara ponselnya berbunyi.


Sebuah foto masuk ke sebuah chat WA, terpampang sebuah foto Hendra yang terbaring tanpa selang.


"Apa suamiku sudah sadar?"


"Anda benar, Nyonya. Suami anda sudah sadar beberapa jam yang lalu setelah anda di tarik paksa security rumah sakit."


"Baiklah, terima kasih informasinya."


Maria bergegas memakan mie instan yang sudah matang, karena ia butuh energi untuk menerobos pertahan Mutia dan Bimo.


Maria tidak kehabisan ide, dirinya sulit untuk mendapatkan informasi karena Mutia dan Bimo melarang pihak rumah sakit untuk memberikan informasi kepadanya, sehingga dirinya membayar seorang petugas kebersihan untuk menginformasikan kepada dirinya tentang apa yang terjadi pada suaminya.


Setelah semuanya siap, Maria segera berjalan keluar rumah setelah mobil taksi online yang di pesannya tiba di depan rumah.


Maria mulai merangkai banyak kata untuk menemui suaminya, ia harus segera meminta maaf kepada suaminya dan mulai merencanakan ide untuk memfitnah Mutia terkait surat rumah, karena ia tidak mau suaminya lebih dulu tahu kalau dirinya berniat akan menjual rumah dari mulut Mutia. Jika itu sudah terjadi Maria sudah merencanakan ide lain untuk membantahnya.

__ADS_1


__ADS_2