Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Pernikahan


__ADS_3

Mutia menekuk jari jemarinya hingga menimbulkan bunyi untuk mengurangi kegugupannya, ia duduk di kamar pengantinnya seorang diri, Mutia sudah di sana sejak semalam, gelisah hingga tidak bisa tidur. Di luar sana Bimo Dewanto sedang mengucapkan ijab kabul dengan menyalami tangan Hendra.


Sudah hampir satu jam Mutia duduk dalam kegugupan, akhirnya pintu kamarnya dibuka, seorang pria dengan memakai jas silver berkemeja putih senada dengan ballgown yang dikenakannya, pria yang hampir dua Minggu menghilang, pria yang hanya tiga kali bertatap muka dengannya kini ada di hadapannya. Bimo mengulurkan tangannya, meski ragu Mutia meraih tangan Bimo, mereka berdua berjalan beriringan menuju pelaminan.


Konsep pernikahan mewah yang tidak pernah Mutia bayangkan, keloter pertama khusus tamu dan keluarga dari pihak Bimo serta keluarga inti dari keluarga Mutia yang datang saat ijab kabul, kemudian keloter berikutnya di buka untuk umum. Semua tamu undangan hadir begitu juga Lala dan Dirga.


"Wah, beruntung sekali mba Mutia, ya?" Celoteh dari karyawan yang saling berbisik membicarakan Mutia.


Sedangkan di atas pelaminan ratu dan raja seharinya itu hanya diam tak saling bicara hanya senyum singkat saat menyambut tamu, Satu persatu tamu memberi selamat pada Mutia dan Bimo. Dirga tak melepaskan kesempatan itu untuk mendekati Mutia yang terlihat sangat cantik meski berpipi chubby. Jari-jari Dirga nakal bergerak di telapak tangan Mutia ketika mereka bersalaman, dengan cepat Mutia melepaskan tangannya dan dengan reflek bergeser mendekatkan tubuhnya kearah Bimo. Bimo yang sadar istrinya terancam segera memperlihatkan mata tajamnya ke arah Dirga. Tatapan Bimo dapat memberi sinyal pada Tio yang kini berdiri mendekat sehingga Dirga menyunggingkan senyum dan turun dari panggung.


Hanya berselang lima jam kemudian Bimo harus kembali terbang untuk melakukan pekerjaannya, kini keberangkatannya tidak seorang diri ia pergi membawa Tio bersamanya. Mutia menyelesaikan pernikahannya seorang diri sampai acara selesai, ia menghabisi malam pertamanya pun seorang diri di kamar pengantinnya yang indah.


Devi dan Maria merasa senang melihat pernikahan Mutia, mereka menganggap Mutia hanya sebagai istri pajangan saja untuk melaksanakan wasiat ayahnya Bimo.


Keesokannya harinya Mutia di jemput dengan mobil yang berbeda dari sebelumnya, mobil sedan putih dengan supir serta Lia. Mutia di bawa kekediaman Bimo, rumah besar bercat putih dengan pilar besar bergaya eropa klasik modern dengan ukirannya yang berwarna keemasan menonjolkan kemewahan. Mutia tidak pernah menyangka rumah Bimo sebesar ini.


Lia memerintahkan beberapa orang untuk membawa barang penting milik Mutia ke kamar yang sudah disediakan oleh Lia untuknya. Mutia tampak bingung karena di kamar itu tidak ada satupun barang laki-laki, hanya kamar kosong yang mendadak di isi dengan barang miliknya.


"Ini bukan kamar Bimo, kan?"


"Bukan, Nona. Ini hanya kamar anda, kamar tuan Bimo ada di sebelah."

__ADS_1


Akhirnya misteri terpecahkan, dirinya lagi-lagi seorang diri. Mungkin seperti inilah menikah tanpa cinta. Baiklah, Mutia masih menerima keinginan Bimo.


Mutia turun ke bawah setelah melihat kamarnya yang sudah tersusun rapi, ia sempat kebingungan mencari tujuannya yaitu dapur. Jika saja Lia tidak muncul mungkin Mutia akan meninggikan suaranya untuk memanggil Lia.


ATM black card dan memo kecil sudah berada di atas meja ketika Mutia hendak makan siang, Mutia hanya melirik kemudian menyuap makanannya yang sudah tertata di atas meja seraya  memandang keluar jendela.


Entah ada berapa kamar di rumah ini, dan entah ada berapa penghuni di rumah ini, Mutia melirik ke segala penjuru rumah sembari menghapal wajah-wajah yang ditemuinya.


"Nona saya akan memperkenalkan para pegawai di rumah ini."


Mutia yang sedang mengunyah gelagapan dibuatnya, Lia ini seperti dapat membaca pikirannya, Lia mulai memperkenalkan mbok Nirah yang lebih tua dari Lia berprofesi sebagai juru masak di rumah ini. Dua orang pelayan Siti dan Nia, mungkin usianya seumuran dengannya, Sapri seorang supir yang mengantar Mutia, serta enam orang satpam yang berjaga bergantian.


"Ini ATM yang akan Nona gunakan," ucap Lia seraya menyodorkannya ke arah Mutia.


"Hm, umph!" Mutia hingga tersedak ternyata Visa black card itu diserahkan kepadanya, kartu yang pemiliknya harus memiliki penghasilan minimal Rp 10 juta per bulan. Sementara untuk limitnya Rp 3 juta sampai Rp 24 juta, dengan limit tarik tunai maksimal 4 juta perhari. Membuat Mutia bingung apa pekerjaan Bimo sebenarnya, tidak mungkin jika ia hanya pegawai biasa.


"Anda baik-baik saja, Nona?"


"Untuk apa?" Mutia menunjuk dengan jarinya kearah kartu visa tersebut.


"Untuk kebutuhan sehari-hari di rumah ini, sebelumnya saya yang memegangnya."

__ADS_1


"Kenapa diserahkan kepada saya, bu Lia saja yang pegang."


"Karena sekarang anda adalah nyonya di rumah ini."


Kalimat Lia tidak bisa di bantah lagi, Mutia hanya menatap kosong karena kebingungan yang ada dibenaknya. Mungkin ini bentuk tanggung jawab Mutia sebagai seorang istri, mengatur semua pengeluaran rumah tangganya mulai hari ini hingga kedepannya dan entah berakhir kapan.


"Baiklah Bu Lia, saya mohon bantuan anda untuk mengelola keperluan di rumah ini."


"Baik, Non."


"Dan ini pesan yang tuan Bimo tinggalkan untuk anda."


Mutia menerimanya dan membaca kalimat yang ada di dalam memo berwarna kuning. Bimo meminta Mutia memakainya secara bijak, selain kebutuhan rumah Mutia juga berhak atas kartu kredit tersebut untuk kebutuhan pribadinya.


"Apa aku bisa mengunakannya untuk sedot lemak?" Mutia bicara sendiri tetapi dapat didengar oleh Lia. "Kapan Bimo akan kembali, Bu?"


"Pak Tio bilang tuan Bimo akan berada di sana kurang lebih tiga bulan."


Mutia menghembuskan napas kasar, apa Bimo membenci dirinya sehingga harus berlama-lama di sana. Bahkan ia lebih memilih meninggalkan pesan dari pada bicara langsung dengannya.


Setelah makan Mutia berjalan-jalan di rumah besar milik Bimo, rumah utama yang ditinggali oleh Bu Lia, Bimo dan kini ditambah Mutia, sedangkan di bagian kanan ada petak-petak kamar yang tertutup tembok tinggi namun ada akses pintu keluar masuk yang di huni para pelayan di rumah ini. Bagian belakang ada kolam renang dan gajebo besar dengan bantal beraneka warna serta bunga tumbuh di sampingnya, dibagian kiri ruangan luas tanpa dinding sebagai garasi besar dan memanjang hingga ke dinding pagar, mungkin akan muat delapan mobil terparkir secara berjajar, ada fasilitas gym, perpustakaan, home teather, ruang kerja, dan delapan kamar tidur berukuran besar.

__ADS_1


__ADS_2