Dua Pewaris Tunggal

Dua Pewaris Tunggal
Part 14


__ADS_3

Betapa kagetnya Fiona saat melihat unggahan dari sosial media milik Maya, dia melihat jika Maya mengucap kan sesuatu yang mampu membuat hati Fiona hancur sehancur, hancur nya.


Isi unggahan tersebut adalah, Maya mengatakan jika, satu Minggu lagi dia akan mengadakan pernikahan dengan seorang laki-laki yang di cintai nya.


"Jadi papa benar-benar melakukan nya? Papa meminta Alfa menikah dengan Maya? Ketidak Adilan macam apa ini? Aku dan Maya sama-sama melakukan kesalahan, tapi mengapa aku yang di buang? Sedangkan Maya, masalah nya di selesaikan dengan cara baik-baik, aku tidak menyangka papa akan sekejam ini kepada ku."Lirih Fiona dengan air mata penuh kebencian.


Semakin melihat ini, semakin benci pula Fiona kepada papa nya, begitu juga dengan kedua ular yang sudah mampu membuat hidup nya hancur.


Fiona pun mulai kembali menangis sambil mengigit tangan nya, ini lah Fiona dia akan menagis dan melukai diri sendiri untuk memuaskan hati nya yang sudah sakit dan hancur seperti ini.


Beberapa jam kemudian.


Haru sudah semakin sore, namun Fiona tak juga keluar dari kamar nya, hal ini membuat kepala pelayan khawatir, dia pun meminta Romi untuk pergi mengecek Fiona di kamar nya.


"Tuan Romi, maaf menganggu anda."Tutur kepala pelayan kepada Romi yang saat itu sedang duduk di ruang tengah mansion sambil memainkan laptop nya.


"Ada apa kepala pelayan?"Tanya Romi mengalihkan pandangannya dari laptop tersebut dan menatap kepala pelayan.


Terlihat wajah khawatir sang kepala pelayan.


"Begini tuan, nona Fiona sampai sekarang tidak keluar dari kamar nya, aku khawatir terjadi sesuatu, tadi aku datang meminta nya untuk makan siang, tapi dia menolak nya, dan meminta ku untuk meminjamkan ponsel nya kepada nya, aku memberikan nya dengan permintaan agar dia makan setelah selesai, tapi sampai sore seperti ini dia tidak kunjung keluar dan makan."Ucap kepala pelayan menjelaskan.


"Ayo ikut aku ke kamar nya."Ucap Romi yang kemudian melepas laptop nya dan berjalan pergi menuju kamar Fiona.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun akhirnya berdiri di depan kamar Fiona.


Tok ... Tok ... Tok.


Romi mencoba mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan, sesekali dia memagil Fiona.


"Nona, nona Fiona, ini aku Romi, apa kau ada di dalam?"Ucap Romi.


"Tuan, nona Fiona, aku khawatir."Ucap kepala pelayan yang memiliki firasat tidak baik.


"Jangan sembarangan, dia tidak akan kabur dari mansion, karena dia tidak memiliki tempat tinggal."Ucap Romi yang saat itu tau isi pikiran kepala pelayan.


"Jika dia ada di dalam kamar dia pasti akan menjawab kita."Ucap kepala pelayan lagi.


Tunggu sebentar."Ucap Romi yang saat ini juga di selimuti rasa khawatir.


"Tuan Romi mau ke mana?"Tanya kepala pelayan lagi.

__ADS_1


"Aku akan menelpon boss muda, kau coba ketuk pintu nya lagi."Ucap Romi.


"Baik lah tuan."Tutur kepala pelayan.


Romi pun berjalan beberapa langkah sedikit jauh dari kamar Fiona, untuk menelpon Zidan.


Call on


"Halo Romi, ada apa?"Tanya Zidan di sebrang telpon.


"Tuan muda, apa semua urusan telah selesai?"Tanya Romi.


"Ya, aku sedang dalam perjalanan pulang."Tutur Zidan lagi.


"Bisa kah lebih cepat sedikit?"Tutur Romi lagi.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi kepada Fiona?"Tanya Zidan yang saat itu mulai menambah kecepatan mobil nya.


"Ya, nona Fiona tidak mau keluar dari kamar, menurut kepala pelayan, tadi dia meminjam telpon milik kepala pelayan saat kepala pelayan meminta nya untuk makan siang, dan sampai sekarang dia tidak membuka pintu kamar, seperti nya di kunci dari dalam."Tutur Romi.


Tut ... Tut .. Tut.


Telpon tersebut tiba-tiba mati.


"Astaga boss muda, dia pasti langsung membanting ponsel nya ke sembarang tempat."Ucap Romi yang sudah sangat hafal akan sikap Zidan.


Zidan pun kembali melangkah mendekati kamar itu.


Terlihat kepala pelayan masih berusaha memagil dan mengetuk pintu kamar tersebut.


"Bagaimana bi?"Tanyakan Romi.


"Tidak ada jawaban tuan."Tutur kepala pelayan.


Kedua nya sudah benar-benar khawatir.


Lima belas menit pun berlalu, Romi dan kepala pelayan masih menunggu di depan pintu kamar Fiona, mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menunggu kedatangan Zidan.


Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan menuju lorong kamar tersebut.


"Boss muda."

__ADS_1


"Tuan muda".


Ucap Romi dan kepala pelayan.


"Di mana kunci cadangan kamar ku?"Tanya Zidan kepada Romi.


"Boss, kunci cadangan kamar ini sudah lama hilang."Tutur Romi.


Sementara kepala pelayan menuduk takut.


Seketika Zidan melepaskan jas yang dia gunakan dan melempar kan nya ke sembarang arah.


"Minggir, aku akan mendobrak pintu nya."Ucap Zidan yang kemudian mendobrak pintu kamar tersebut.


Brak ...


Hanya sekali dobrakan, pintu kamar itu pun akhirnya terbuka. Saat ini lah, Zidan melihat pemandangan yang sama sekali tidak pernah ingin di lihat olehnya, Fiona terbaring tak sadar kan diri, pergelangan tangan nya berdarah dan terlihat bekas gigitan, bibir nya juga berdarah.


"Astaga! Fio!" Jerit Zidan buru-buru menghampiri Fiona dan memangku nya.


"Ya Tuhan!"Ucap kepala pelayan kaget.


Sementara itu Romi seakan tak bisa berkata apa-apa melihat keadaan Fiona yang saat ini.


"Apa yang kalian lihat! Cepat pangil Artha ke sini!"Teriak Zidan dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Baik boss muda."Ucap Romi yang memiliki taruma dengan darah, Romi bergegas keluar lagi dari kamar tersebut untuk menelpon Artha.


Sementara kepala pelayan dan Zidan tetap di dalam kamar.


"Fio bangun lah, apa yang kau lakukan? Fio jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon bangun lah!"Ucap Zidan sambil menepuk pelan pipi Fiona.


"Tuan muda, itu ponsel saya."Tutur kepala pelayan yang curiga akan ponsel nya yang tergeletak di sebelah Fiona.


Dalam suasana hati yang campur aduk, Zidan pun meraih ponsel tersebut dan melihat halaman terakhir yang di lihat Fiona, karena dia tau Fiona tidak mungkin seperti ini jika tidak memiliki sebab.


Benar sja, halaman ponsel saat ini masih stay di halaman mediasi sosial milik Maya, dari sini lah Zidan tau penyebabnya.


Hal ini tentu membuat Zidan semakin emosi.


"Robert! Aku akan membalas mu!"Ucap Zidan yang kemudian melempar kan ponsel milik kepala pelayan dengan kuat sehingga ponsel itu hancur berantakan.

__ADS_1


Kepala pelayan yang melihat itu hanya bisa menatap dengan wajah pucat,dia tidak pernah melihat Zidan semarah ini sebelum nya, ini adalah kemarahan yang luar biasa dari seorang tuan muda Zidan dari keluarga Argos.


Bersambung ....


__ADS_2