
Maria bergegas masuk ke dalam gedung rumah sakit, Tio yang tidak sengaja bertemu tidak mencegah Maria. Karena Bimo sudah memerintahkan untuk membiarkan Maria masuk dengan tetap diawasi.
Mutia juga membiarkan Maria untuk masuk, Mutia hanya berpesan agar Maria menjaga sikapnya.
"Jangan buat papah berpikir keras, apa lagi membicarakan hal yang tidak masuk akal, Bun."
Maria tidak membalas apapun ucapan Mutia, ia segera masuk ke dalam ruangan Hendra.
"Pah," panggil Maria lembut ketika mendekati Hendra yang berbaring memejamkan mata.
Hendra yang mendengar suara istrinya membuka mata, ia tidak tersenyum atas kedatangan istrinya membuat Maria menduga jika suaminya tahu sesuatu mengenai dirinya.
"Kamu sudah datang?"
"iya, Pah. Sejak kemarin aku sulit menemui kamu. Mutia dan Bimo melarang aku masuk."
"Kamu masih saja menjelekan putriku, Maria."
"Aku tidak berbohong, Pah."
Hendra diam sebentar, matanya mencari-cari ke belakang tubuh Maria.
"Dimana Devi?"
wajah Maria terlihat tegang, apa tidak masalah jika suaminya tahu kabar anak tirinya. Tetapi bisa saja suaminya ini meminta Mutia untuk mencabut berkas ke polisi agar Devi bebas.
"Pah, karena kejadian kemarin. Devi di bawa ke kantor polisi dan anakku itu terjerat kasus lain. Aku mohon kepadamu, Pah. Tolong minta bantuan menantumu untuk menyewa pengacara supaya.."
Kalimat Maria terputus ketika Hendra mengangkat tangannya.
"Devi harus menerima hukuman yang setimpal."
"Pah!"
"Aku sudah banyak membela putrimu. Kali ini aku tidak bisa lagi mentolerir putri kesayangan kamu."
__ADS_1
"Itu semua salah putrimu, Pah!"
Mutia sudah tidak bisa lagi menahan diri, mendiamkan ibu tirinya terus merengek pada papahnya.
"Cukup bunda, papah baru saja sadar dari koma."
"Kamu kan yang menambahkan kasus kepada Devi?"
"Bimo yang membuat pengaduan, Bunda." Bimo pun ikut bicara, ia juga ingin segera menyelesaikan masalah pelik antara ibu mertua dan papah mertuanya.
"Apa yang kamu laporkan?"
"Bunda dan Devi pernah menjual Mutia."
Seketika Hendra terkejut, matanya melebar. "A-apa maksudnya."
"Papah jangan khawatir, Mutia baik-baik saja selama ini."
"Siapa yang kamu jual, Maria?" kalimat Hendra gemetar.
"Jangan dengarkan kata-kata anak dan menantu kamu yang ingin menghancurkan aku dan Devi, Pah."
Maria tidak banyak bicara, ia hanya terdiam memandang dinding putih rumah sakit sambil mendengarkan Mutia membicarakan kehidupannya ketika dirinya dan Devi masuk ke dalam keluarga Hendra.
Hendra menitikkan air mata, ia tidak pernah menyangka jika istrinya bersikap demikian terhadap putrinya.
"Kamu tega, Maria. Aku mencintai kamu dengan tulus ternyata seperti ini balasanmu."
Mutia menggenggam tangan Hendra, memberi isyarat untuk papahnya agar kuat.
Suara ketukan pintu membuyarkan pembicaraan mereka, Tio menunduk singkat, Bimo menghampiri Tio, pasti orang kepercayaannya itu hendak memberitahukan sesuatu.
Dua orang pria berbadan tegap sudah menunggu di luar kamar rawat Hendra. Mereka mengaku polisi yang hendak membawa Maria untuk dimintai keterangan terkait kasus Indra dan obat terlarang.
"Ibu Maria sedang berada di dalam. Apa bapak bisa menunggu sebentar."
__ADS_1
"Baiklah, kami akan menunggu."
"Terima kasih, Pak."
Bimo kembali ke dalam. setelah di dalam ia memberi isyarat kepada Mutia. Mutia hanya mengangguk.
Tentu saja Maria gelisah dengan gelagat sepasang suami istri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Maria.
"Maaf, Bunda. Di luar sudah ada polisi yang ingin meminta keterangan dari bunda terkait Devi."
"Mereka bisa mengirimkan surat panggilan, kenapa sampai menjemput aku ke sini!" kesal Maria.
"Saya kurang paham, Bunda."
"Pah, aku mohon. Tolong buat sesuatu padaku, apa kamu rela aku di penjara."
Hendra hanya diam membisu dengan terus merasa sedih karena tidak bisa mendidik istri dan anak tirinya dengan baik.
"Pah! Jangan diam saja, Pah. Tolong bunda."
Bimo memberi isyarat pada Tio untuk mempersilahkan kedua polisi itu untuk masuk.
Pak polisi membawa surat penangkapan atas nama Maria, Maria terus menolak. Akhirnya polisi membawa Maria secara paksa.
"Papah." bisik Mutia di dekat Hendra.
"Maafkan papah, tidak bisa memberikan ibu yang baik untuk kamu."
"Tidak apa, Pah. Memiliki papah sudah lah cukup untuk Mutia, apa lagi sekarang ada mas Bimo, Mutia sudah bahagia."
Aduh, mohon maaf untuk pembaca juga NOVELTOON.
Saya sedang di serang rasa galau. Banyak kendala dari ponsel rusak, kesehatan anjlok dan kurangnya sarana dan dukungan.
__ADS_1
Insyaallah, besok akan coba melanjutkan meski ceritanya tidak seru.
Sampai jumpa lagi 🥰