
Mutia menggeliat di pagi harinya dan ada rasa nyeri di bagian vitalnya ia meringis karena perih. "Bodoh, kenapa harus terulang lagi."
Mutia mengutuk dirinya, menghindari pemerkosaan malah tidur dengan pria yang tidak dikenalnya, ia mencoba mengingat hari kemarin dan teringat dengan papahnya.
Apakah papahnya akan memergoki dirinya? Pertanyaan itu membuat Mutia segera bangkit dan harus segera melarikan diri. kemarin ada pria yang tidur dengannya tetapi bukan irwan, apakah pria di sampingnya adalah pria yang sama yang pergi begitu saja kemarin. Tetapi, seingat Mutia pria kemarin tidak bertato seperti pria yang sedang memunggunginya saat ini. Tato sayap di lengan, siapa dia?
Perlahan Mutia turun dari ranjang meski masih terasa pusing akibat alkohol, memakai pakaiannya tanpa menimbulkan bunyi dan dengan cepat Mutia meninggalkan kamar tanpa tahu siapa pria yang sudah tidur dengannya. Mutia berjalan dengan langkah lebar meninggalkan hotel, ia melihat jam yang ada pada dinding hotel.
"Kemarin, di jam yang sama. Papah sedang memergoki aku dengan pria lain. Sekarang aku berada di sini, lalu di mana papah sekarang? Apa papah ada di hotel ini juga? Jangan bilang kalau papah ada di kamar om Irwan."
Mutia masuk ke dalam mobil taksi dan bergegas pulang ke rumahnya, ponselnya mendadak berbunyi membuat jantungnya hampir putus ketika melihat papahnya yang memanggil.
"Iya, Pah?"
"Kamu di mana, sayang?"
Mutia tidak boleh salah bicara atau papah akan tahu Mutia baru saja kembali dari hotel.
"Mutia mau ke rumah papah mau ambil barang yang tertinggal, semalam Muti pulang ke kosan."
"Oh, baiklah. Papah tunggu di rumah."
Ais, Mutia salah menduga ternyata Hendra ada di rumah, sedangkan pakaian yang dikenakannya adalah pakaian semalam. Bisa-bisa Mutia ketahuan berbohong.
"Pak, nanti turunkan saya di depan, ya."
Mutia akan ke gedung berlogo R untuk membeli satu stel pakaian dan memakainya, agar Hendra tidak mencurigainya jika semalam Mutia tidak pulang.
Setelah hampir satu jam mencari pakaian di pusat perbelanjaan, Mutia kembali menggunakan taksi lain dan segera pulang ke rumah. Jantungnya berdebar khawatir kejadian kemarin terulang, Mutia harus melihat papahnya masuk ke rumah sakit karenanya.
Sepertinya kedua orang tuanya baru saja kembali, entah dari mana. Mutia memberi upah pada taksi ketika sudah berhenti di depan rumah kemudian bergegas menghampiri.
__ADS_1
"Papah." Mutia memeluk erat Hendra. Ia bahagia papahnya dalam keadaan baik-baik saja. "Papah dari mana?"
Hendra melirik kesal ke arah Devi. "Tidak, tadi ada keperluan mendesak. Semalam kamu benar-benar pulang ke kosan, kan?"
"Iya, kalau papah tidak percaya tanyakan saja pada temanku." Mutia meyakinkan papahnya.
Hendra mencium bau alkohol dari mulut putrinya. "Semalam kamu minum?"
"Iya, Pah. Maaf ya, Pah, Mutia salah mengenali minuman di pesta semalam. Maka dari itu Mutia segera pulang karena Mutia sudah mabuk."
"Lain kali kamu tidak boleh minum, tidak baik. Apa lagi kamu perempuan."
"Siap, Pah." Mutia menaruh tangannya di ujung kepala selayaknya memberi penghormatan kepada komandan.
Hendra tersenyum dan masuk ke dalam rumah dengan masih menampakkan wajah gusar, Mutia menduga kalau papahnya itu habis mencarinya ke hotel.
"Kamu dari mana?" Devi menarik kuat lengan Mutia.
"Brengsek kau." Devi teramat kesal.
Mutia terkekeh kecil. "Kalian gagal dapat uang, ya? Kasian." Mutia bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Mutia mengingat kembali kejadian kemarin, seharusnya ia bolos bekerja hari ini karena papahnya masuk rumah sakit, Mutia bersyukur kalau sekarang papahnya dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah sedikit meyakini Hendra, Mutia segera pamit untuk bekerja, Hendra pun sudah terlihat baik-baik saja.
Ini semua ulah Maria dan Devi, mereka berdua benar-benar the real ibu tiri dan saudari tiri. Mutia merasa hidupnya mirip dengan gadis upik abu yang memiliki ibu tiri dan saudari tiri yang kejam. tetapi ia tidak memiliki ibu peri yang akan membawanya ke pesta untuk bertemu pangeran.
Seorang wanita kepala bagian dari tim Mutia menghampirinya dengan wajah masam, ia kesal kemarin Mutia, Lala dan Dirga membuat keributan di kantor setelah adegan tarik menarik rambut, bahkan Mutia harus meninggalkan perusahaan tanpa pamit.
"Masuk!" Perintahnya ketika melihat Mutia baru saja masuk ke dalam ruangan, di belakangnya sudah berjalan Lala dan Dirga. Semua memandang kearahnya.
__ADS_1
"Kalian tahu kan peraturan di perusahaan ini?"
Mereka hanya diam, di marahi seperti ini membuat Mutia malu seperti anak sekolah sedang dihukum guru.
"Jawab!" Wanita bernama Rosa sudah meradang karena kesal.
"Saya tahu, Bu." Mutia membuka suara lebih dahulu.
"Lalu? Apa yang kalian ributkan kemarin?"
"Maaf, Bu. Tapi, mereka berdua yang memiliki hubungan, Lala hanya salah paham sehingga ia cemburu, makanya ia melampiaskan amarahnya kemarin."
Mutia yang selama ini diam tiba-tiba saja berani bicara, sesungguhnya jantungnya berdegup kencang karena rasa takut, ia bertekad tidak akan diam saja atau hidupnya akan seperti kemarin selalu ditindas.
Lala dan Dirga saling pandang, mereka tidak percaya dengan perubahan cepat Mutia. Bahkan Lala berpikir apa ia menarik rambut Mutia dengan sangat kuat hingga otaknya bergeser sehingga saraf keberaniannya ikut keluar.
"Apa benar?" Kini Rosa memandang kearah Dirga dan Lala.
"Tidak, Bu. Kami hanya teman dekat saja." Lala terpaksa berbohong demi melindungi pekerjaannya. Membuat Dirga membuka lebar matanya.
Rosa memberikan surat peringatan kepada ketiga karyawannya itu, jika terbukti ada yang memiliki hubungan terpaksa mereka mengambil keputusan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, di pecat atau pindah ke cabang lain.
"Kamu keterlaluan, Lala." Kesal Dirga.
"Maaf, sayang. Kamu masih butuh pekerjaan, kan? Kalau aku mungkin hanya di pindahkan ke bagian lain, tapi kalau kamu bagaimana," ucap Lala sambil merangkul tubuh Dirga. Lala memiliki koneksi di perusahaan tersebut karena pamannya bekerja dibagian pemasaran.
***
Mutia kembali ke kosannya, ia menatap cermin yang seharusnya pecah akibat ia tinju dengan kuat, Mutia mengangkat tangannya dan mengusap pergelangan tangan di mana seharusnya ada sayatan di sana. Seharusnya Mutia sudah mengakhiri hidupnya malam ini setelah mengetahui papahnya tidak menerimanya, Mutia tidak ingin melakukan hal itu lagi sangat menyakitkan, dimana sedikit demi sedikit tubuh tidak dapat lagi digerakkan, seperti mati rasa dan napas seakan naik dari bawah hingga habis di bagian kerongkongan.
"Kenapa aku sangat bodoh," ucap Mutia seraya memandang wajahnya di cermin.
__ADS_1
Mutia tidak ingin berlama-lama di kosannya karena selalu saja melihat kematiannya, sebaiknya ia segera pulang karena sudah waktunya makan malam.