Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Maafkan aku


__ADS_3

Air mata Mutia sudah mengalir ke pipinya, Mutia juga mendorong paksa tubuh Bimo keluar dari kamarnya.


"Aku mohon, Mutia. Dengarkan dulu penjelasanku."


Mutia tidak mendengar alasan apapun dari Bimo, ia justru menangis tergugu sehingga Bimo tidak tega melihatnya, hatinya mendadak sakit melihat istrinya menangis seperti itu. Dengan terpaksa Bimo keluar dari kamar Mutia.


"Sayang, maafkan aku," ucap Bimo bersandar pada pintu kamar Mutia.


Bimo mengingat kejadian beberapa bulan lalu, di mana dirinya baru kembali dari luar negeri demi mencari Hendra yang ada di dalam wasiat terakhir papahnya, Bayu.


Malam itu Bimo baru saja kembali dari solo di mana Bayu tinggal dan mendapatkan kota jakarta sebagai petunjuk dimana Hendra tinggal sekarang.


"Terima kasih Tio, sepertinya besok aku akan kembali ke rumah," ucap Bimo.


Rumah yang di maksud adalah rumah peninggalan ibunya, Bimo sudah sejak lahir tinggal di Australia. Hanya saat liburan saja ia datang ke Indonesia itupun di paksa oleh orang tuanya untuk mengenal lingkungan di Indonesia. Ibunya meninggal saat Bimo duduk di tingkat sekolah karena sakit, bayu kembali ke Indonesia menjalani bisnisnya di Indonesia sedangkan Bimo tetap berada di Australia, sejak itu Bimo menjadi pribadi yang tertutup dan menerima segala sesuatunya atas keinginan Bayu selama permintaannya masuk akal.


Bimo terpaksa tinggal di hotel untuk sementara karena ia belum banyak hapal jalan, sedangkan Tio sedang mengurus surat pemindahan jabatan bersama pengacara, karena perusahaan Bayu sedang di ributkan oleh keluarga Bayu yang merasa mereka adalah keluarganya dan berhak mendapatkan warisan atas meninggalnya Bayu. Bimo tidak tinggal diam membiarkan keluarga Bayu seenaknya mengganggu harta peninggalan Bayu yang jatuh bangun dalam mengurus perusahaannya.


Bimo membuka kamar ketika dirinya hendak keluar namun seorang wanita menerobos masuk.


"Hei!"


"Tuan, aku mohon tutup pintunya." Pinta wanita bertumbuh gempal dengan pipi chubby namun terlihat cantik.


Wanita itu menutup mulutnya, suara orang berlarian terdengar dari luar kamar membuat Bimo melirik, merasa wanita di hadapannya sedang dalam masalah Bimo menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan." Wanita itu merosot ke lantai dan Bimo berjongkok di hadapannya.


"Siapa dia?" tanyanya Bimo.


"Om Irwan," ucapnya seraya mengusap air matanya. "Bunda dan ka Devi menjual aku padanya."


Bimo heran, bagaimana bisa seorang ibu menjual putrinya, sepertinya wanita ini sedang berbohong, mungkin ia wanita panggilan.


"Tuan, bisakah aku meminta minum?"


Bimo menaruh curiga sepertinya wanita ini sedang dalam pengaruh obat, dari penuturannya wanita ini sepertinya meminum obat perangsang yang di campur dengan minuman beralkohol.


Kamar Bimo sempat di ketuk dari luar, tamunya adalah orang yang sedang mengejar wanita yang bersembunyi di ranjangnya. Setelah berhasil mengusir tamunya Bimo mendekati ranjangnya, wanita yang sedang sembunyi mengeluarkan napas berat saat Bimo membuka selimutnya wanita itu sudah bercucuran keringat.


"Tuan, tolong aku. Aku gemetar, argh sial." Wanita itu meracau tidak jelas, sepertinya obat perangsang sudah bekerja sejak tadi.


Tak ada penolakan dari wanita, membuat Bimo semakin terpancing tatapan sendu wanita dihadapannya membuat jantung Bimo berdebar, dan Bimo mulai melepaskan semua pakaian milik wanita dan mulai menyentuh bagian sensitif yang membuatnya mendesah.


"Argh, sakit."


Bimo terkejut karena wanita itu masih perawan, Bimo menyesal telah berpikir salah pada wanita itu, hingga Bimo hendak menyudahinya saja, tetapi sepertinya wanita di hadapannya ini tidak ingin menyudahi membuat Bimo meneruskan percintaannya dan akan menerima keputusannya besok dari si wanita.


Sayangnya ketika Bimo bangun, wanita itu sudah menghilang, Bimo meminta Tio untuk mencari siapa wanita yang sudah tidur dengannya tapi nihil sampai Bimo menemukan wanita itu dengan nama Mutia. Anak dari sahabat papahnya yang ia cari, Bimo menatapnya intens kenapa Mutia tidak mengenalnya atau sedang berpura-pura.


Bimo meminta Tio untuk memastikan apa wanita yang bernama Mutia adalah wanita yang sama yang bercinta dengannya, Bimo menuruti wasiat Bayu untuk menikahi anak perempuannya Hendra yang kebetulan wanita yang sudah ia renggut kegadisannya.

__ADS_1


Bimo ingin berkata bahwa akulah orangnya ketika Mutia jujur sudah tidak perawan lagi. Tapi waktunya yang tidak memungkinkan, juga tidak punya keberanian membuat Bimo belum mengatakan apa-apa.


Bimo pernah sampai merasakan sakit di kepalanya karena tidak bisa tidur semalaman, memikirkan bagaimana cara mengatakannya kepada Mutia, apa lagi Bimo mulai jatuh cinta dengan Mutia. Tidak di pungkiri oleh Bimo karena Mutia semakin cantik ketika berat tubuhnya mulai ideal.


Bimo menarik napas kasar, hari sudah menjelang pagi, suara ayam sudah berkokok membangunkan orang-orang untuk mulai beraktivitas. Ayam pelung milik tetangganya sungguh nyaring jika sudah bersuara. Suara tangisan Mutia juga sudah tidak terdengar.


Bimo harus segera tidur walaupun hanya satu jam, karena ia harus terbang ke Surabaya melihat hasil kerjanya yang hampir selesai. Dengan berat Bimo mulai masuk ke dalam kamarnya.


"Tuan, satu jam lagi kita harus berangkat." Tio membangunkan Bimo.


"Mutia di mana?"


"Sudah berangkat." Bimo terlihat kecewa. "Apa kalian habis bertengkar?" tanya Tio.


"Mutia akhirnya tahu, sebelum aku mengatakannya." Bimo bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.


"Nona Mutia sudah merapikan pakaian anda, dan saya sudah mengecek ulang."


"Benarkah?" Bimo membuka kamar mandi dan hanya bagian kepalanya saja yang keluar. Tio mengangguk. Bimo kembali masuk dan segera mandi.


Di perjalanan menuju bandara Bimo sempatkan menelpon Mutia tapi istrinya tidak mengangkat panggilannya, Bimo memilih untuk meninggalkan pesan lewat chat.


"Sayang, aku sudah di perjalanan menuju bandara, terima kasih sudah menyiapkan keperluanku. Maafkan aku yang pengecut ini, aku akan tepati janjiku setelah kembali. Tentukan olehmu kemana kita akan berkencan, oke!"


Bimo tersenyum saat pesan itu sudah bercentang biru, tanda Mutia sudah membacanya. Bimo cukup lama menunggu balasan dari Mutia sepertinya tidak ada tanda kalau Mutia akan membalasnya.

__ADS_1


"Haaaah." Bimo membuang napasnya kemudian bersandar, memejamkan mata sebentar memikirkan bagaimana caranya berdamai dengan Mutia.


Sementara di waktu yang sama, Mutia sedang membasuh air matanya. Ia gengsi untuk membalas pesan dari suaminya, Ia masih kesal dengan Bimo kenapa sampai akhir suaminya itu tidak mengatakan apa-apa. Mutia saja menurunkan egonya membuang rasa malunya dan menyampaikan bahwa dirinya sudah tidak gadis lagi, bahkan Mutia pernah berpikir kalau Bimo tidak pernah menghubunginya karena tidak menerimanya sebagai seorang istri, suaminya itu memilih menghilang ditelan bumi tanpa kata. Menyebalkan.


__ADS_2