Drama hidup Mutiara

Drama hidup Mutiara
Bimo kembali ke rumah


__ADS_3

"Sekarang apa kamu sudah percaya diri untuk bertemu anggota BTS?" Sesil dan Mutia sedang makan siang di kafe milik salah satu anggota BTS.


"Entahlah, Mbak. Aku tidak pernah ikut grup seperti ini."


"Tenang saja, anggota BTS sangat ramah, mereka juga orang-orang baik, kegiatan kita juga sangat positif kamu harus mulai bersosialisasi dengan banyak orang."


Tak butuh waktu lama, satu persatu para wanita tajir itu datang. Gimana tidak tajir, suami mereka itu para pengusaha, pakaian mereka dari atas sampai bawah bisa mengeluarkan uang kurang lebih di atas puluhan juta. Sesil memperkenalkan Mutia pada teman-temannya. Benar kata Sesil mereka wanita yang baik dan ramah.


Mereka saling berfoto dan menguploadnya di media sosial, meski BTS tidak terkenal seperti grup K-Pop aslinya tetapi cukup terkenal dikalangan para istri pengusaha.


Mutia kembali ke rumah, saat mutia turun dari mobil, mobil papahnya berhenti di depan pagar rumahnya, kontan saja ia kegirangan dan memanggilnya.


"Papah!"


Hendra memandang lekat Mutia yang datang mendekat, putrinya itu semakin mirip ibunya, terakhir kali bertemu berat badan Mutia sudah turun tetapi hari ini Mutia benar-benar banyak berubah.


"Sayang." Hendra memeluk putrinya. Mereka saling meluapkan rasa rindu.


"Apa kabar, Pah?"


"Papah baik, sayang. Kamu banyak berubah." Mutia hanya tersenyum.


Mereka banyak mengobrol saling bertukar cerita. Hanya satu jam Hendra berkunjung karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Padahal Mutia masih merindukan papahnya.


"Hati-hati, Pah." Hendra mengangguk.


Mutia melakukan olahraga setelah Hendra meninggalkan kediamannya, telinganya ia pasang earphone seraya mendengarkan musik, Mutia melakukan pemanasan selama beberapa menit kemudian menekan tombol treadmill dan mulai berjalan di atasnya.


Bra sportnya sudah basah oleh keringat yang bercucuran, Mutia mematikan treadmill dan menyudahi kegiatannya, merapikan rambutnya dengan asal. Mutia turun ke lantai bawah menuju dapur hendak membuat minuman jus dingin.


Mutia menghampiri para pelayannya yang sedang memasak. Mutia heran karena selama ia memakan oatmeal, Nirah tidak pernah memasak di dapur utama.


"Mau ada acara, ya?"


"Tidak, Non. Apa Bu Lia belum cerita kalau tuan Bimo akan makan malam di rumah?"


Lia datang menghampiri dengan wajah robotnya tidak ada rasa menyesal karena tidak memberitahukan Mutia bahwa Bimo akan pulang hari ini.

__ADS_1


Siti yang sedang menyapu halaman memandang ke arah pagar yang terbuka, mobil sedan hitam baru saja masuk dan itu adalah Bimo, Siti mendekat dan membantu Tio membawakan barang dari mobil.


"Selamat datang, Tuan," sapa Siti.


"Dimana Mutia?"


"Terakhir saya lihat, Nona sedang di ruang gym, Tuan."


"Terima kasih."


Bimo berjalan masuk dan menaiki tangga, tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita berdiri di dapur membelakanginya, ia memakai pakaian bra sport dengan celana legging hitam hingga menonjolkan bagian belakang tubuhnya. Bimo menuruni tangga karena penasaran siapa wanita asing itu.


Mutia yang masih protes kepada Lia karena tidak mengabarinya tidak sadar jika Bimo sedang berdiri tidak jauh dibelakangnya. Mutia meneguk jus jeruk sambil memutar tubuhnya.


"Astaghfirullah, maaf!"


Mutia terkejut tidak sengaja menyembur jus ke pakaian Bimo, dengan cepat Mutia menaruh gelasnya dan menarik beberapa tisu kemudian membersihkan noda jus jeruk pada kemeja Bimo.


"Maaf, Mas. Aku tidak tahu kalau ada kamu."


"Yah, nodanya susah hilang, Mas," ucap Mutia." Mutia menatap Bimo hingga mata mereka saling bertemu. Bimo masih terhanyut dalam pikirannya mengagumi kecantikan Mutia. "Mas, kamu baik-baik saja?"


Bimo menggeleng dan berdehem untuk mengalihkan rasa kecanggungan diantara mereka. "Aku baik-baik saja."


"Kenapa tidak mengabari aku jika hari ini pulang?"


"Tio sudah memberi kabar kepada Lia."


Tio yang diajak bicara hanya diam ikut mengagumi kecantikan Mutia, wanita itu sangat banyak berubah dari terakhir mereka bertemu di hari pernikahan. Bimo yang sadar Tio sedang menatap istrinya menggeser tubuhnya menutupi tubuh Mutia hingga menghalangi pandangan Tio. Tio segera mengalihkan pandanganya dari Mutia. Bimo berdehem sehingga Tio memutar tubuhnya.


"Mutia, bersihkan dirimu." Bimo memberi isyarat dengan kepalanya agar Mutia masuk ke dalam kamar. Mutia baru sadar jika ia masih memakai pakaian sport yang terlihat sangat seksi. Dengan cepat Mutia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Hati-hati Mutia!" Teriak Bimo yang khawatir kepada Mutia. "Kau harus menutup matamu Tio." Perintah Bimo.


"Baik, Tuan." Ternyata Bimo tidak rela jika tubuh mutia dilihat pria lain. Tio meninggalkan kediamannya kembali ke apartemen miliknya sendiri karena tugasnya hari ini telah selesai.


Bimo juga menaiki tangga menuju kamarnya, membuka kemejanya yang tersiram jus jeruk, sambil menatap dirinya sendiri Bimo tersenyum.

__ADS_1


"Aku melewatkan banyak hal tentangnya, dan mengapa jantungku berdebar. Pantas saja aku merindukan rumah."


Bimo lebih dulu turun setelah membersihkan tubuhnya dan sudah berganti dengan kaos putih dan celana pendek. Makanan di hadapannya berbeda dengan makanan untuk Mutia.


"Apa makanan itu mengenyangkannya?" ucap Bimo pelan.


Mata Bimo mengunci sosok seorang wanita yang menuruni tangga, tadi saja ia sudah terpesona kini Bimo lebih terpesona lagi karena rambutnya sudah terurai rapi dan memakai riasan tipis, Mutia terlihat sangat cantik.


Mutia segera duduk dihadapan Bimo, Mutia mengambil piring Bimo dan menaruh nasi beserta lauk ke atas piring milik Bimo, hari ini merupakan hari pertama Mutia melayani suaminya makan.


"Bagaimana harimu?"


"Tidak ada yang aneh, semuanya berjalan dengan lancar."


"Bagaimana dengan mantanmu, apa dia masih mengganggumu?" Mutia hampir saja tersedak mendengar penuturan Bimo.


"Sebelum menikah dengan mas Bimo, aku meminta dipindahkan ke bagian lain dan Bu Rosa mengabulkannya sehingga kami jarang bertemu, apa lagi sekarang aku lebih banyak keluar kantor bersama atasanku."


"Apa dia laki-laki?"


"Tidak, dia perempuan." Bimo mengangguk.


"Aku dengar kamu banyak melakukan aktivitas bersama Sesil."


"Iya, Mas. Mbak Sesil sangat baik. Ia juga memperkenalkan banyak teman padaku."


"Apa kau juga masuk ke dalam klub aneh bersama Sesil?"


Mutia terkekeh dan mengangguk. "BTS," ucapnya.


"Kenapa tidak bertanya padaku terlebih dahulu?"


Mutia lupa satu hal jika dirinya sudah menikah, segala sesuatunya harus minta izin terlebih dahulu kepada suaminya. Senyumnya menghilang. "Maaf, Mas. Apa aku tidak boleh bergabung?"


"Aku suka kamu bersosialisasi dengan orang lain, selama itu positif aku akan mengizinkan, tapi kalau bisa beritahukanlah aku terlebih dahulu."


"Baik, Mas. Maaf?"

__ADS_1


__ADS_2